Lupa Sandi?

"..Untuk Mengharumkan Bangsa, Apapun akan Saya Jalani"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

Saya beruntung hari ini. Benar-benar beruntung. Tak menyangka saya bertemu dengan salah satu anak bangsa yang begitu besar jasanya mengharumkan Indonesia, negeri yang begitu saya cintai.  

Pagi tadi, di acara Airport Running Series yang diadakan oleh PT. Angkasa Pura I di kawasan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, saya bertemu dengan sang pemenang di lomba lari 10 K. Namanya Agus Prayogo. Bagi para peminat olah raga, namanya sungguh tak asing lagi. Apalagi, anak muda berusia 31 tahun ini sudah mengemas medali dari Sea Games di Palembang, Myanmar, dan Singapura. Yang tak banyak orang tahu, dia adalah seorang bintara TNI Angkatan Darat berpangkat Sersan Satu ! 

Caption (Sumber Gambar)
Agus Prayogo yang saya temui setelah memenangkan lomba lari Airport Running Series 10 K di kawasan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado | foto Akhyari Hananto 

Saya diberinya kesempatan berbincang ringan usai dia menerima hadiah utama di Airport Running Series tersebut. 

GNFI : Mas, matur nuwun, panjenengan sampun mengharumkan Indonesia. Mugi berkah njih, mas (ungkap saya dalam bahasa Jawa, membuka perbincangan. Sebagai orang yang sama-sama dari Jawa, perbincangan kami sangat informal dan ringan)

AP : Sama-sama mas. 

GNFI : Bagaimana ceritanya seorang prajurit TNI AD bisa mengikuti berbagai perlombaan lari, bahkan sampai dikirim ke luar negeri? Dapat emas pula. 

AP: Kebetulan di TNI AD, saya memang ditugaskan untuk tugas-tugas jasmani, termasuk melatih para calon-calon bintara di bidang pengembangan jasmani. Setiap ada perlombaan lari seperti hari ini, apalagi event-event internasional, saya didorong oleh komandan saya untuk ikut serta. Selain untuk mengasah kemampuan, menunjukkan prestasi, juga untuk mengharumkan Indonesia. 

"..untuk Indonesia" | foto Dunialari.com

 

GNFI : Apakah dulu mas Agus memang mendaftar di TNI AD, atau ..bagaimana?

AP : Saya kebetulan setelah lulus SMA sudah berprestasi di dunia lari, dan TNI AD memang sangat mendorong atlet-atlet berprestasi untuk terus didukung. Dan Akhirnya saya diberi kesempatan bergabung di Angkatan Darat. Setelah setahun latihan, saya 'ditugaskan' untuk menekuni lari. 

GNFI : Kalau latihan, berapa hari sekali? 

AP : Tiap hari, mas. Pagi dan sore di kawasan perkebunan teh di Pangalengan, Bandung. Liburnya hanya Sabtu sore, dan minggu sore. 

GNFI : Pernah merasa capek, atau bosan?

AP : Dulu awalnya iya. Namun lama-lama, saya menyadari bahwa ini jalan yang dipilihkan Allah untuk saya. Jalan di mana saya bisa mengharumkan Indonesia. Dan untuk mengharumkan bangsa yang telah membesarkan saya, apapun akan saya jalani. 

Menang di Sea Games Singapura 2015 | foto Kompas.com

Seperti diketahui, di Sea Games 2009 di Laos, Agus meraih 1 emas di nomor 10 ribu meter, lalu 2 emas di Sea Games Jakarta-Palembang 2011 di nomor 5000 dan 10 ribu meter, lalu perunggu di Sea Games Myanmar, dan 1 emas di 10000 meter, dan 1 perak di 5000 meter. Putra dari Bapak Prayitno dan Supriyaningsih ini juga baru saja pulang dari Tokyo Marathon bersaing dengan pelari-pelari jarak jauh dari seluruh dunia. 

GNFI : Bagaimana pengalaman di Tokyo, mas?

AP : Saya tak juara, mas. Juaranya dari Kenya. Kaki mereka lebih panjang dari rata-rata kaki orang Indonesia hahaha. Tapi saya belajar banyak dari pengalaman di Tokyo. 

GNFI: Bagaimana rasanya mewakili bangsa Indonesia, dan berhasil mengharumkannya?

AP : (terdiam dan menunduk sejenak). Yang pasti bangga sekali, bisa membahagiakan bangsa Indonesia, termasuk orang tua saya. (lagi-lagi terdiam sejenak)

GNFI : Bagaimana perasaan orang tua, mas..melihat mas Agus begitu membanggakan tak hanya mereka?

AP : Mereka sangat bahagia, tentu saja. Dan membahagiakan sekaligus membuat Bapak dan Ibu bangga, ... rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya baru saya membawa mereka umroh ke tanah suci. Itu hal kecil yang bisa saya lakukan bagi mereka saat ini. 

Agus mengatakan ia optimis semakin meningkatnya popularitas olahraga lari di semua lapisan masyarakat saat ini memiliki dampak positif untuk regenerasi atlet-atlet nasional yang akan berprestasi di tingkat nasional dan internasional. "Saingan terberat kita ya masih Thailand dan Vietnam. Kita jangan sampai tertinggal dari keduanya" ungkapnya menutup perbincangan. 

 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie