Ditemukan! Jalur Pendakian Kuno Gunung Penanggungan

Ditemukan! Jalur Pendakian Kuno Gunung Penanggungan
info gambar utama

Dari ratusan situs yang ditemukan Tim Ekspedisi Penelitian Ubaya Training Center (UTC) di Gunung Penanggungan, ada satu yang membuat Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur terkejut.

Sebab, penemuan itu berupa jalur kuno melingkar seperti jalan kereta kuda pada zaman Kerajaan Majapahit. Jalur tersebut diklaim sebagai penemuan yang paling spektakuler.

Penemuan jalan kuno melingkar di Gunung Penanggungan tersebut diketahui, pasca terjadinya kebakaran yang menghanguskan ratusan hektar lahan di gunung yang memiliki ketinggian 1653 mdpl (meter dari permukaan laut) pada Oktober tahun lalu. Penemuan ini, dimanfaatkan pihak Peneliti UTC untuk melakukan pemantauan melalui kamera drone.

Jalur pendakian kuno di Gunung Penanggungan (Dok. Eskpedisi Ubaya)
info gambar



"Ternyata setelah kami pantau melalui drone, banyak situs-situs peninggalan purbakala yang bermunculan di lereng maupun puncak Penanggungan itu," ungkap Kusworo Rahadyan, Ketua Tim Ekspedisi UTC saat memaparkannya di depan BPCB, Rabu (30/3/2016).

Kusworo menganggap, penemuan jalur kuno tersebut merupakan penemuan yang paling dahsyat dan paling terakhir dari beberapa situs purbakala yang ada karena jalur itu melingkar hingga puncak Gunung Penanggungan.

"Jadi, jalan melingkar, yang menjadi penemuan yang spektakuler menurut kami selama ini karena jalur itu merupakan jalur yang sebenarnya," tegasnya.

Tim Ekspedisi Ubaya Temukan Jalur Kuno Gunung Penanggungan |tempo.co
info gambar

Hal senada diungkapkan Arkeolog Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi. Menurutnya, jalur kuno yang mempunyai lebar 1,5 hingga 2 meter tersebut merupakan jalur yang benar untuk menuju puncak Penanggungan dengan aman.

"Cukuplah orang berjalan dengan aman tapi untuk panjangnya kita belum mengetahui. Bahkan jalan itu terlihat begitu rapi sebab setiap tikungan ada tanggulnya. jadi untuk para pendaki tak perlu takut jatuh ke bawah dan ada dua jalan yang kita temukan, jalan melingkar dan zig zag untuk yang melingkar ada dua lapis," jelasnya.

Jalur zig zag di Penanggung terlihat dari drone.
info gambar


Sementara itu, Andi Muhammad Said, Kepala BPCB menambahkan, ditemukannya jalur kuno tersebut menunjukkan bagaimana kearifan dan kreatifnya orang dulu membuat jalur sedemikian rupa yang bertujuan agar menaiki Penanggungan tidak terasa lelah.

"Untuk menaiki Gunung Penanggungan jalur itu yang seharusnya kita pakek dari sekarang bukanya menerobos dan merusak jalur yang aslinya. Sebenarnya jalur itu sudah ditemukan sejak dulu cuma tidak tuntas karena tertutup pepohonan dan longsoran," pungkasnya.

Gunung Penanggungan (dahulu bernama Gunung Pawitra) (1.653 m dpl) adalah gunung berapi kerucut (istirahat) yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Posisinya berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur), berjarak kurang lebih 55 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar. Gunung Penanggungan sering disebut sebagai miniatur dari Gunung Semeru, karena hamparan puncaknya yang sama-sama terdapat pasir dan batuan yang luas. Menurut kepercayaan Jawa Kuna, Gunung Penanggungan merupakan salah satu bagian puncak Mahameru yang dipindahkan oleh penguasa alam. Penanggungan merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa.

Caption (Sumber Gambar)Kompleks pegunungan Arjuno-Welirang dan Penanggungan dari arah Sidoarjo. Gunung Penanggungan terletak paling kanan.

Dilihat dari sisi sejarah, gunung ini memiliki nilai yang penting. Di sekujur lereng gunung ini ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung. Beberapa struktur yang ditemukan adalah Gapura Jedong (926 Masehi), Petirtaan Jalatunda (abad ke-10), Petirtaan Belahan, Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, dan Candi Selokelir. Selain bangunan Hindu, ditemukan pula punden berundak dan tempat pertapaan. Candi-candi di Gunung Penanggungan memiliki gaya yang unik, yaitu bangunannya menempel pada dinding gunung/lereng, tidak berdiri sendiri.

Sumber;

Realita.co

Wikipedia.com

Detik.com

Tempo.co

gambar utama : Bocahpetualang.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini