Alunan Musik Sunda dan Tari Topeng di Pagelaran Musik Internasional Java Jazz 2016

Alunan Musik Sunda dan Tari Topeng di Pagelaran Musik Internasional Java Jazz 2016

Alunan Musik Sunda dan Tari Topeng di Pagelaran Musik Internasional Java Jazz 2016

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Java Jazz 2016 Sudah bergulir lebih dari seminggu lalu, namun ada hal yang patut kita bangga dari pagelaran musik Internasional tersebut. yaitu sebuah pagelaran di negeri ini yang bisa memberikan kesempatan kepada talenta - talenta muda Indonesia yang bisa tampil di acara ini, bukan hanya sekedar tampil namun bisa berkolaborasi dengan musisi dunia yang tampil di acara ini.

Caption (Sumber Gambar)

Selain itu dari sisi budaya juga tidak ketinggalan, beberapa musisi Indonesia di Java Jazz 2016 selalu menyuguhkan penampilan Specialnya, salah satunya Formasi dari keyboardis, aktivis perdamaian, komposer multi-genre sekaligus produser Dwiki Darmawan ini mengambil tema yang berbeda yaitu Jazz Topeng yang terinspirasi dari nuansa Musik Topeng Cirebonan, dan berkolaborasi dengan musisi dari Polandia, pada Minggu, 6 Maret 2016, di Hall D1 Kemayoran.

Caption (Sumber Gambar)

Penampilan malam itu dibuka komposisi “For M.S.” milik dari Piotr Lemancyzk (acoustic double bass), disusul dengan tiupan saksofon Piotr Checki. Lagu milik Lemancyzk pun kemudian menjadi pembuka yang cukup bagus dari formasi tersebut, juga membuat penonton penasaran.

Caption (Sumber Gambar)

“Arafura” menjadi lagu kedua, dimana alunan saksofon pun memimpin panggung. Dwiki memadukan permainan jazz dengan musik tradisional yang dipimpin oleh Ade Rudiana(kendang) bersama Tia(gender) dan Dede Yanti (rebab) dari Jawa Barat.

Sebelumnya, Dwiki Dharmawan and His Polish Friends pun sukses tampil di Polandia, dan mendapat tawaran bermain di banyak panggung jazz, di Polandia. Salah satunya di Krakow’s All Souls Jazz Festival, festival jazz tertua di Eropa. Selain itu, mereka juga berhasil menyuguhkan gelaran konser di Odessa, Ukraina, dalam rangka memeriahkan UNESCO International Day of Jazz pada 26 April dan di Bratislava pada 27 April tahun lalu.

Musik yang ditampilkan memang berbeda dari biasanya. Seperti lagu ketiga, lagu tradisional “Gambang Suling” pun kemudian disulap menjadi bunyi-bunyian yang unik dan menarik. Meskipun suling Sunda cukup mendominasi, rasa jazz-nya masih sangat terasa.

Menyusul berikutnya komposisi “Janger” khas Bali dan lagu baru “Frog Dance” yang menyertakan gitaris Dewa Budjana menambah suasana makin menarik.

Caption (Sumber Gambar)

Penari Topeng, Uum Sumiati baru bergabung pada komposisi baru milik Dwiki bertitel “Pasar Klewer”. Berganti-ganti karakter, para musisi merespon setiap gerakan yang ditampilkan. Namun sayangnya, hanya ini satu-satunya penampilan Penari Topeng dalam tajuk pertunjukan “Topeng Jazz” ini.

Lagu penutup penampilan Dwiki malam itu adalah komposisi yang termaktub dalam World Peace Orchestra, yaitu Numfor. Drummer Adam Golicki beroleh kesempatan menampilkan permainan solonya pada lagu pamungkas. Pertunjukan berdurasi lebih dari 60 menit ini terasa sempurna. [GNFI/BB]



Sumber : Liputan GNFI
Sumber Gambar : GNFI

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Dari 400 ribu Meter di Atas Bumi Sebelummnya

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Dari 400 ribu Meter di Atas Bumi

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo Selanjutnya

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo

Babah Boim

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.