Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Saya lahir dan besar di sebuah kampung di Yogyakarta. Saya merasakan tinggal di wilayah pegunungan yang dingin, pohon-pohon menjulang sangat tinggi, hijau, dan asri. Kampung itu bernama Wonosalam, di wilayah utara Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu kecil saya sering bertemu dengan kucing hutan (blacan), luwak, dan tupai. Saya pernah merasakan "nikmatnya" makan jangrik, laron, belalang, dan serangga-serangga lain. Karena jauh dari jalan besar, saya jarang sekali mendengar deru kendaraan bermotor, saya bisa berlarian di jalan tanah selebar 10-an meter, tanpa takut tertabrak kendaraan. Saya sering ikut ayah saya membajak sawah, mencangkul, menanam padi, memupuk tebu, mencari rumput untuk sapi-sapi ayah saya.

(Segar pagi di Kampung | foto: rumroadravings.com )

Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Dibelakang rumah saya adalah kebun luas, berisi beraneka macam pohon. Mangga, kedondong, jambu air, jambu monyet, pepaya, pisang, banyak lagi. Di belakang rumah juga terdapat bermacam-macam tanaman perdu yang (mungkin) langka. Di belakang rumah juga terdapat buah maja (buah yang kemudian dijadikan nama kerajaan Majapahit), buah yang bentuknya bulat, pahit rasanya.

Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Mandi saya bukan di bathroom yang berkilau, dengan toilet yang modern. Kamar mandi saya terbentang panjang dari puluhan kilometer, bernama Kali Kuning. Sungai berbatu-batu, bening. Sesekali saya pergi membawa pancing yang dibuat dari bambu dan peniti. Pulangpun membawa ikan kecil dan udang sungai. Mandi di kali yang bersih dan indah, dengan gemuruh air yang menerpa bebatuan khas Gunung Merapi, masih membekas indah dalam benak saya. Kami berjalan berkelompok, cukup jauh, sekitar 3 km. Membayangkan kami berjalan di pematang sawah, sambil bercengkerama dan menggoda, membicarakan pelajaran dan guru di sekolah yang tidak kami sukai.

Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Setiap hari saya bertemu puluhan bapak-bapak yang berangkat ke sawah, tidak pernah sekalipun kami tidak bertutur sapa dan tersenyum. Hawa dingin pagi tak menghalangi mereka bekerja, menembus kabut tebal pagi, menenteng cangkul, kadang menggirim kerbau. Pada hari minggu, biasanya sang bapak membawa serta istri dan anaknya.  Bapak saya tak ketinggalan, membawa kami sekeluarga, sekedar menikmati hawa segar di sawah, menanam kacang, atau membajak sawah.

Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Bertahun-tahun saya tinggal di sana, tak sekalipun terdengar konflik antar tetangga. Saya masih ingat, ketika Ibu membangun kandang ayam, seluruh penduduk datang membantu, sambil membawa makanan minuman. Dalam sekejap, kandang ayam pun berdiri kokoh. Semangat inilah yang membangkitkan kenangan saya tentang betapa besar dan indahnya persatuan negeri ini.

Alhamdulillah saya lahir di kampung...

Disanalah harapan dan optimisme saya tentang masa depan negeri indah ini terbangun, dan tidak pernah bisa terkikis.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu