"Kowe seko ngendi (Kamu dari mana)?" Kalimat bahasa Jawa itu terlontar dari penduduk lokal Thailand di tengah hiruk pikuk Kota Bangkok. Mengherankan? Jelas. Tapi itu benar-benar terjadi di Kampung Jawa yang ada tengah ibukota 'Negeri Gajah Putih' itu. Kalimat pertanyaan itu terlontar dari mulut Slamet Dariyat, salah satu penduduk Kampung Jawa. Dari namanya saja, sangat identik dengan Indonesia terutama suku Jawa. Slamet beserta belasan warga Kampung Dayat lainnya, menyambut kami. 

Sambutan mereka benar-benar membuat kami teringat akan tanah air. "Aku asli Thai. Bapakku Kendal. Jawa. Yo mangan " ujar Slamet yang berusia 75 tahun ini sembari terkekeh dalam perbincangan di serambi masjid Kampung Jawa yang ada di daerah Sathorn, Bangkok.

Masjid di Kampung Jawa | foto: detiktravel

Slamet adalah keturunan kedua yang tinggal di Kampung Jawa. Sampai saat ini umumnya yang tinggal di Kampung Jawa adalah keturunan ketiga dan keempat. Seluruh warga Kampung Jawa memeluk Islam. Keberadaan Kampung Jawa yang berpenduduk sekitar 3.000 orang di tengah kota Bangkok jelas mengundang banyak pertanyaan. Apalagi ternyata diketahui, lahan Kampung Jawa itu merupakan pemberian dari Kerajaan Thailand.

Semua ini bermula dari kunjungan raja Thailand, Chulalongkorn ke Jawa pada tahun 1896. Kala itu, sang Raja meminta bantuan kepada raja-raja di Jawa, untuk mengirimkan pemahat dan pekerja untuk membangun bangunan kerajaan baru. Raja Chulalongkorn menyatakan akan menyediakan tempat tinggal untuk para pekerja ini. Belum begitu jelas mengapa para pekerja tersebut tidak kembali ke Indonesia, setelah pekerjaan selesai.

( Masjid ini telah berumur lama | foto: adtyngrh.blogspot.com)

Ada informasi yang menyebutkan mereka memilih menetap daripada kembali ke Indonesia yang masih dalam cengkeraman Belanda. Namun ada juga fakta sejarah yang menyebutkan periode 1920-1945, kondisi perpolitikan Indonesia tengah carut marut. Hal itu membuat para WNI yang berada di luar negeri tidak bisa pulang. Seperti yang terjadi pada Irfan Dahlan, putra dari KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammdiyah. Irfan yang pada 1924 menyeberang ke Pakistan untuk belajar, tidak pernah bisa kembali lagi ke tanah air. Dia terpaksa menetap di Thailand bergabung dengan koloni asal Indonesia lainnya, di Kampung Jawa.

Setelah, Indonesia merdeka, Irfan Dahlan pernah berkesempatan untuk pulang ke Jawa, ketika Presiden Soekarno menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan.


"Tapi kami sekeluarga memiliki komunikasi dengan keluarga di Kauman Yogyakarta sampai sekarang, " ujar Marifah Dahlan, warga Kampung Jawa yang merupakan putri Irfan Dahlan ini. Namun Marifah dan Slamet hanyalah dari warga Kampung Jawa yang masih bisa berbahasa Jawa, atau Bahasa Indonesia. Kebanyakan warga lain yang kami temui, hanya bisa berbahasa Thai. "Sudah jarang yang memakai bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa. Kami sehari-hari menggunakan bahasa Thai " ujar Marifah yang bisa berbahasa Indonesia lancar karena bekerja di KBRI Bangkok ini.

Meski begitu sisa-sisa budaya Jawa tetap mengakar di kampung Jawa, tak sebatas pada nama kampung semata. Makanan khas Jawa seperti nagasari dan ambengan nasi kuning masih eksis. Begitu saya mencoba nagasari yang dihidangkan oleh warga, rasanya persis seperti nagasari di Yogyakarta atau Solo. Begitu juga dengan buah pisang yang menjadi 'inti' dari makanan tersebut. "Untuk acara orang menikah di sini kami menyebutnya wong mantu, orang meninggal wong mati, kami juga ada acara kenduri" kata Abu Samad seorang pemuda yang menjadi muadzin masjid Kampung Jawa, dalam bahasa Inggris.

Tak hanya itu saja, warga Kampung Jawa ini juga sangat-sangat ramah dan murah senyum. Begitu rombongan kami hendak pulang, kami semua diberi oleh-oleh nagasari dan ketan warna kuning. Orang Thailand memang juga dikenal ramah, tapi warga Kampung Jawa, membuat saya mendapatkan keramahan sama seperti di rumah. (fjr/ahy)

Sumber: Detik.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu