Setidaknya hari ini menjadi hari gegap gempita Kartini. Puluhan, ratusan bahkan ribuan wanita Indonesia merayakannya dengan beragam cara. Ada yang kemudian secara khusus “meniru” fesyen sang kartini dengan menggunakan kebaya khas, bahkan berkonde, ada juga yang merayakannya dengan sekedar menulis di jejaring akun sosmed seputar makna yang didapat dari monumentalnya seorang Kartini.

Setiap peringatan 21 April (mungkin) selalu ada saja yang bertanya, “Mengapa harus Kartini ? bukan nama wanita lainnya yang diperingati.”

Ya, ini sebuah pertanyaan yang akan menimbulkan diskusi cukup panjang saya rasa. Tapi mau tidak mau harus kita akui, kepiawaian Kartini yang juga seorang santriwati dari Kyai Sholeh Darat (yang juga menjadi guru bagi pendiri dua ormas Islam terbesar di Indonesia), dalam menulis menjadi bagian yang penting tercetusnya hari Kartini. Lewat dokumentasi perjalanan hidup dan berbagai gagasannya yang tercatat dengan apik, membuat kita mudah menelusuri bagaimana sosok dan pemikiran seorang Kartini. Hal ini sangat berbeda dengan perempuan lainnya yang juga kita tahu berjuang untuk bangsa dan hak-hak perempuan. Sedikit agak susah memang untuk ditelusuri, bahkan hanya untuk tahu bagaimana "rupa" aslinya. Sebut saja perbincangan hangat mengenai fakta bahwa sebenarnya Tjut Nyak Dien adalah perempuan tangguh yang menggunakan hijab, bukan seperti apa yang kita ketahui dari berbagai media atau jejaring maya.

Terlepas dari itu semua, Kartini menjadi (salah satu) tokoh penting dalam isu kesetaraan gender. Apalagi berdasar dari data Susenas 2014 dan 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah penduduk mayoritas Indonesia adalah penduduk berjenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 128,1 juta jiwa, sedangkan perempuan berjumlah 126,8 juta jiwa. Tentu perbandingan jumlah ini menjadi “peluang” bagi isu kesetaraan gender untuk terus hidup dan menghangat, terlebih bagi mereka yang memaknai kesetaraan gender hanya masalah seberapa banyak jumlah kaum perempuan bisa terlibat atau hematnya “Kok banyakan cowoknya, harusnya cewek juga banyak donk”.

Kesetaraan Gender dalam Dimensi Marsinah

Membicarakan kesetaraan gender tentu tak hanya “berkiblat” pada gagasan seorang Kartini. Tanpa bermaksud menghilangkan gagasan seorang Kartini, gagasan kesetaraan gender juga menarik untuk kita refleksikan pada dimensi lainnya, dalam hal ini dimensi dari buah pemikiran seorang Marsinah.

Marsinah, sebuah nama yang hingga kini berjuang menuntut keadilan. Ia raib selama 3 hari ditemukan tak bernyawa pada 8 Mei 1993. Jenazahnya teronggok di hutan Dusun Jegong, Nganjuk, Jawa Timur. Tanda-tanda penyiksaan, termasuk di bagian kelamin, terlihat di tubuh buruh PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo, tersebut.

Kisahnya dimulai pada awal 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT CPS membahas surat edaran tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan berunjuk rasa pada 3 - 4 Mei 1993 untuk menuntut kenaikan upah.

Marsinah terlibat sejak perencanaan unjuk rasa. Sampai 5 Mei 1993, ia masih aktif bersama rekan-rekannya dalam unjuk rasa dan perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 perwakilan karyawan yang berunding dengan pihak perusahaan.

Pada 5 Mei siang, tanpa Marsinah, 13 buruh digelandang ke markas Kodim Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah buruh masuk kerja. Beberapa jam kemudian, Marsinah lenyap.

Hingga kini kisah hilangnya Marsinah belum juga terpecahkan, aktor sebenarnya pun belum menerima hukuman. Namun Marsinah yang memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada 1993 ini terus hidup menjadi simbol perjuangan kaum buruh untuk menggapai pengakuan dan keadilan, terlebih bagi buruh perempuan.

Bangkitnya Keberanian

Suasana kota yang penuh dengan persaingan telah membuat setiap orang yang tinggal di dalamnya terbiasa menjadi keras. Kartini dan Marsinah setidaknya mengajarkan kita untuk bangkit memantik sebuah keberanian hidup.

Dalam kumpulan surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” ia menulis “Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”, tulisnya. Begitu pula Marsinah, walaupun jejak tulisannya hampir jarang kita dapati, namun spirit keberanian telah ia tunjukkan dengan berada pada garis terdepan dalam memperjuangkan keyakinannya tentang kebenaran dan rasa sepenanggungan, walau nyawa menjadi taruhan.

Kartini dan Marsinah dua sosok yang tak pernah “cengeng”. Mereka boleh saja tiada dalam wujud nyata, namun nafas perjuangannya akan terus hidup menjadi rindu yang terus membuat kita haus dan ingin meneruskan cita perjuangannya. Terlepas dari sosok siapa yang dikenang dan diabadikan menjadi sebuah hari peringatan.

Sumber Gambar Sampul : nemupalu.blogspot.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu