Aku Sangat Muda, Aku Sulut "Bandung Lautan Api" di Tanah Sunda

Aku Sangat Muda, Aku Sulut "Bandung Lautan Api" di Tanah Sunda
info gambar utama

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

 

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

 

Wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Dia masih sangat muda

 

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

 

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda.

(Pahlawan Tak Dikenal - Toto Sudarto Bahtiar)

(Veteran Bandung/ahmadnajip.wordpress.com)
info gambar

Bandung, 24 Maret 1946. Udara dingin malam itu tak menyurutkan semangat dua orang pemuda Republik untuk menguji nyali mereka untuk membumihanguskan kota tercinta. Berbekal granat tangan, mereka bermaksud meledakkan 1.100 ton bubuk mesiu di gudang persenjataan milik Jepang di daerah Dayeuh Kolot, Bandung selatan. Dua pemuda itulah Muhamad Toha dan Muhamad Ramdan yang kemudian diabadikan sejarahnya.


Pada hari itu Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) telah memutuskan Kota Bandung akan dibumihanguskan supaya tentara sekutu tidak bisa memanfaatkan fasilitas kota yang ditinggalkan warga dan tentara Republik. Keputusan musyawarah tersebut diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Panglima Divisi III/ Priangan. Beliau juga meminta sekitar 200 ribu warga Bandung ketika itu untuk meninggalkan kota. Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan diutus untuk melaksanakan tugas heroik itu.

Sebelumnya pada 21 November 1945, kekuatan rakyat Bandung membuat tentara penjajah meng-ultimatum agar Bandung utara dikosongkan oleh Indonesia selambat-lambatnya pada 29 November 1945.

Rakyat tidak setuju. Sejak itu sering terjadi insiden baku tembak antara pasukan sekutu dan pejuang Republik. Karena kalah persenjataan, tentara republik akhirnya tidak berhasil mempertahankan Bandung utara. Hingga pada 23 Maret 1946, dua hari sebelum peristiwa Bandung Lautan Api, tentara sekutu menyampaikan ultimatum kedua dengan menuntut Tentara Republik Indonesia (TRI) mengosongkan Bandung selatan.

Pada saat itu Menteri Keamanan Rakyat Amir Sjarifuddin mendatangi Bandung dan memerintahkan TRI untuk mengosongkan kota. Meski dengan berat hati perintah itu dipatuhi. Namun sebelum meninggalkan Bandung, TRI melancarkan serangan ke pos-pos tentara sekutu.

Di tengah pertempuran hebat pejuang Republik melawan tentara sekutu itulah sosok pemuda 19 tahun, Mohammad Toha dan teman seperjuangannya Mohammad Ramdan berhasil menjalankan misi meledakkan gudang mesiu sehingga menjadikan kota Bandung diselimuti api berkobar. Peristiwa itu disebut Bandung Lautan Api. Keduanya rela mengorbankan nyawa ikut gugur dalam ledakan dahsyat di tanah Sunda.

(Bandung Lautan Api/devianart.com)
info gambar

Seperti apakah sosok Muhammad Toha?

Dilahirkan di Jalan Banceuy, Kota Bandung, pada 1927, Toha tumbuh menjadi anak yatim karena ayahnya, Suganda meninggal dunia. Ibunya, Nariah, kemudian menikah lagi dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun pernikahan itu berakhir cerai. Toha akhirnya diasuh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Jahiri dan Oneng.

Toha masuk Sekolah Rakyat pada usia tujuh tahun hingga kelas 4. Ketika Perang Dunia Kedua pecah, sekolah Toha terpaksa terhenti.

Saat Jepang menjajah, Toha bergabung menjadi anggota pasukan Seinendan. Dia juga sempat bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga dia mampu berbincang dalam bahasa Jepang.

Setelah Indonesia merdeka Toha kemudian bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakyat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini Toha menjadi Komandan Seksi I Bagian Penggempur.

Menurut keterangan Ben Alamsyah, paman Toha, dan Rachmat Sulaeman, tetangga Toha, dan juga komandannya di BBRI, pemuda Toha adalah seorang yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada saat itu orang-orang menggambarkan Toha sebagai pemuda pemberani dengan perawakan sekitar 165 sentimeter dan sorot matanya tajam.

Bagaimana dengan Muhammad Ramdan ?

Pejuang yang ikut gugur dalam peristiwa bersejarah ini, terbilang minim informasinya. Yang diketahui hanya bahwa Ramdan adalah seorang pejuang asal Bandung. Sejatinya, banyak nama pejuang yang tak tertulis tinta emas, dalam perjuangan mereka untuk tanah air. Namun, meskipun asal usul dan rekam jejak Muhammad Ramdan belum banyak yang tahu, yang terpenting baginya adalah hidup atau mati untuk Kemerdekaan Indonesia.

Keinginan mereka sederhana. Hanya ingin merdeka dari penjajahan  dan menjadi bangsa yang berdaulat sepenuhnya di tanah sendiri.

Bangsa Indonesia bangsa yang besar. Memiliki pahlawan yang tak kenal rasa takut. Semoga apa yang menjadi cita-cita para pejuang kita, mampu kita jalankan hingga kini. Dan biarkan mereka tersenyum di alam sana, karena Indonesia bisa tetap mengobarkan semangat mereka dengan wajah baru, wajah para pemuda yang siap berkaya dari dan untuk bangsa.

Sumber : merdeka.com, sahabatmkaa.com
Gambar utama : reshajauhari.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini