Lupa Sandi?

Kesan Sutradara Asal Yogyakarta Saat Karyanya Tampil di Festival Film Cannes 2016

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Kesan Sutradara Asal Yogyakarta Saat Karyanya Tampil di Festival Film Cannes 2016

Bulan Mei ini festival film terbesar di dunia Festival Film Cannes digelar. Berbagai film terbaik dari seluruh dunia ditayangkan di negeri menara Eiffel, Perancis. Indonesia pun ternyata tidak ketinggalan dalam perhelatan akbar tersebut. Pada tahun ini, terdapat dua film asal tanah air yang ditayangkan di Cannes. Salah satunya adalah Wregas Bhanuteja seorang sutradara asal Yogyakarta yang membawa filmnya ke panggung internasional dengan judul Prenjak: In The Year of Monkey.

Sutradara muda yang juga sempat mendapat nominasi film pendek terbaik dalam Berlinale 2015 tersebut bersanding dengan sutradara dari berbagai negara seperti Perancis, Hungaria, Kanada dan Yunani di gedung Theater Miramar, Cannes dalam rangkaian festival film pendek.

Seperti dilansir oleh ANTARA, film Prenjak diputar bersama empat film pendek lainnya yang berasa dari Perancis, Lenfance dun Chef karya Antoine de Bary, film Limbo dari Yunani karya Konstantina Kotzamani dan Oh What a Wonderful Feeling dari Kanada olen Francois Jaros, film Le Soldat Vierge dari Perancis yang disutradarai Erwan Le Duc serta film dari Hungaria Superbia olen Luca. Pengalaman tersebut bagi Wregas ternyata sangat berkesan. 

"Yes I came to Cannes for first time, I came from Indonesia and I am bring my story from my city Yogyakarta." ujar sutradara yang memang kerap menampilkan cerita-cerita Jawa dalam setiap karyanya itu. 

Prenjak sendiri merupakan sebuah nama burung yang kemudian diangkat menjadi judul dari film karya Wregas. Dirinya mengatakan bahwa film tersebut dibuat hanya dalam dua hari dan menghasilkan film berdurasi 12 menit. Hanya saja, film itu dibuat di tahun 2016 yang merupakan tahun monyet, itulah mengapa Wregas berharap ada keberuntungan dari film Prendjak. 

Usai pemutaran film Prenjak, Wregas Bhanuteja mengakui bahwa ia tidak menyangka film yang dibuatnya bisa masuk dalam festival film Cannes, meskipun pada saat pendaftaran waktunya sudah sangat mepet.

Baca juga: Dua Film Pendek Indonesia di Festival Film Cannes 2016

"Lega rasanya sudah primier di Cannes lagi meskipun ada rasa kekuatiran dan juga "deg-degkan", karena yang lihat banyak, mengenai tradisi Jawa apakah bisa diterima," ujar Wregas usai pemutaran film Prendjak yang dihadiri sekitar 300 penonton itu.

Wregas menjelaskan bahwa, film Prendjak karyanya banyak terinspirasi oleh fenomena yang terjadi di kota kelahirannya pada tahun 80-an. Melalui film Prendjak, pria kelahiran 20 Oktober 1992 tersebut menceritakan kisah tentang Diah (Rosa Winenggar), karyawan sebuah kafe yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, mengajak Jarwo (Yohanes Budyambara atau Yodi) berbicara di gudang belakang. Dia menawarkan Jarwo untuk melihat bagian tubuhnya menggunakan sebatang korek api seharga 10.000 rupiah.

Film Prenjak yang mengambil latar di Yogyakarta itu masuk dalam kategori "La Semaine de la Critique" dan akan diputar tiga kali. Pemenang untuk kategori ini akan rencananya akan diumumkan pada puncak acara yakni pada 20 Mei. Usai tampil di Cannes, film tersebut kabarnya akan diputar perdana di Indonesia pada bulan Juni mendatang.

"Bagi saya, berangkat ke sana sudah anugerah banget. Saya bisa belajar banyak," demikian Wregas yang telah merasakan berjalan di karpet merah yang menjadi impian setiap bintang film di dunia.

Sumber : ANTARA
Sumber Gambar Sampul : Wregas / Twitter.com

Label:
Yogyakarta
Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara