Lupa Sandi?
Java Jazz Single

"..Bisa Botak kalau Ganggu Lumba-Lumba di Alor"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
"..Bisa Botak kalau Ganggu Lumba-Lumba di Alor"

  Tak disangkal, pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur, seperti juga kebanyakan pulau-pulau di Indonesia, cukup panas di siang hari. Pulau Alor juga tak berbeda. Keluar dari airport, meskipun sedang hujan deras, namun 'dinginnya' hujan seolah tak terasa. "Matahari di sini ada dua, bang" kata Dicky, seorang kawan dari Alor yang mengantar saya dari airport ke tengah kota. 

Fast forward, saya memasuki hari kedua di Alor. Pagi itu akan mengunjungi salah satu tempat yang cukup terpencil di Pulau Alor, yang akan ditempuh dengan perjalanan laut selama 1 hingga 1.5 jam. Ada pemandangan istimewa di Dermaga Alor Kecil di Pulau Alor pagi itu. Di pelabuhan kecil yang melayani pelayaran ke pulau-pulau terdekat Alor itu saya melihat ada tiga anak kecil yang sedang mengambil ikan-ikan yang mengapung di permukaan laut. Ikan-ikan itu mereka ambil tanpa susah payah, karena sudah mati atau sedang sekarat. Ada banyak ikan yang mengapung. Dan kata seorang nelayan di sana, akan makin banyak ikan yang mengapung dan mudah ditangkap.

Seorang di pelabuhan tersebut mengatakan bahwa air laut sedang dingin. "Masih tetap ingin ke sana, kak?" 

Pertanyaan yang cukup 'aneh' menurut saya. Meski sedang musim hujan, namun seperti biasa, suhu tetap panas. Asumsinya, air laut tak mungkin dingin, setidaknya kalau pun tidak hangat, ya tidak dingin. 

Baca Juga

Kapal kecil itu berangkat, dan sesekali saya mencelupkan kaki ke permukaan air laut. Saya terkejut bukan kepalang. Air laut memang dingin! Sang pengemudi kapal tersenyum melihat saya. Pria paruh baya tersebut berteriak (karena deru suara kapal begitu keras) "Di bawah, air sedingin es" kira-kira begitu. Kalau (benar) sedingin es, akan banyak ikan mati, mungkin..pikir saya dalam hati. "Nanti akan banyak ikan yang pingsan dan mengapung di permukaan" tambahnya. 

Dan benar saja. Saya melihat puluhan orang, dari kakek-kakek sampai anak SD bersiap di pantai jaring, ember , dan alat-alat lain untuk mengambil ikan yang pingsan di permukaan laut, karena suhu air di bagian bawah menjadi sedingin es padahal masih tengah hari.

Hiu di perairan Alor?? Bukan | Foto Panoramio.com ) 
 

Tak lama kemudian, kami dikejutkan oleh sirip ikan besar yang nampak di permukaan laut, begitu dekat dengan kapal kami. "Hiu !" pikir saya. Gak jadi masuk ke air kalau gitu. Untunglah, ternyata, yang kami lihat adalah sirip lumba-lumba. Kami melihat begitu banyak kawanan lumba-lumba di berbagai titik di laut yang tak jauh dari pantai tersebut. Mereka berlompatan menunjukkan diri, dan rupanya tak tahan juga dengan dinginnya air laut. Kami juga melihat burung-burung laut terbang rendah di atas kapal kami. Penampakan rombongan lumba-lumba dan ratusan burung laut di perairan ini adalah tanda akan terjadinya arus dingin, fenomena yang menurut WWF hanya terjadi di perairan Alor Kecil saja. Air akan menjadi sedingin es selama beberapa jam, dan ikan-ikan akan pingsan di permukaan laut. 

( Lumba-lumba yang naik ke permukaan laut di sekitar Pulau Alor | foto thehoneycombers.com )

Perairan di sekitar Pulau Alor, khususnya di Pantar, Kangge, Rusa, dan Kambing, semuanya mempunyai 2 hal yang sama; Arus di permukaannya kencang dan suhu airnya sangat dingin! Bagaimana bisa hal itu terjadi, sementara hari masih siang, tidak ada awan di langit, dan matahari bersinar dengan terangnya? 

Menurut penjelasan WWF, Untuk menjawabnya, bayangkan permukaan air laut terdiri dari beberapa lapisan air; Air di permukaan terasa hangat (karena panas matahari) dan tidak padat (less dense), sedangkan air di kedalaman yang lebih tinggi terasa lebih dingin dan padat (more dense). Inilah yang menyebabkan lapisan-lapisan air di mana air yang lebih hangat ‘mengapung’ di atas air yang lebih dingin. Lapisan di mana pertemuan suhu drastis antara air hangat dan dingin ini disebut thermocline. Namun, di banyak tempat ada kejadian di mana air dengan suhu yang lebih rendah bisa mengalir sampai ke permukaan laut. Efek dari hembusan angin dan arus yang kuat bisa mendorong air hangat di permukaan menjauh, sehingga 'ruangan' diisi oleh air dingin dari kedalaman yang lebih tinggi. Fenomena ini disebut ‘upwelling', penyebab dinginnya perairan di sekitar pulau Alor.

Kawanan Lumba-lumba di Pulau Alor | foto Divealordive.com ) 

Fenomena alam yang luar biasa ini, membawa kebahagiaan bagi masyarakat Alor.  Setiap tahun, hanya terjadi 3-4 kali seperti ini. Dan setiap kalinya, ditandai dengan fenomena alam yang sama, kawanan lumba-lumba yang terlihat berenang di permukaan, burung-burung laut yang terbang rendah (mencari ikan yang di permukaan yang sudah pingsan), dan air laut menjadi dingin. 


Saya sempatkan untuk masuk ke dalam air sebentar. Dan benar saja, saya tak mampu menahan dinginnya air. Tak lama saya naik lagi, dan ...menggigil. Saya pernah baca, pernah ada diver senior dari Perancis yang menyelam di alor Kecil saat arus dingin, untuk penelitian. Dia pun tak tahan berlama-lama, bahkan ketika sudah mengganti wet suit-nya dengan perairan dingin. Tak terbayang dinginnya di bawah sana. 

Namun saya kemudian berpikir dan mulai khawatir akan nasib lumba-lumba yang berenang di permukaan. Mereka adalah tangkapan yang mudah, apalagi jumlahnya ratusan dan seringkali berenang mendekati kapal-kapal nelayan. Jangan-jangan, mereka ikut ditangkap juga?

Saya bertemu dengan seorang pegiat wisata, sekaligus pemancing profesional di Alor, namanya pak Christian Dami. Beliau mengatakan bahwa di Alor, tak ada yang berani menyakiti, apalagi menangkap Lumba-lumba untuk dimakan. Beliau bercerita bahwa pernah sekali seekor lumba-lumba ikut terjaring jala nelayan, dan langsung di bawa ke pasar. Warga berbondong-bondong mendatangi nelayan tersebut sambil marah, dan memintanya mengembalikan lumba-lumba tersebut ke laut. Benar saja, lumba-lumba itu segera dikembalikan, dan ...masih hidup. 

"Tradisi menghormati lumba-lumba sudah begitu mengakar di Alor. Lumba-lumba melindungi nelayan dari hiu-hiu jahat sepanjang pelayaran mencari ikan" katanya. Lalu apa hukuman bagi mereka yang 'melanggar' tradisi tersebut?

"Konon, keturunan nelayan tersebut akan botak semuanya" pungkasnya. 


Gambar utama : Factanddetails.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas