Lupa Sandi?

Strategi Keseimbangan di Kawasan ASEAN

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Strategi Keseimbangan di Kawasan ASEAN
Strategi Keseimbangan di Kawasan ASEAN

Oleh Ahmad Cholis Hamzah*

Pada tanggal 15-16 Pebruari 2016, Presiden Amerika Serikat Barack Obama melakukan upaya yang tidak biasanya dengan mengudang para pemimpin Negara-negara ASEAN dalam pertemuan tingkat tinggi Negara-negara ASEAN itu di Sunnyland California. Undangan itu merupakan kejutan karena biasanya pertemuan semacam itu di selenggarakan di Negara ASEAN sendiri. Namun sebenarnya undangan ini disampaikan Obama pada pertemuan para pemimpin ASEAN tahun 2015 di Malaysia yang menghasilkan persetujuan peningkatan hubungan strategis antara AS dengan ASEA atau ASEAN-U.S. Strategic Partnership.


Para pengamat politik mengatakan belum tahu apa manfaat dari pertemuan di California ini. Namun perlu di fahami bahwa AS menginginkan strategy penyeimbangan di kawasan ini dengan fokus untuk meningkatkan hubungan lebih kuat di bidang ekonomi, investasi dan keamanan wilayah.

Namun tidak hanya AS yang melakukan hal itu, Jepang sebagai Negara sekutu AS juga melakukan hal yang sama dengan fokus pada strategi outreach kepada Negara-negara ASEAN terutama dalam bidang ekonomi.

Baca Juga

Dua Negara ini merupakan mitra dagang Negara-negara ASEAN yang penting dengan nilai perdagangan yang terus meningkat dalam decade terakhir. Perdagangan barang dan jasa Amerika Serikat dengan ASEAN sudah mencapai dua kali lipat antara tahun 1996 dan 2015 yaitu lebih dari 260 milyar US dolar pertahunnya sehingga menjadikan ASEAN sebagai mitra dagang terbesar AS ke empat. Di tahun 2014 nilai saham perusahaan-perusahaan AS di kawasan ASEAN dalam FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi langsung asing mencapai hamper 230 milyar US dolar. Nilai perdagangan barang dan jasa serta FDI Negara Jepang ke ASEAN juga mengalami peningkatan yang signifikan. Perlu diketahui bahwa Jepang dan Amerika Serikat sebelum krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1997- secara bersama merupakan dua Negara yang menguasai sekitar 30 % impor dan ekspor ASEAN.

Peningkatan perdagangan itu memang salah satunya dikareakan kawasan ASEAN ini merupakan kawasan yang menarik karena memiliki dinamika perkembangan ekonomi yang menakjubkan dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain. Jumlah penduduk ASEAN yang lebih dari 600 juta orang juga merupakan pasar yang potensial bagi perusahaan-perusahaan AS dan Jepang.

China sebagai Negara super power baru waktu itu nilai perdagangannya dengan ASEAN tidak sebesar AS dan Jepang. Negeri panda ini sebelum krisis ekonomi Asia, share impor dan ekspor nya dengan ASEAN hanya 5% (bandingka dengan AS dan Jepang yang 305 tadi). Namun secara mengejutkan di tahun 2015 perdagangan China dan ASEAN melesat jauh yaitu menguasai 15% total perdagangannya dengan ASEAN dengan nilai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan tahun 1996.

Para pengamat memperkirakan bahwa kepemimpinan China di lembaga bentukannya yang baru yaitu Asian Infrastructure Investment Bank akan melipat gandakan nilai perdagangan dan investasinya di kawasan ASEAN.

China tentunya tidak hanya meningkatkan perdagangan dan investasi nya di mana-mana tapi negeri ini juga melakukan diplomasi yang agresif dan meningkatkan anggaran pertahanannya terutama untuk melindungi klaim teritorialnya di Laut China Selatan.  Negara-negara ASEAN yang mulai melakukan upaya harmonisasi ekonominya tentu memiliki perhatian serius  dengan meningkatnya China di kawasan itu.

Jadi sebenarnya Negara-negara ASEAN juga melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan Amerika Serikat yaitu melakukan Balancing Strategy atau strategi keseimbangan dalam hubungannya dengan AS dan China.

Indonesia sebagai Negara dengan wilayah terbesar di ASEAN ini yang memiliki strategi bebas dan akif dalam hubungan internasional harus pandai-pandai menempatkan dirinya dalam persaingan global yang terus meningkat ini sehingga dapat memainkan perannya yang positif dalam kerangka kepentingan nasionalnya.  

Indonesia sebagai Negara yang terus menerus melakukan pembangunaan berkesenambungan di berbagai bidang tentu memerlukan hubungan yang baik dengan Negara-negara lain, terutama dibidang eknonomi dan investasi. Hubungan yang baik itu diperlukan agar dapat mempercepat pembangunan nasional.

Namun harus diingat, Indonesia tidak boleh masuk pada pusaran persaingan pengaruh Negara-negara besar di kawasan ini karena hal itu bisa menjadi kendala dalam pembangunan bangsa dalam jangka panjang.

*) Alumni Universitas Airlangga dan University of London, dosen STIE Perbanas Surabaya, authorized author of goodnewsfromindonesia serta pemerhati isu-isu nasional dan internasional, alamat: hamzahac@gmail.com.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas