Lupa Sandi?

Gairah dan Gelora Semangat itu Bernama “Trenggalek”

Wahyu Aji
Wahyu Aji
0 Komentar
Gairah dan Gelora Semangat itu Bernama “Trenggalek”

Jarum pendek jam di tangan saya hampir menunjukkan angka satu siang itu, ketika mobil yang kami tumpangi memasuki pelataran sebuah rumah asri tak jauh dari sudut alun-alun kota. 

Untuk ukuran hari dan jam sibuk seperti itu, jalanan yang kami lalui relatif lengang, bahkan cenderung sepi. Jarak sekitar dua kilometer dari tempat menginap ke rumah yang dituju tertempuh sekitar lima menit saja. Bayangkan kalau untuk jarak dan jam yang sama kita harus menembus misalnya Jalan Thamrin atau Sudirman di Jakarta. 

Hari Rabu (30/3) dan Kamis (31/3) lalu saya bersama kawan-kawan GNFI, semua bertujuh, berada di sebuah daerah kecil di selatan Jawa Timur, 180 kilometer arah barat daya dari Surabaya. Daerah itu bernama Trenggalek.

Omong-omong tentang Trenggalek, beberapa hari setelah kembali ke Jakarta saya bertanya di sebuah kelas yang berisi 60 mahasiswa jurusan komunikasi di salah satu universitas, apakah mereka pernah mendengar nama Trenggalek? Para mahasiswa dan mahasiswi itu bengong dan saling bertolehan.

Dan ketika saya kejar dengan pertanyaan, “Apa itu Trenggalek?”. Tidak lebih dari 10 orang yang setengah berbisik menyebut Trenggalek adalah nama daerah. Dan hanya satu orang yang menyebut “Daerah di Jawa Timur”.  Malah ada yang menjawab Trenggalek adalah nama pantai.

Melihat usia dan lingkungan mereka sehari-hari saya bisa maklum, meskipun dalam batin saya penasaran apa mereka tidak sempat mempelajari peta Indonesia pada waktu SD sampai SMA? 

Tapi memang umumnya kita tidak terlalu mengenal Trenggalek. Dalam pemberitaan atau daftar tujuan wisata, Trenggalek mungkin kurang begitu populer. Hal ini yang menyebabkan tidak terlalu banyak orang  di luar Jawa Timur yang mengenal Trenggalek.

Ketika saya kejar lagi para mahasiswa dengan pertanyaan, “Kalau Trenggalek adalah nama salah satu daerah di Jawa Timur, apa yang kalian bayangkan pertama kali tentang daerah itu?” Lalu mereka saling bersahutan, “Ndeso, Pak”, “Sepi”, “Jauh”. 

Kesan pertama setiap orang yang datang ke Trenggalek untuk beberapa hari: Tentram (foto: IG @anud43 via @ilovetrenggalek)
Kesan pertama setiap orang yang datang ke Trenggalek untuk beberapa hari: Tentram (foto: IG @anud43 via @ilovetrenggalek)

Saya diam saja, lalu mengejar lagi, “Gimana kalian membayangkan Bupati atau Wakil Bupati daerah seperti itu?”. Jawabannya lebih ajaib lagi, “Serem, Pak”, “Tua”, “Kaku”.

Anak Muda Bisa Apa? Apa Aja Kalee …

Kembali ke perjalanan kami di Trenggalek. Tempat yang kami kunjungi siang itu adalah Rumah Dinas Wakil Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Wakil bupati ini sering dipanggil Mas, karena usianya memang belia. 

Pada waktu dilantik 17 Februari 2016 lalu, ia masih 25 tahun. Karena itu juga Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahinya sebagai wakil bupati termuda di Indonesia saat dilantik. Arifin adalah pekerja yang gigih, sejak usia 17 tahun sebagai anak pertama dari tiga bersaudara ia harus menjadi kepala keluarga sekaligus meneruskan mengelola usaha panci yang dirintis ayahnya yang meninggal di usia 40 tahun. 

Keesokan harinya, kami berkesempatan bincang-bincang sekaligus melakukan wawancara dengan Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak.  Emil juga sering dipanggil “Mas” oleh masyarakat Trenggalek, ia lahir 20 Mei 1984. Emil adalah salah satu lulusan termuda (pada saat berusia 22 tahun) Doktor Ekonomi Pembangunan dari Jepang. Dan sudah banyak terlibat di berbagai proyek dan program internasional, termasuk World Bank, sejak usia 17 tahun.

Bupati Emil, istri, dan tim GNFI
Bupati Emil, istri, dan tim GNFI

Berbicara dengan kedua orang ini, Emil maupun Arifin, menyadarkan kami bahwa mereka bukan sekadar muda. Tapi memang penuh semangat dan mimpi-mimpi yang tinggi. Selain itu, mereka memiliki kemampuan teknis juga pengetahuan yang akan menjadi sayap bagi mimpi-mimpi tersebut. 

Mimpi-mimpi itulah yang menjadi mimpi-mimpi Trenggalek saat ini, sebuah daerah yang bagi sebagian masyarakat Indonesia lainnya masih merupakan daerah yang samar-samar, jauh, dan tak banyak dikenal. 

Bersama Kelompok Peduli dan Arifin di Hutan Kota
Bersama Kelompok Peduli dan Arifin di Hutan Kota

Saya tersenyum sendiri ketika menerima email berisi presentasi dari Mas Avin, sebutan lain dari Arifin. Presentasi itu berjudul “Anak Muda Bisa Apa? Apa Aja Kaleee …”. 

Rupanya ini juga yang menjadi mantra Trenggalek kini. Trenggalek bisa apa sih? Dan mereka kompak menjawab: Bisa apa saja kaliiii

Kompi Warga dan Semangat Mendunia 

Di jalanan Trenggalek yang sehari-hari memang lengang itu, kami juga menuju Hutan Kota (Huko) yang berada di kawasan Bukit Jaas, tak jauh dari alun-alun kota. Bukan hanya taman kota, Huko memang benar-benar hutan yang ada pada sebuah bukit. 

Memang belum sepenuhnya tertata apik, tapi warga merawatnya bekerja sama dengan Pemerintah Daerah. “Pemda memang belum bisa menganggarkan dari APBD karena Huko masih mengurus beberapa perijinan, terutama perijinan lingkungan hidup sebagai hutan kota, kalau sudah ada ijinnya kita bisa segera mengalokasikan anggaran. Tapi meskipun dananya tidak ada, kami terus bahu-membahu merawat hutan ini, keberadaan Kompi sangat besar manfaatnya,” kata Mas Arifin.

Jadi selama ini warga yang tergabung dalam Kompi alias Komunitas Peduli bahu membahu merawat Huko kebanggaan warga Trenggalek ini, termasuk membiayai makan beberapa satwa yang dipelihara di Huko ini.

Trenggalek dari puncak menara pantau Bukit Jaas
Trenggalek dari puncak menara pantau Bukit Jaas

Di puncak Bukit Jaas terdapat menara pantau. Ketika kita berada di atasnya bisa melihat deretan gunung dan lanskap kota kecil Trenggalek. Benar-benar menakjubkan.

Selain Huko, kami juga menyusuri jalanan menuju Pantai Prigi, kawasan wisata andalan yang berjarak 48 km dari pusat kota Trenggalek. Sayang sudah sore ketika berangkat ke Prigi, ditambah hujan lebat di lebih dari separuh perjalanan. Tapi dari balik kaca mobil kami masih bisa melihat aktivitas masyarakat, deretan hutan pinus, dan jalanan berkelok yang mulus. 

Trenggalek memang menyimpan berbagai potensi. Di bidang pariwisata saja, mereka memiliki 27 pantai. Belum semuanya terkelola secara penuh. Kabupaten ini juga punya Gunung Wilis (yang areanya berbagi dengan 5 kabupaten lainnya). Selain itu juga potensi perkebunan, pertanian, hingga perikanan.

Tapi sebenarnya, potensi sesungguhnya adalah masyarakatnya. Mereka bersemangat plus ramah, termasuk kaum mudanya.

Bukit Kebanggaan Warga (foto: IG @oszy_fambayung14 via @ilovetrenggalek)
Bukit Kebanggaan Warga (foto: IG @oszy_fambayung14 via @ilovetrenggalek)
Gunung Kebo, Ngadirenggo (foto: IG @afrinaaaa.wee via @ilovetrenggalek)
Gunung Kebo, Ngadirenggo (foto: IG @afrinaaaa.wee via @ilovetrenggalek)
Perahu dan deretan pohon kelapa di kawasan Pantai Munjungan (foto: IG @dardiridardak via @ilovetrenggalek)
Perahu dan deretan pohon kelapa di kawasan Pantai Munjungan (foto: IG @dardiridardak via @ilovetrenggalek)

“Trenggalek adalah hidden paradise, dan kami beserta warga sangat ingin mengenalkannya pada Indonesia, juga dunia,”  ungkap Bupati Emil. 

Emil yang memiliki banyak jejaring internasional itu kini aktif memperkenalkan Trenggalek di berbagai forum dunia, termasuk di Jepang tempat almamaternya berada. 

Di tataran masyarakat, selain Kompi juga banyak kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang aktif di berbagai bidang.

Heru, pemuda Trenggalek lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang memilih kembali ke Trenggalek menyampaikan dengan bangga, “Selain Kompi, ada banyak kelompok-kelompok di desa yang peduli dengan wisata, meskipun dengan wadah berbeda-beda. Ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Karang Taruna, Desa Wisata, dan lain-lain.”  Heru kini juga aktif menjadi penggerak Asosiasi Desa Wisata yang sering disingkat menjadi AsiDewi.

Perjalanan singkat kami dua hari (terasa sangat kurang) itu memberikan pelajaran berharga. Terutama pelajaran tentang gairah dan semangat membangun daerah. Gairah dan semangat tersebut bernama: Trenggalek. Sebuah daerah kecil yang mungkin masih belum banyak orang mengenal namun laksana surga tersembunyi yang sedang bersiap menyibakkan keelokannya. 

Kami jadi berpikir, kalau Trenggalek sesemangat ini daerah lain pun pasti juga bisa.

Dan kita beruntung, saat ini semakin banyak contoh semangat positif di seluruh pelosok Indonesia. Mari menjadi bagian dari semangat itu.[] 

Sumber Gambar Sampul: Pantai Prigi IG: @pakposda67156 via @ilovetrenggalek 

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG WAHYU AJI

Good News from Indonesia ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie