Teknologi pengobatan jantung di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh para pasien sehingga lebih memilih berobat ke luar negeri dengan anggapan teknologi di sana lebih canggih.

Namun jangan salah sangka dulu. Teknologi dan keahlian dokter Indonesia dalam hal mengobati penyakit jantung sebenarnya tak kalah dengan negara lain. Salah satu bukti adalah penggunaan TAVI (Transcatheter Aortic Heart Valve) yang dimulai pada 2015.

"Belum semua negara di Asia bisa melakukan ini," kata Sekretaris Eksekutif PP PERKI, dr Isman Firdaus SpJP(K). Lebih lanjut, TAVI, jelas Firdaus, adalah cara mengatasi masalah katup jantung tanpa operasi pembedahan.

Tak main-main, sebagai bukti bahwa Indonesia tak kalah dari Singapura dan Malaysia adalah akan ada teknologi baru lain yang akan dikerjakan di Indonesia, yaitu memasang alat pacu jantung tanpa kabel.

Ketua Umum PERKI, dr Anwar Santoso, PhD, FIHA, FasCC, FESC, menyebut, banyak sekali kemajuan yang telah dicapai dokter jantung di Indonesia dalam bidang kardiovaskular. Di bidang kuratif saja, ditemui satu teknologi yang diakui telah berhasil mengurangi angka kematian akibat gagal jantung, Percutaneus Coronary Intervention (PCI).

"Ada juga teknologi Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) dan Left Ventricular Assist Device (LVAD) yang sangat menolong pasien gagal jantung," ujar Anwar.

Pemasangan pacu jantung pada kasus gangguan irama jantung dan ICD terbukti menurunkan kematian jantung mendadak. Selain itu dalam bidang pembuluh darah digunakan juga teknologi Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEFAR) dan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR).

Di bidang pediatrik (anak) pun terdapat kemajuan dalam penanganan penyakit jantung congenital, misal penanaman alat Patent Ductus Arteriosus (PDA), Amplatz Duct Occluder (ADO), dan Amplatz Septal Occluder (ASO) yang akan membantu pasien kelainan jantung bawaan pada anak.

Di bidang pencitraan (imaging) jantung sehingga diagnosa dapat dilakukan secara akuran dan tepat, antara lain Transthoracic echocardiogram (TTE), Transesophageal exhocardiography (TEE), Cardiac Magnetic Resonance Imaging (CMRI), dan Radio Nuclear Imaging.

Sumber : liputan6
Sumber Gambar Sampul :hospital.umm.ac.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu