"Indonesia, Bisa Jadi Pusat Gastronomi Dunia"

"Indonesia, Bisa Jadi Pusat Gastronomi Dunia"

"Indonesia, Bisa Jadi Pusat Gastronomi Dunia"

Saat berbicara mengenai pusat gastronomi, negara pertama yang terlintas pastilah Prancis atau Italia. Di kedua negara tersebut, kuliner menjadi komoditi utama. Daya tarik yang membuat turis berkunjung dan menyebar harum nama negara ke seantero dunia.

Foie Gras dan escargot dari Prancis dan pasta khas Italia sudah melegenda.

Namun, belum pernah nama Indonesia tercetus di liga kuliner global.

Tahun 2011 silam, survei online yang digelar CNN Internasional menyebut rendang Padang dan Nasi Goreng sebagai dua makanan paling lezat di dunia. Survei tersebut diikuti 35 ribu orang dari seluruh dunia.

Massimo Bottura via cnn.com
Massimo Bottura via cnn.com

Sementara, dalam survei yang sama, Indonesia tercatat sebagai peringkat 10 negara dengan makanan terbaik di dunia. Sayangnya, rangking tersebut dikalahkan Filipina (1), Malaysia (3), Vietnam (5), dan Singapura (7).

Lalu, dimana kesalahan Indonesia?

Pekan lalu, dalam kunjungannya ke Indonesia, Chef Terbaik Italia Massimo Bottura terpesona dengan kuliner lokal. Dia mencicipi ayam panggang, rendang Padang, serta Gado-Gado.

“Makanan Indonesia sangat lezat, punya keseimbangan yang tepat antara rasa gurih, manis, asam, penuh bumbu. Saya heran kenapa makanan Indonesia belum terkenal di dunia,” ujarnya kepada CNNIndonesia.comdi Orient8, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Padahal, menurut Bottura, jika diolah dengan profesional, Indonesia bisa menjadi Prancis dan Italia yang baru.

“Ada banyak kekayaan kuliner Indonesia yang belum tergali. Ini potensi besar,” kata pria yang mendobrak tradisi ‘dapur Italia’ tersebut.

Chef Massimo Bottura saat mempersiapkan hidangan ciptaannya di Orient8, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 18 Maret 2016. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Chef Massimo Bottura saat mempersiapkan hidangan ciptaannya di Orient8, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 18 Maret 2016. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)

Bottura menyebut yang diperlukan Indonesia adalah kemunculan chef-chef muda yang ingin mengangkat kuliner Indonesia ke panggung dunia.

“Indonesia butuh banyak chef muda yang punya cara baru menyajikan masakan tradisional yang lezat ini,” sebutnya.

Lewat olahan baru, cara penyajian yang berbeda, serta pendekatan inovatif terhadap kuliner Indonesia, Bottura optimistis, Indonesia bisa jadi pusat gastronomi dunia.

“Tentu saja ini juga harus didukung pemerintah. Mereka harus bisa mendorong investasi di bidang kuliner, melakukan promosi, sehingga masyarakat internasional tertarik datang dan mencicipi makanan Indonesia,” terang pemilik Osteria Francescana di Modena, Italia, ini.

Tapi ada satu hal yang ditekankan Bottura. Tradisi dan kekayaan budaya dalam masakan Indonesia yang harus terus dipertahankan.

“Seperti juga Italia, Indonesia kaya akan tradisi dan budaya dan itu tergambar lewat masakan. Itu harus dipertahankan jangan sampai hilang, karena disitulah ciri khas masakan Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” tutur Bottura.

Sumber : CNN Indonesia ditulis oleh Lesthia Kertopati

editor yf/gnfi 17-04-2016

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Empat Jasa Bung Karno untuk Umat Islam Seluruh Dunia yang Patut Dikenang Sebelummnya

Empat Jasa Bung Karno untuk Umat Islam Seluruh Dunia yang Patut Dikenang

Rayakan Hari Pangan Sedunia, Kraft Heinz Ajak Masyarakat Jadi #PejuangNutrisi Selanjutnya

Rayakan Hari Pangan Sedunia, Kraft Heinz Ajak Masyarakat Jadi #PejuangNutrisi

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.