Sekolah Komunitas di Salatiga Ini Dikonsep Untuk Membangun Desa Yang Indah

Sekolah Komunitas di Salatiga Ini Dikonsep Untuk Membangun Desa Yang Indah
info gambar utama

“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”


“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”

Begitulah apa yang tertulis pada UUD 1945 Pasal 31 ayat pertama dan ketiga. Namun dalam prakteknya di Indonesia, masih banyak masyarakat yang belum dapat menikmati fasilitas tersebut utamanya masyarakat di wilayah pedesaan. Masyarakat desa dengan kondisinya yang masih perlu peningkatan kesejahteraaan memiliki harapan agar sekolah dapat terjangkau, dekat, murah dan memenuhi kebutuhan lingkungannya.

Harapan tersebut tidak mudah jika hanya digantungkan pada lembaga-lembaga formal pendidikan. Salah satu solusi untuk menyelesaikan problem tersebut adalah dengan mengadakan sekolah yang digagas sendiri oleh warga. Konsep dasarnya adalah sekolah berbasis komunitas/desa (Community Based Schooling) dimana wargalah yang menentukan baik buruknya anak-anak desa kedepan.

Pendidikan dikelola bersama dalam sebuah lembaga pendidikan, dimana antara warga desa, pemerintah desa, orang tua murid, guru, anak didik, secara rutin dan terus-menerus mengevaluasi, merencana-kan dan mengawasi secara bersama-sama. Inilah yang disebut dengan pendidikan alternatif yang digagas warga, dikelola bersama, dibesarkan bersama dengan tujuan meningkatkan martabat warga desa itu sendiri.

Berangkat dari pola pikir tersebut, lahirlah sekolah alternatif Qaryah Thayybah, sekolah berbasis komunitas di desa Kalibening Salatiga dengan tingkat pendidikan setara SMP-SMA.

“Dulunya Qaryah Thayybah ini adalah serikat tani diKalibening, dan kemudian kami menggagas sebuah komunitas belajar yang terintegarsi dengan kelompok tani” jelas Bahruddin, penggagas sekolah Qaryah Taybah saat diwawancarai di salah satu stasiun televisi.

Sekolahan alternatif ini mendasarkan proses pendidikannya pada analisis kehidupan nyata, adanya kesatuan mengajar dan belajar, mengajar disertai belajar, guru dan siswa adalah tim, dan masyarakat desa menjalin persahabatan dengan lembaga sekolahan ini. Kesatuan inilah yang akan membongkar citra bahwa sekolah itu dingin tak berjiwa, birokratis, penyeragaman, asing bagi kaum miskin di pedesaan, dan membosankan bagi guru dan siswa. Tidak ada dikotomi miskin kaya, guru menakutkan, murid nakal, mata pelajaran momok dan sebagainya. Konsep utamanya adalah kegembiraan untuk semua.

Visi jauh kedepan inilah yang kemudian dirumuskan dalam rangka mewujudkan masyarakat tani yang tangguh. Konsep pendidikan alternatif inilah yang diharapkan kedepan menjadi tumpuan bagi anak-anak petani untuk mempercepat proses terciptanya “Desa yang Indah”. “Jadi kami ingin menciptakan suatu kondisi masyarakat yang mau belajar dan mandiri atau learning society. Dari sini kita bisa membangun masyarakat yang maju, advance society. Nah, nama lain dari advance society inilah yang menginspirasi nama qaryatun thayyibatun” lanjut Bahruddin.

Caption (Sumber Gambar)

Qaryah Thayyibah sendiri menawarkan prinsip pendidikan alternatif sebagai berikut:

Prinsip utama, pendidikan dilandasi semangat membebaskan, dan semangat perubahan kearah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis,dan tidak kreatif, sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan belajar dan mengajar, siapa yang lebih tahu mengajari yang belum paham, hal ini kemudian akan didapat seorang guru ketika mengajar sebenarnya dia sedang belajar, terkadang belajar apa yang tidak diketahuinya dari murid.

Prinsip kedua, keberpihakan, adalah ideologi pendidikan itu sendiri, dimana akses keluarga miskin berhak atas pendidikan dan memperoleh pengeta-huan.

Prinsip ketiga, metodologi yang dibangun selalu berdasarkan kegembi-raan murid dan guru dalam proses belajar mengajar, kegembiraan ini akan muncul apabila ruang sekat antara guru-murid tidak dibatasi, keduanya adalah tim, berproses secara partisipatif, guru sekedar fasilitator dalam meramu kurikulum.

Prinsip keempat, Mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola sekolah, guru, siswa,wali murid, masyara-kat dan lingkungannya dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai kebutuhan, hal ini akan membuang jauh citra sekolah yang dingin dan tidak berjiwa yang selalu dirancang oleh intelektual kota yang tidak membumi (tidak memahami masyarakat). Prinsip-prinsip inilah yang kemudian diturunkan dalam sebuah konsep pendidikan alternatif, bagaimana guru, pengelola, siswa, sarana penunjang dan lingkungannya saling berinteraksi.

Caption (Sumber Gambar)

Untuk masalah prestasi, sekolah Qaryah Thayyibah sendiri juga beberapa kali memperoleh prestasi yang membanggakan. Diantaranya menciptakan lagu yang dijadikan sebagai mars pendidikan kesetaraan tingkat nasional, dan banyak murid-murid dari sekolah ini yang telah menghasilkan karya-karya tulisan yang telah banyak dimuat di media-media cetak nasional. Bahkan beberapa murid telah menerbitkan karya-karya tulisannya dalam bentuk buku.

Bahruddin selaku penggagas sekolah ini mengaku sadar akan pentingnya ijazah yang didapatkan setelah mengikuti ujian nasional, karena ijazah tersebut penting untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun dia tidak memaksa anak-anak didiknya untuk mengikuti ujian nasional dan membiarkan mereka memutuskan sendiri untuk ikut ujian atau tidak. “Ada yang ikut (ujian nasional) ada yang tidak. Yang ikut dapat nilai UNAS terbaik. Yang tidak ikut, begitu lulus dari Qaryah Thayyibah langsung mendirikan sekolah dengan konsep yang sama di tempat lain.” ujarnya sambil tertawa.



Sumber : www.kbqt.org
Sumber Gambar Sampul :www.kbqt.org

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini