Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Jogja, sebuah Contoh Istimewa

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Jogja, sebuah Contoh Istimewa
Jogja, sebuah Contoh Istimewa

Bagi yang pernah berwisata ke Jogjakarta, seringkali judul dari tulisan ini pernah didengar utamanya datang dari saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai tukang becak, misalnya di daerah Malioboro. Orang yang pertama kali mendengar tawaran ini merasa terkejut karena “kok bisa” tiga tujuan ongkosnya hanya Rp 5000. Padahal satu tujuan saja biasanya Rp 8000-Rp.10000. Tiga tujuan yang dimaksud itu biasanya antara lain “Dagadu”, sebuah toko yang menjual T-shirt, Bak Pia “Patuk” (jajanan khas Jogjakarta) dan daerah pertokoan Batik atau Kraton.

Becak, salah satu ikon Jogja yang tersisa | jogja.panduanwisata.com
Becak, salah satu ikon Jogja yang tersisa | jogja.panduanwisata.com

Kesan pertama kali yang didapat adalah “kok begitu baiknya tukang becak disini dibanding Surabaya (misalnya)” apalagi cara menawarkan jasanya dengan bahasa Jawa halus. Namun akhirnya kita ketahui bahwa industri jasa becak itu mempunyai “business link” dengan tiga tujuan wisata kota tadi, yaitu menerima bayaran berupa komisi atas jasanya membawa wisatawan ke tempat-tempat tersebut dari para pemilik toko. Tak heran mereka berusaha mati-matian menjaring “nasabah”nya di jalan-jalan. Dengan cara ini mereka mendapatkan keuntungan yang lebih dari ongkos narik becaknya, kraton dan toko-toko juga laris dikunjungi. Tapi manfaat yang lebih luas dari hubungab bisnis itu adalah Jogjakarta akan tetap menjadi daerah tujuan wisata, persepsi tentang Jogjakarta sebagai kota budaya yang lestari tetap masuk di “mind set” nya wisatawan.

Para wisatawan juga mendapatkan pengalaman yang unik ketika mengunjungi keraton dengan segala apa yang ada didalamnya, termasuk mengetahui bahwa luas keraton Jogja hampir seluas kota itu kalau kita diajak abdi dalem keraton misalnya mengelilingi kampung-kampung disekitar keraton dan akan menjumpai dinding tebal seperti tembok China yang mengelilingi areal keraton.

Andong, berperan penting mengintegrasikan wisata Jogja | kotajogja.com
Andong, berperan penting mengintegrasikan wisata Jogja | kotajogja.com

Hal itu bisa terjadi sebab semua kegiatan kepariwisataan terintegrasi. Walaupun para tukang becak itu tidak memahami ilmu marketing, tidak tahu Kotler (pengarang buku marketing), tapi apa yang mereka lakukan itu bersatu dengan “grand strategy” Jogja dalam bidang turisme.

Baca Juga

Secara umum saya tidak mengetahui bagaimana hubungan “simbiosis mutualisme” itu bermula. Namun kita dapat memetik pelajaran marketing dari kota Jogjakarta dalam menarik wisatawan berkunjung ke sana. Ini semacam “planned strategic marketing” yang dilakukan secara sistimatis, terintegrasi dan hasilnya tentu mengagumkan. Bayangkan Malioboro atau jalan-jalan lainnya di Jogja dibandingkan dengan jalan Tunjungan toh juga sama-sama kotornya, tidak seperti Orchard road di Singapore misalnya, tapi kenapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta ini lebih besar ketimbang Surabaya.

Di kota-kota negara maju lainnya, kita bisa menyaksikan kegiatan marketing yang terpadu ini, misalnya secara spesifik dapat disebutkan adanya tiket kereta api bawah tanah yang berlaku jam-jaman (misalkan dua jam) atau harian, dan tiket yang samapun bisa dipakai untuk naik bis kota. Selain itu dapat diperhatikan bahwa semua halte dan stasiun itu dekat dengan daerah pariwisata, sehingga seorang wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu musium misalnya, dia hanya tinggal cari lokasi stasiun yang berada di dekat lokasi musium. Bagi yang tidak bisa berbahasa Inggris atau bahasa yang berlaku di kota itu berada, juga tidak perlu khawatir “kesasar” (tersesat) sebab yang harus dia kerjakan adalah melihat tanda warna yang menjelaskan kemana kereta api itu menuju. Misalkan ke musium harus naik KA yang ada tanda warna biru.

Sebaliknya apabila ada wisatawan asing (atau domestik) yang ingin melihat daerah produksi tas di Tanggulangin, maka dia akan mendapatkan kesulitan karena tidak ada peta petunjuk jalan di Surabaya ini, dan tidak ada transportasi yang langsung menuju ke situ, paling-paling informasi yang didapat dari orang-orang di jalan adalah antara lain: “naik bis lyn X ke terminal, dari situ cari colt atau bemo jurusan Tanggulangin, dan turun di pasar, didepan pasar itu ada jalan menuju ke tempat produksi tas dengan jalan naik bemo atau becak dsb dsb”. Atau kalau ada orang yang ingin ke Mesjid Ampel maka nasihat yang didapat antara lain: “naik bis dari terminal ke Jembatan Merah, dari situ naik becak sekitar 1-2 km, kemudian tanya orang-orang disekitar, dsb”. Informasi seperti ini sangat membingungkan bagi wisatawan. Bisa-bisa ada orang yang mendengar hal itu berkomentar:” sampai bungkuk gak ketemu nggone” (= sampai kapanpun tidak ketemu).

Di Jogjakarta, kita bisa melihat kemudahan transportasi itu, meskipun tidak secanggih seperti di negara-negara maju. Kita dapat menjumpai bis yang menuju daerah pariwisata seperti Kaliurang, UGM, Parangtritis dsb. “Yang mbaurekso” Jogjakarta, Sultan Hamengkubuwono pun, tidak tanggung-tanggung menyewa ahli marketing nasional dari berbagai tempat. Hasilnya pada bulan April tahun 2001, Sultan secara resmi mencanangkan kembali nama “Jogjakarta” dengan moto: “Jogja Never Ending Asia”. Sangat mungkin terinspirasi dari iklannya negara jiran yaitu: “Malaysia is truly Asia” atau Malaysia sebenar-benarnya Asia, jadi kalau ingin melihat pluralisme suku bangsa, agama, keragaman hayati, birunya pantai, kehebatan hutan tropis Asia, maka datanglah ke Malaysia bukan tampat lain, barangkali itulah makna iklan itu. Jogajakarta juga melakukan hal yang sama.

Sangat disayangkan memang, kebanyakan perencanaan yang dibuat di kota Surabaya atau kota-kota lainnya di Jawa Timur ini masih bersifat parsial, dan umum. Lihat saja kalimat yang dipakai dalam perencanaan itu mirip dengan kalimat-kalimat yang ada di GBHN. Perencanaan kebijaksanaan tidak dibuat secara terintegrasi misalnya perencanaan dari dinas tata kota tidak ada hubungannya dengan dinas pariwisata, sistim transportasi umum tidak sinkron dengan daerah tujuan wisata. Padahal sebenarnya potensi tujuan wisata itu banyak, sebut saja Mesjid Ampel, Sasak (pasar tradisional di daerah Ampel yang mirip pasar di Timur Tengah), gedung-gedung kuno, Kebun Binatang, Monkasel dsb dsb. Akan tetapi tetap saja kota ini tidak menjadi kota tujuan wisata utama. Jarang sekali keluarga dari kota lain yang mempunyai niat: “Ayo kita liburan ke Surabaya tiga hari atau satu minggu”.

Perdebatan, diskusi atau seminar yang membicarakan kota Surabaya, sering memunculkan pendapat tentang Surabaya ini mau dibawa kemana, apakah budaya “Arek” perlu dipertahankan, apa sebenarnya ciri khas Surabaya dan seterusnya. Namun sekali lagi hal itu sayangnya masih bersifat umum, filosofis dan parsial dan banyak nostalgianya, tidak membicarakan hal-hal yang spesifik untuk kedepan. Ini seperti pendapat dari kalangan kampus yang sering mengungkapkan bahasa klasik: “kita tidak ingin menciptakan sarjana pencari kerja, tapi ingin menciptakan sarjana pencipta lapangan kerja”, tanpa di tindak lanjuti dengan hal-hal yang bersifat teknis misalkan evaluasi kurikulum, rasio dosen dengan mahasiswa, sistim perpustakaan yang baik (bila perlu yang canggih), updating materi kuliah dsb.

Dalam hubungan dengan ini, kita ingat upaya Hiramatsu, Gubernur Perfektur Oita di Jepang untuk memajukan daerahnya dengan cara melaksanakan:”Integrated planning” yang melibatkan perkumpulan ibu-ibu rumahtangga, seperti PKK disini, untuk menggunakan “Antena Marketing Strategy”, yaitu (fungsi antena pertama) menyerap informasi, komplain, usulan dsb dari wisatawan dan sekaligus menyebarkan (fungsi antena kedua) informasi tentang potensi daerahnya kepada wisatawan yang datang ke toko-toko atau tempat-tempat budaya dimana para Ibu itu berada. Melibatkan peran Ibu-Ibu di Jepang dan para tukang becak di Jogjakarta itu sama-sama memberikan manfaat yang besar bagi majunya pariwisata.

Ibu-ibu disini juga bisa dilibatkan dalam melakukan strategi ini, agar tidak hanya pandai main kulintang dan tari Poco-Poco saja, namun juga ahli dalam marketing. Sudah saatnya kini Surabaya perlu melakukan strategi marketing yang cerdas semacam yang dilakukan Jogyakarta dan Oita – Jepang ini.

 

Written for Good News From Indonesia by A. Cholis Hamzah

*) Alumni Unair dan University of London, saat ini sebagai staf pengajar Stie Perbanas, Stiesia dan Program Pasca Sarjana UNAIR dan Unmuh Sidoarjo serta Sekretaris I Ikatan Alumni FE-Unair.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie