Di tangan empat mahasiswa Desain Produk Industri (Despro) ITS, sebuah kardus dapat disulap menjadi tempat duduk. Karya ini pun menarik perhatian Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. 

Berawal dari tugas kuliah, terciptalah Dus Duk Duk alias kardus untuk duduk. Dus Duk Duk ini lahir dari tangan-tangan kreatif empat mahasiswa Desain Produk, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Mereka adalah Odi Anggara, yang bertanggungjawab di produksi, Angger Wiranata di bagian pemasaran, Arief Susanto pada keuangan, dan Indra yang menangani grafis. 

“Dus Duk Duk ini merupakan furnitur alternatif yang bahan dasarnya adalah kardus. Jenis furniturnya sendiri beragam, sesuai dengan permintaan dari calon pembeli kita,” jelas Odi.

Usai pameran tugas kuliah, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan karya tugas tersebut. Mereka lantas berinovasi mengembangkan tugas tersebut menjadi sebuah bisnis baru. Hasilnya ternyata cukup memuaskan.  

Arif menceritakan bahwa Dus Duk Duk telah resmi launching bersamaan dengan Ide Art 2013, tiga tahun lalu. Kala itu, mereka memamerkan satu set kursi dan meja serta beberapa jenis furnitur interior laina. Gayung bersambut, beberapa pesanan produk Dus Duk Duk pun lantas menghampiri mereka.

Meski terbuat dari kardus, kekuatan kursi itu sudah diuji coba. Kursi tersebut mampu menyokong beban tubuh hingga ratusan kilogram.

’’Memang dari kardus. Tapi, ini sudah dicoba dan bisa diduduki teman kami yang beratnya 160 kilogram,’’ kata Angger.

Salah satu pesanan datang dari butik milik Luna Maya, artis ibu kota, yang terdapat di lima pusat perbelanjaan di Surabaya, Sidoarjo dan Malang. "Awalnya itu lewat alumni yang memotret produk kami, kemudian dipromosikan ke teman-temannya, salah satunya ya Mbak Luna itu," tambah Arif.

Ikut dalam berbagai pameran juga dilakoni oleh tim Duk Duk Duk ini. Mulai dari skala kampus hingga acara besar seperti Jatim Kreatif 2013 di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Rupanya, karya mereka mampu menarik perhatian Pakde Karwo yang datang saat opening ceremony.

''Pak Dhe Karwo bahkan sempat mencoba duduk di kursi kami," lanjut mahasiswa yang biasa disapa Bolang ini.

Beberapa hari setelahnya, keluarga Pakdhe Karwo memesan produk mereka berupa satu set kursi dan meja belajar untuk anak-anak.

"Saat itu beliau berkata kalau produk kita ini unik, kreatif dan perlu untuk dikembangkan lagi," kenangnya.

Tak sampai disitu, pesanan demi pesanan mulai mengalir. Di antaranya, pesanan untuk 2000 unit packaging dari bahan kertas kardus, furnitur berupa rak, meja belajar anak, serta furnitur untuk dekorasi butik dan hotel. Total omset mereka sudah mencapai sepuluh juta rupiah dalam delapan bulan.

Diakui Indra, bahwa usia Duk Duk Duk kerap menjadi pertanyaan calon konsumen. Menurutnya, jenis barang seperti furniture ini bisa tahan satu hingga dua tahun. Selain memang terdapat teknik khusus dalam pembuatannya, timnya juga telah menyiapkan suatu cairan yang bisa membuat tahan kertas kardus dari air dan terlihat lebih kuat dan kaku. "Asal tidak dekat dekan api, barangnya bisa awet," lanjut mantan Ketua Hima Ide tahun 2011 silam.

Soal produksi, Octiana mengatakan bahwas bahan baku kertas kardus tersebut diperoleh dari supplier di daerah Mojokerto. Biasanya kardus bekas ini dibeli secara kiloan. Dalam sekali beli bisa biasanya hingga satu kuintal kertas kardus.  "Satu kilo bisa tiga sampai empat kardus, cukup untuk membuat satu kursi begitu yang membutuhkan dua sampai empat kardus," ujar Octiana.

Guna menarik minat pasar, tim Duk Duk Duk ini juga menerima special order. Misalnya, terdapat tambahan karikatur pada furnitur yang dipesan, corak dan warna yang berbeda atau tambahan sentuhan batik. "Contohnya pernah kami aplikasikan di pesanan Pakdhe Karwo yang di belakang kursinya kami beri karikatur wajah beliau," lanjut Ode.

Mereka bermimpi mampu memiliki galeri dan workshop sendiri  "Di luar itu, harapan terbesar kami adalah turut menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar," ungkap Angger. 

Sumber: https://www.its.ac.id/berita/12415/en

Sumber Gambar: www.dusdukduk.com 


Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu