Lupa Sandi?

9 Fakta Tentang Taman Nasional Gunung Leuser Yang Menarik Perhatian Dunia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
9 Fakta Tentang Taman Nasional Gunung Leuser Yang Menarik Perhatian Dunia

Belum lama ini Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di Sumatera menjadi sorotan bukan hanya dikalangan domestik Indonesia namun juga di masyarakat internasional berkat kedatangan aktor peraih Oscar 2016, Leonardo Dicaprio di Aceh.

Aktor kawakan tersebut mengunjungi TNGL dalam rangka kampanye pelestarian lingkungan dan kampanye perlindungan gajah. Dirinya tidak datang sendirian, namun juga bersama aktor lain yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan seperti Adrien Brody dan Fisher Stevens. Tidak hanya berkampanye, tapi mereka juga bertemu dengan peraih penghargaan Goldmans Environmental Prize, Rudi Putra

Lalu mengapa aktor-aktor tersebut datang jauh-jauh dari Amerika Serikat untuk mengunjungi TNGL? Berikut setidaknya 9 fakta tentang TNGL yang dikumpulkan oleh GNFI yang mungkin menjadi alasan mengapa Leonardo DiCaprio bertandang.

1. Berada di dua provinsi

Taman Nasional Gunung Leuser punya luas 1.094.692 hektar. Secara administrasi, taman nasional ini berada di dua provinsi yakni Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

10 Kabupaten/kota yang mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser adalah Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Dairi, Karo, Deli Serdang, dan Langkat. 4 Nama terakhir, berada di Sumatera Utara.

Baca Juga

2. Punya 2 status internasional

Taman Nasional Gunung Leuser menyandang 2 status yang berskala internasional yaitu sebagai Cagar Biosfer yang ditetapkan di tahun 1981 dan sebagai World Heritage pada tahun 2004. Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan World Heritage Committee atas usulan pemerintah Indonesia setelah melalui rangkaian proses seleksi yang ketat.


Cagar Biosfer didefinisikan sebagai kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere UNESCO (MAB-UNESCO) untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam.

Sedangkan status TNGL sebagai World Heritage, diberikan UNESCO dalam World Heritage Convention (Konvensi Warisan Dunia) pada tanggal tahun 2004. Saat itu, Taman Nasional Gunung Leuser menyusul Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Lorentz yang lebih dulu menyandang predikat World Heritage.

Baca juga: 6 Taman Nasional di Indonesia yang Termasuk Situs Warisan Dunia

3. Menjadi Bagian Dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra

 

Status TNGL yang termasuk dalam Warisan Dunia oleh UNESCO dikelompokkan menjadi satu dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (Situs Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera) bersama dengan dua taman nasional lainnya yakni Taman Nasional Kerinci Seblat yang wilayahnya melingkupi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Taman Nasoinal Bukit Barisan Selatan yang melingkupi Lampung, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Ketiganya kemudian terangkai memanjang dari utara Sumatera hingga selatan Pulau Sumatera.

4. Habitat dari Hewan-Hewan Eksotis Asia

 

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 89 spesies langka dan dilindungi yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser. Beberapa diantaranya terancam punah dan terus dilakukan upaya konservasi. Beberapa hewan Asiatis yang berada di Taman Nasional ini diantaranya Orangutan Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Beruang Madu, Rangkong Papan, Ajag, dan Siamang.

Siamang, Hylobates syndactylus (Foto: triptrus.com)
Siamang, Hylobates syndactylus (Foto: triptrus.com)

5. Ada 7 Cagar Alam di Wilayah TNGL

Wilayahnya yang cukup luas membuat Taman Nasional Gunung Leuser memiliki bagian-bagian khusus untuk tujuan konservasi seperti adanya cagar alam. Saat ini terdapat 7 wilayah cagar alam yang masuk dalam lingkup TNGL yaitu Cagar Alam Gunung Leuser, Kappi Cagar Alam, Cagar Alam Kluet, Sikundur-Langkat Wildlife Reserve, Ketambe Research Station, Singkil Barat, dan Dolok Sembilin.

6. Gunung Leuser Menjadi Denyut Utama

 

Sebagaimana disebutkan dalam nama taman nasional ini, Gunung Leuser ibarat menjadi ikon utama untuk taman nasional kebanggan masyarakat Sumut ini. Gunung yang memiliki puncak setinggi 3.119 meter tersebut memiliki tiga puncak yang salah satunya adalah unik karena disebut sebagai Puncak Tanpa Nama. Sedangkan dua lainnya adalah Puncak Loser dan Puncak Leuser. 

 

7. Memiliki Sungai Alas membelah dua TNGL

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki Sungai Alas, yang disebut sebagai sungai terpanjang di Aceh. Sungai Alas memiliki tingkat arus pada angka 3 dan 4 yang artinya, sungai yang bermuara di Samudera Hindia ini memiliki arus yang deras dan dalam. Meski begitu dibeberapa titik terdapat perkampungan masyarakat lokal yang banyak bergantung pada sungai ini.

8. Lokasi Tumbuhnya Rafflesia

Di Indonesia, Rafflesia memang tidak hanya terdapat di Bengkulu, sebab bunga parasit tersebut juga tersebar dibeberapa tempat salah satunya adalah di Taman Nasional Gunung Leuser. Namun di TNGL jenis Rafflesia yang ditemukan adalah Rafflesia Rafflesia, Rafflesia Atjehensis dan Rafflesia Rizanthes zippelni. 

9. Sister Park dengan Malaysia

Belum banyak yang mengetahui bahwa Taman Nasional ini juga memiliki hubungan dengan negeri tetangga. Negeri tetangga yang dimaksud adalah Malaysia, yang ternyata telah melakukan kerja sama program Taman Nasional Indonesia-Malaysia. Sehingga TNGL ditetapkan sebagai Sister Park dengan Taman Negara National Park di Malaysia. Artinya, kedua taman nasional tersebut punya banyak persamaan dan akan bekerja sama dalam pelestarian biota. 

Sumber : Berbagai Sumber
Sumber Gambar Sampul : triptrus.com

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bertekad untuk mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata