Permasalahan tuberculosis yang masih banyak ditemukan di Indonesia menginspirasi empat anak bangsa yang kuliah di Inggris untuk membuat metode deteksi bakteri tuburkulosis yang lebih efektif. Mereka tergabung dalam tim Garuda45 yang membuat aplikasi TB DeCare

Seperti dirilis oleh Detik.com, Tim Garuda45 yang beranggotakan Ali Akbar Septiandri dari University of Edinburgh, Dewi Nur Aisyah dari University College London, Ahmad Ataka Awaalur Rizqi dari King's College London dan Muhammad Rezqi dari University of Edinburgh tersebut membuat TB DeCare untuk menggantikan metode deteksi bakteri tuberkulosis (TB) yang lama yakni metode Basil Tahan Asam (BTA).


"Metode ini banyak diterapkan di negara-negara berkembang dan negara tertinggal karena dinilai paling murah dan efisien. Namun, pemeriksaan BTA juga punya beberapa kekurangan," kata Dewi, saat mempresentasikan TB DeCare di hadapan juri Imagine Cup 2016 di @america, Pacific Place, Rabu (6/4/2016).

Dewi yang merupakan lulusan Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) tersebut menjelaskan bahwa kelemahan metode ini terletak pada sensitivitasnya yang rendah (<60%), sehingga memerlukan tenaga professional laboran dan masih memiliki potensi hasil pemeriksaan yang berbeda antar laboran, karena faktor non teknis seperti lelah, maupun standar evaluasi yang berbeda antar individu.


Melihat permasalahan tersebut, tim yang datang jauh-jauh dari di Inggris ini ingin mengembangkan sebuah sistem terintegrasi untuk menjawab permasalahan TB, melalui sebuah aplikasi yang mereka beri nama Tuberculosis Detect and Care atau TB DeCare.

Seperti dilansir dalam pres rilis Imagine Cup 2016, aplikasi ini memiliki beberapa fitur penting yaitu pertama, TB DeCare terintegrasi dengan alat pendeteksi otomatis yang memanfaatkan digital image processing dari sputum (dahak) pasien yang memiliki akurasi nyaris 100%.


Metode ini mengadaptasi penelitian yang sudah dilakukan oleh Forero et al di 2006, yakni menggabungkan metode segmentasi dan Gaussian Mixture Model untuk mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosa di dalam sputum. Hasil penelitian menunjukkan, metode ini mampu meningkatkan sensitivitas deteksi hingga 98% dan spesifisitas sebesar 99%.

Fitur kedua adalah mikroskop portable yang memanfaatkan kamera dalam ponsel sederhana. Fitur ini bertujuan agar alat pendeteksi TB ini dapat terjangkau di daerah-daerah terpencil.


"Kami mengadaptasi sebuah alat yang mampu meningkatkan kapasitas kamera ponsel untuk menjadi mikroskop dengan perbesaran hingga 1000x dengan harga yang sangat terjangkau," kata Dewi.

Berkat aplikasi ini, kini proses deteksi bakteri TB pada sputum pasien tidak lagi memerlukan proses evaluasi laboran dan mikroskop di laboratorium yang memerlukan waktu cukup lama. Hasil uji apakah pasien mengalami TB atau tidak dapat dilakukan secara mandiri dengan ponsel.

Kreasi TB DeCare ini merepresentasikan alat diagnosis TB yang mudah, efisien, dengan hasil yang akurat.

Permasalahan lain dari kasus TB adalah rendahnya angka kepatuhan berobat pasien yang dapat menyebabkan kejadian putus berobat bahkan resistensi terhadap obat (MDR TB Multi Drug Resistant TB). Oleh sebab itu, TB DeCare juga terintegrasi dengan portal informasi TB sekaligus aplikasi pengingat minum obat secara otomatis.

Melalui sistem TB DeCare, dokter atau tenaga kesehatan dapat memasukkan data setiap pasien yang telah terdektesi terinfeksi dengan TB serta mengevaluasi pengobatan pasiennya. Data demografi, gejala, riwayat penyakit, pengobatan, evalusi vital pasien akan terekam dalam sistem TB DeCare.


"Tujuan kami adalah menyediakan metode pendeteksi berbiaya rendah, namun dengan tingkat akurasi tinggi," sebut Dewi lagi.

Usaha Garuda45 yang mengurungkan niat untuk mendaftar Imagine cup di Inggris dan memilih untuk membawa bendera Indonesia tersebut ini tak sia-sia. Proyek TB DeCare menjadi pemenang Imagine Cup 2016 tingkat nasional untuk kategori World Citizenship dan berpeluang untuk membawa nama Indonesia dalam ajang Imagine Cup 2016 tingkat dunia di Seattle, Washington, Amerika Serikat.

Dewi Nur Aisyah, Muhammad Rezqi, Ali Akbar Septiandri, dan Ahmad Ataka Awaalur Rizqi saat memenangkan Imagine Cup 2016 Indonesia
Dewi Nur Aisyah, Muhammad Rezqi, Ali Akbar Septiandri, dan Ahmad Ataka Awaalur Rizqi saat memenangkan Imagine Cup 2016 Indonesia


Kehadiran tim Garuda45 sendiri memberikan warna baru di kompetisi Imagine Cup tahun ini. Hal ini menjadikan Imagine Cup 2016 sebagai kompetisi dengan peserta paling beragam sepanjang sejarah Imagine Cup di Indonesia.

Technical Evangelist Developer Experience & Evangelisn Group Microsoft Indonesia Irving Hutagalung mengatakan, ini juga menjadi pertama kalinya Imagine Cup menggunakan Skype sebagai fasilitas presentasi peserta yang berada di Inggris.

"Karena jarak, di tahap seleksi penjurian kita berkomunikasi via Skype. Kami sarankan mereka datang nanti saja ketika masuk final. Dan mereka ini baru tiba dari Inggris kemarin. Presentasi langsung, besok sudah harus pulang lagi ke Inggris. Kebayang kan, makanya muka-muka ngantuk semua," canda Irving.

Selain Garuda 45, jawara Imagine Cup 2016 tingkat nasional lainnya adalah tim None Developers dari Universitas Trunojoyo Madura untuk kategori 'Games' dan Hoome dari Institut Teknologi Bandung dan Telkom University di kategori 'Innovation'. Dari tiga tim juara di masing-masing kategori ini, hanya satu yang nantinya akan membela nama Indonesia di Seattle.

Sumber : Detik.com; Microsoft.com
Sumber Gambar Sampul : ImagineCup2016

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu