Lupa Sandi?

Buwas yang Kian Buas: BNN Gagalkan Transaksi Sabu 39,6 Kg

Choirul Huda
Choirul Huda
0 Komentar
Buwas yang Kian Buas: BNN Gagalkan Transaksi Sabu 39,6 Kg

"SUDAH resmi, pak?"
"Iya, Rul. Ini lagi nunggu konferensi pers-nya." 
"Informasi A1, kan?"
"Pasti. Nanti saya tunggu di tempat biasa." 

Demikian, percakapan saya dengan Thamrin Dahlan. Blogger senior yang sudah menunggu saya di lobi markas Badan Narkotika Nasional (BNN), Jakarta Timur, siang tadi (12/4). Sambil berkeliling di lantai dasar gedung pinjaman milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) itu, kami pun berbincang sejenak.

Mulai dari membicarakan situasi di Tanah Air hingga berbagai kegiatan blogger baik offline maupun online. Salah satunya yang berkaitan dengan BNN. Kebetulan, saya sudah tidak asing lagi dengan Lembaga Pemerintah Non Kementerian ini.

Lantaran sejak 2012 lalu kerap nongkrong di gedung tersebut bersama Thamrin untuk mengikuti berbagai acara yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan narkoba. Sosok yang di kalangan blogger, pria kelahiran 7 Juli 1952 ini merupakan purnawirawan Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar (Kombes).

Saat masih bertugas, Thamrin kerap berkecimpung dengan unit narkoba. Bahkan, sosok yang akrab disapa pak TD ini dipercaya sebagai Direktur Pasca Rehabilitasi BNN hingga pensiun enam tahun silam.

"Nanti kita tunggu di ruang utama. Selain pak Budi Waseso, juga ada pak Slamet (Pribadi), dan pak Arman (Depari)," Thamrin menjelaskan. Untuk nama pertama, saya tidak asing lantaran sejak 8 September lalu dilantik sebagai Kepala BNN menggantikan Anang Iskandar. Begitu juga dengan Slamet selaku Kabag Humas yang kerap saya temui dalam berbagai acara. Baik konferensi pers atau yang melibatkan blogger terkait kampanye anti narkoba.

Nah, nama terakhir itu, sepertinya saya sering mendengarnya. Khususnya dalam sepekan belakangan ini. Tapi, sampai menjelang sesi tanya jawab antara BNN dengan media yang hadir, saya masih lupa. Hingga, saya sadar ketika mendengar percakapan beberapa rekan jurnalis yang berada di samping.

"Bro, itu pak Arman Depari."
"Iya. Gimana kabar keponakannya sekarang?" 
"Ya, lo tanya aja."
"Ah gile lho ndro, lagi kayak gini nanya yang begituan."
"Coba aja. Beliau ramah kok."
"Sssst. Kalian ini berisik amat sih. Ini kan lagi live. Ntar jadi noise nih." 

*          *         *

"PENYELIDIKAN sudah dilakukan 18 Maret lalu di Bekasi yang membawa mobil pick-up," kata Budi seperti yang saya rekam dan unggah di Youtube. "Kami mengikuti mereka yang menuju Jakarta. Tak lama, kendaraan itu berhenti dan langsung kami ringkus dengan barbuk (barang bukti) 39,6 kg sabu. Selanjutnya, kami melakukan perkembangan untuk membekuk tersangka lainnya."

Menurut pria yang kerap dipanggil Buwas -merujuk singkatan namanya- ini, rencananya narkotika dan obat terlarang (Narkoba) itu akan diedarkan di Jakarta dan Makassar, Sulawesi Selatan. Perwira Tinggi (Pati) 55 tahun ini mengungkapkan, narkoba itu memakai ekspedisi dari Medan, Sumatera Utara, melalui penyeberangan Bakauheni, Lampung, menuju Merak, Banten.

Total, BNN membekuk tujuh tersangka yang seluruhnya pria. Pada penggerebakan pertama menangkap inisial MJ berusia 39 tahun, FA (38), UM (57), dan AC (38). Setelah penyelidikan lebih intensif, mereka membekuk tiga tersangka lainnya, yaitu MS (26), MW (24), dan AP (28).

Menurut Buwas, ketujuh tersangka diancam pasal berlapis. Mulai dari Pasal 114 ayat (2), Junto Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

"Mereka termasuk jaringan lama dari sindikat internasional. Makanya, kita meminta agar yang tertangkap segera dihukum seberatnya. Juga, sekarang ini kami tidak menutupi identitas tersangka. Keenakan mereka. Padahal, tersangka itu kan seperti pelaku pembunuhan masal. Ayo kalian lihat ke kamera, biar cepat terkenal," kata Budi yang membuat ruangan konferensi pers jadi riuh. Seketika terdengar celetukan "(Pak) Buwas sekarang tambah buas."

Namun, dalam kesempatan itu, Komisaris Jenderal (Komjen) dengan bintang tiga di pundaknya ini enggan membeberkan nominal jumlahnya. Budi hanya menjelaskan beberapa barang bukti seperti uang jutaan rupiah yang diperlihatkannya bersama kunci mobil dan motor serta telepon genggam.

"Saat ini, kami tidak ingin menyebut nominal. Yang pasti, kita terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meminimalkan peredaran narkoba bersama Polri, TNI, Bea Cukai, dan lainnya. Untuk yang sudah tertangkap, akan kami musnahkan Jumat ini," Budi menjelaskan sambil keluar dari pintu ruangan yang langsung terhenti karena sudah ditunggu Mischa Hasnaeni Moein.

Hanya, Buwas menolak ketika bakal calon gubernur (balon) DKI Jakarta itu meminta tes urine di Gedung BNN. "Tidak bisa di sini. Melainkan di Rumah Sakit Polri di Kramat Jati," kata Slamet yang mendampingi Budi kepada Hasnaeni yang dalam beberapa tahun terakhir dijuluki sebagai "Wanita Emas" tersebut.

*          *         *

"BRO, itu salah alamat kali mau tes urine di sini."
"Iye, bukannya di (Rumah Sakit Polri) Sukanto kan biasanya."
"Ga tahu lah. Kata si mbak itu, ibu Hasnaeni juga baru dari (kantor) KPK."
"Lha, ngapain?"
"Ga tahu. (Liputan di KPK) bukan bidang ane, bro."
"Ha ha ha, paling juga 'Wanita Emas' itu mau kampanye."
"Btw, pak Arman baru naik pangkat ya?"
"Iya, kan tadi pak Slamet bilang pas mau mulai presscon. Katanya jadi Irjen."
"Terlepas kasus Sonya, pak Arman emang kinerjanya bagus banget. Dia sering nangkap 'kakap' tuh."
"Terus gimana soal pelajar yang ditilang ngaku anaknya?"
"Kalo kata temen ane, dalam adat Karo memang paman bisa disebut ayah."
"Berarti, Sonya bener ya waktu ngaku anak meski aslinya keponakan."
"Iye bro, lain ladang lain belalang. Lain..."
"Huu... Dia malah bikin pepatah. Gue, cabut duluan. Ini mau ke Kuningan lagi."
"Yongkru. Hati-hati bro."

Saya hanya tersenyum saat "menguping" perbincangan mereka di lobi. Tak lama, gedung BNN pun beringsut sepi. Saya pun pamit kepada pak TD yang saat itu masih ada urusan dengan beberapa mantan rekan kerjanya. 

Ya, meski sudah lima tahun tidak ada kegiatan di BNN, tapi Thamrin sangat dikenal seluruh pegawai karena sifatnya yang ramah. Bahkan, mayoritas di antara pekerja senior di gedung tersebut memanggilnya, "Pak Haji".


Sumber : http://www.roelly87.com/2016/04/buwas-yang-kian-buas-bnn-gagalkan.html
Sumber Gambar Sampul :

editor uf/g 14-04-2016
Label:
bnn
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CHOIRUL HUDA

blogger, blogger, blogger ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata