Lupa Sandi?

Inilah Kisah yang Mengubah Hidup Penulis Eat, Pray, Love Ketika Berkunjung ke Indonesia

Imama Lavi Insani
Imama Lavi Insani
0 Komentar
Inilah Kisah yang Mengubah Hidup Penulis Eat, Pray, Love Ketika Berkunjung ke Indonesia
Inilah Kisah yang Mengubah Hidup Penulis Eat, Pray, Love Ketika Berkunjung ke Indonesia

Penulis novel best seller, Elizabeth Gilbert, akhirnya angkat bicara mengenai perjalanan yang telah mengubah hidupnya.

Namun siapa yang menyangka perjalanan tersebut adalah perjalanannya ketika berkunjung ke salah satu pulau di Indonesia yang namanya tak disebutkan sekitar 14 tahun silam.

Perjumpaannya dengan seorang wanita Indonesia adalah hal yang telah memberikan banyak sekali jawaban atas kegundahan hatinya kala itu.

Dikisahkan Liz, panggilan Elizabeth Gilbert, mengalami depresi berat. Perceraiannya membuat ia kehilangan banyak hal, suami, rumah, uang, teman termasuk kehilangan dirinya sendiri.

Baca Juga

Akhirnya Liz pergi untuk mencari ketenangan dengan menyewa sebuah rumah bambu seharga beberapa dolar per malam di salah satu pulau di Indonesia. Di sana ia tak mendapatkan sinyal internet dan telfon pun menjadi tak berguna. Kendaraan yang ada hanya perahu nelayan dan  kereta kuda. Ia yakin ia dapat bersembunyi dari dunia di sana.

Di pulau tersebut ia menjalani hari-harinya dengan berjalan kaki berkeliling pulau saat pagi dan sore hari. Namun Liz mengalami depresi hebat. Ia banyak menangis dan jarang sekali makan.

Di sana ada beberapa turis sepertinya dirinya namun ia sendirian tak seperti turis yang lain yang berpasangan. Sempat ia berpikir bahwa ia sebaiknya lenyap dari dunia. Namun ada seorang wanita yang melihatnya dan hal tersebut akhirnya merubah semuanya.

Wanita tersebut adalah seorang istri nelayan dan sama seperti sebagian besar penduduk lainnya yaitu seorang muslim yang berpakaian sederhana dengan jilbab yang menutupi kepalanya.

Saat pertama kali Liz berjalan kaki berkeliling pulau ia bertemu dengan wanita tersebut di depan kebunnya. Wanita itu melemparkan sebuah senyuman kepada Liz dan ia pun membalasnya.

Sejak saat itu dua kali sehari tiap pagi dan sore wanita tersebut seperti menunggunya di luar pekarangan rumah untuk sekedar bertemu, bertatap, dan saling melempar senyuman.

Pada malam ke delapan sesuatu hal terjadi pada Liz. Tiba – tiba ia jatuh sakit. Tubuhnya bergemetar dan demam. Ia muntah – muntah. Hal itu sangat menakutkan. Ia berpikir bahwa ia telah berada pada titik terendahnya karena semua hal buruk telah datang. Saat itu mesin disel mati dan membuat keadaan sekeliling gelap gulita. Ia ingat saat itu ia sampai merangkak untuk mencapai kamar mandi hingga sepuluh kali. Sebuah pertanyaan pun muncul dalam pikirannya:

Why did I come here, so far away from anyone who cares about me?”

”Mengapa aku pergi sejauh ini dengan tidak ada satu pun orang yang peduli ? ”

Hari – hari selanjutnya ia masih tergeletak lemas di dalam rumah bambunya dan tiba – tiba pada suatu sore seseorang mengetuk pintu ternyata wanita yang setiap pagi ia temui yang mengetuknya.

Wanita tersebut memerika kondisi Liz. Keduanya saling tak bicara karena Liz tak bisa berbahasa indoensia dan wanita itu tidak dapat berbahasa inggris. Namun kendala bahasa tak menyurutkan niat baik wanita itu.

Beberapa saat kemudian wanita tersebut kembali dengan membawa makanan dan obat. Liz akhirnya makan dan akhirnya ia menangis. Mereka kemudian saling berpelukan dan sang wanita tetap setia menemani Liz.

Kejadian tersebut menyadarkan Liz akan sesuatu hal yang selama ini ia cari. Ia membutuhkan sesuatu hal yang berlawanan dengan kegiatan isolasi yang ia lakukan selama di pulau tersebut yaitu suatu hubungan dengan dunia luar bukan dengan menyendiri dan menyimpan semuanya sendiri.

Be not solitary, and be not proud. See others, and allow yourself to be seen. Help others, and allow yourself to be helped. Make contact, and be open to kindness.

“Jangan menyendiri dan jangan sombong. Lihat orang lain dan biarkan dirimu terlihat oleh orang lain. Bantu orang lain dan biarkan dirimu dibantu orang lain. Buatlah koneksi dan terbuka untuk kebaikan orang lain..”

Salah satu adegan di Film Eat,Pray,Love yang diperankan oleh Julia Roberts.
Salah satu adegan di Film Eat,Pray,Love yang diperankan oleh Julia Roberts.

 

Mengapa ia baru menceritakan hal itu setelah bertahun – tahun ia alami ?

Hal tersebut terjadi sekitar setahun setelah kejadian 11 September 2001. Dia adalah seorang New Yorker dan kotanya telah diserang. Banyak orang yang memperingtkan Liz untuk tidak pergi ke Indonesia sendiri karena tidak aman. Namun ia tetap pergi dan bertemu dengan seorang muslim Indonesia yang sangat baik.

She enveloped me in safety when I was most afraid, and she helped me to heal.  She also modeled for me an example of how we are meant to look after each other in the world..Whenever I hear people getting panicked about the Islamic world, I think of her.

“Dia memeluk saya ketika saya sangat ketakutan, dan dia membantu saya sampai sembuh. Dia menjadi contoh bagaimana kita semestinya saling menjaga satu sama lain di dunia ini... Ketika orang takut dengan dunia Islam, saya selalu memikirkan dia”

Ia mengatakan bahwa saat ini orang-orang dalam kecemasan dan menaruh ketakutan pada orang lain termasuk negaranya yang ia rasa dipenuhi dengan orang-orang yang cemas dan takut dengan kehadiran orang asing.

Semua orang ingin memiliki tempat yang aman namun keamanan tak dapat ditemukan dengan mengurung diri. Kehangatan sifat serta keterbukaan dari seseorang akan menyelamatkan diri mereka, bukan dengan mengunci diri di rumah.

Ia berharap bahwa ia hidup di tengah orang-orang yang berani untuk mengahadapi resiko bukan dengan orang-orang yang memenjara diri dengan benteng yang mereka buat sendiri. Ia ingin hidup dengan orang-orang yang saling bertatap muka dengan yang lain serta saling membantu satu sama lain.

Di akhir tulisannya ia mengatakan,”For that to happen, we must all be travelers—in the world, in our own communities, and even in our imaginations. We must risk that journey to the other side of the island, we must keep knocking on each other’s doors, and we must keep letting each other in.

"Untuk itu kita semua seharusnya menjadi traveler, di dunia, di masyarakat dan dalam pikiran kita. Kita harus menghadapi resiko dari perjalanan seperti berjalan ke sisi lain sebuah pulau, saling mengetuk pintu rumah dan membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan kita.”

Kisah yang sangat menarik dari perjalanan seorang penulis ternama ketika berkunjung ke negeri kita tercinta, Indonesia. Kesederhanaan dan kebaikan hati seorang wanita muslim telah mengubah pandangannya tentang Indonesia dan Islam. Semua cerita itu dituliskannya kembali pada sebuah artikel yang berjudul Elizabeth Gilbert's Life-Changing Story from Indonesia (That You Haven't Heard).




Sumber :  www.cntraveler.com 
Sumber Gambar : 
terraceatkuta.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IMAMA LAVI INSANI

Hidup sederhana yang penting bermanfaat :D

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata