Lupa Sandi?

Saya Terus Dirayu oleh Si Nikmat "Kopi Mirna"

Imama Lavi Insani
Imama Lavi Insani
0 Komentar
Saya Terus Dirayu oleh Si Nikmat

Tiwus, Lestari, Perfecto..

Nama yang tak asing bagi penggemar karya Dee atau Dewi Lestari. Nama – nama tersebut adalah nama jenis kopi yang ada di salah satu karyanya, yaitu Filosofi Kopi, sebuah cerita pendek yang telah diangkat menjadi sebuah film (favorit saya :D).

Sebenarnya saya tak memilki ketertarikan khusus dengan kopi sebelum akhirnya membaca karya cerita pendek Dee dan menonton filmnya. Ternyata tiap kopi memiliki cerita sendiri yang menarik untuk disimak.

Kali ini saya berkunjung ke salah satu sudut Kota Semarang tepatnya di Jl.Sompok Baru 104. Tak pernah saya sangka sebelumnya saya akan menemui Tiwus, Lestari, dan Perfecto di kedai kopi mungil tersebut.

Baca Juga

Pertemuan saya hari itu sangat spesial pasalnya tak hanya bertemu dengan para tokoh Filosofi Kopi namun juga bertemu dengan seorang pria bernama Moelyono Soesilo. Siapakah Moelyono Soesilo? Jujur saya tak pernah mengenal beliau sebelumnya namun berdasarkan cerita dari salah seorang panitia BP2KS beliau yang kini tengah menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng adalah seorang advisor di film Filosofi Kopi.

Beliau yang menjadi penasehat pada kopi yang disajikan di film Filosofi Kopi. Tak heran bila di kedai kopi ini dijual pula kopi-kopi tersebut.

Moelyono Soesilo mengatakan bahwa pembangunan E-Coffee ini tidak hanya bertujuan sebagai kedai kopi saja namun juga sebagai tempat belajar beberapa ilmu per-kopi-an. E-Coffee sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Edu-Coffee.

Benar saja apa kata Moelyono Soesilo, kita dapat belajar tentang kopi di tempat ini dimulai dari cara penyajian. Sajian kopi di kedai ini dapat kita lihat prosesnya karena tata letak dapur kopi yang bersebelahan langsung dengan meja-meja pengunjung. Dengan sebuah meja yang cukup rendah, pengunjung dapat melihat langsung pembuatan kopi, mulai dari penggilingan, penyaringan hingga proses akhir menuangkan kopi dari teko ke cangkir-cangkir.

Saat itu ada dua barista yang sedang bekerja, seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki. Mereka terlihat sibuk untuk membuat kopi bagi kami yang berjumlah sekitar dua puluhan.

Saya pun datang mendekat, melihat pembuatan kopi untuk pertama kalinya. Barista perempuan yang berambut pendek terlihat cekatan dan terampil saat membuatkan kami kopi. Sang barista lelaki tak kalah cekatannya dengan berjalan mondar-mandir sambil membawa teko yang berisi kopi untuk kami nikmati.

Saya yang masih sangat awam di dunia per-kopi-an dengan lugu menanyakan hal yang mungkin sangat menjengkelkan bagi sang barista.  

“Cara pembuatan kopinya dari awal bagaimana ya?”

Lah dari tadi saya bikin ini ndak disimak apa dek

Saya nyimak kok tapi kan saya gak tau kok ujuk-ujuk kopinya dilewatkan filter dan langsung bisa diseduh, awalnya gimana ._.

Baiklah itu adalah percakapan di imajinasi saya saja

Sang barista akhirnya menjelaskan kepada saya.

“Awalnya siapkan kopi yang baru digiling sebelumnya, lalu siapkan paper filter dan basahi kertasnya, tujuannya adalah untuk menghilangkan aroma dari kertas itu sendiri. Lalu masukkan kopinya, kita pre-infuse dulu istilahnya, tujuannya untuk membasahi kopi. Lalu tunggu sekitar 30 detik hingga satu menit, kemudian tambahkan air sesuai keinginan, standar perbandingannya sekitar 1:15,1:12, perbandingannya itu sesuai keinginan.”

Saat menunggu selama 30 detik terlihat bubuk kopi yang baru digiling mulai bercampur dengan air lalu tetesan air mulai jatuh dari paper filter ke dalam teko kopi. Perlahan barista mulai menuangkan air  ke atas kertas filter dan kopi pun siap tersaji.

Moelyono Soesilo sedang meracik kopi di Vietnam Drip
Moelyono Soesilo sedang meracik kopi di Vietnam Drip

Saat saya sedang memerhatikan barista membuat kopi, Pak Moelyono Soesilo tiba-tiba mengambil sebuah gelas dengan gelas aluminium di atasnya, yang baru-baru ini saya ketahui itu adalah alat untuk membuat Kopi Vietnam atau biasanya disebut Vietnam Drip.

“Mari-mari kita coba kopi Mirna,” sambil tertawa renyah beliau mulai unjuk gigi membuat kopi vietnam yang namanya diganti dengan Kopi Mirna (Mirna, seorang perempuan yang meninggal setelah meminum Kopi Vietnam yang telah diberi racun sebelumnya oleh rekannya).

Perhatian saya pun beralih.

Tangan cekatan Pak Moelyono mulai beraksi. Tak lama kemudian cangkir pun terisi dan kopi vietnam siap tersaji.

“Imama coba ini, wenaak,”ujar salah satu teman saya yang sedari tadi juga memerhatikan dengan lekat proses pembuatan Kopi Vietnam.

Saya pun mengambil satu gelas Kopi Mirna eh Kopi Vietnam. Jadi, ini kopi yang menjadi minuman terakhir Mirna sebelum meninggal. Kata orang-orang Kopi Vietnam rasanya enak dan istimewa, mari saya buktikan sendiri.

Dengan mengucap doa berharap tak ada sianida yang tercampur di dalamnya, saya mulai meneguk perlahan Kopi Vietnam di gelas kertas berwarna putih.

Kopi Vietnam
Kopi Vietnam

Glek ... tegukan pertama untuk berkenalan dengan Kopi Vietnam.

Glek ... tegukan kedua, jadi begini rasanya Kopi Vietnam.

Glek ... tegukan ketiga, saya mulai merasakan keisimewaannya.

Glek ... tak ada tegukan lagi,yang tersisa hanyalah bongkahan es.

Saya ketagihan dengan Kopi Vietnam yang memang istimewa menurut saya. Ada dua rasa berbeda yang saya rasakan. Pertama, rasa pahit di lidah saat pertama kali mulai mengecap rasa. Kedua rasa manis yang terasa ketika sudah masuk ke dalam tenggorokan. Perpaduan yang pas antara pahit dan manis membuat saya berkeinginan mengambil gelas kedua. Namun hmm yang lain sudah mengambil Kopi Vietnam gak ya?

Saya melihat teman saya yang lain, mereka nampak nyaman duduk dan bersenda gurau hanya beberapa teman saja yang berdiri mengelilingi Pak Moelyono dengan kopi Mirna. Aihh saya kok jadi menamai Kopi Mirna bukan Kopi Vietnam ._.

Terlihat tangan Pak Moelyono mulai beraksi lagi dengan Vietnam Drip. Sepertinya Pak Moelyono akan membuat Kopi Mir.. eh Kopi Vietnam lagi :D Saya pun bersabar menunggu untuk gelas kedua.

Tak butuh waktu lama untuk Pak Moelyono membuatnya, kemudian sedikit demi sedikit beliau menuangkan cangkir beling yang berisi Kopi Vietnam penuh ke dalam gelas kertas yang masih kosong.

Lalu setelah saya yakin tak ada lagi yang mengambil Kopi Vietnam yang terhidang di meja aluminium barista saya mengambil gelas kedua.

Kali ini saya akan meneguk dengan pelan, batin saya.

Namun sama seperti gelas pertama, setelah berupaya memelankan tegukan tetap saja dengan tiga tegukan isi dalam gelas langsung habis seketika.

Rasanya memang istimewa, pantas saja kalau banyak yang suka dan menjadikannya kopi favorit, termasuk saya :D

Total tiga gelas yang sudah saya habiskan di kedai ini. Satu gelas kopi hitam yang rasanya sangat asam (karena saya sengaja tak menambahkan gula ke dalamnya) serta dua gelas Kopi Vietnam dengan perpaduan pas antara pahit dan manis yang dibuat langsung oleh Pak Moelyono.

Ketiga gelas kopi tadi memiliki kesamaan rasa yaitu pahit yang melekat dalam indera pengecap saya. Rasa yang tak akan pernah hilang dari si kopi sendiri.

Entah mantra magis apa yang diucap oleh sang barista dan Pak Moelyono, hingga detik ini saya tak bisa melupakan rasa khas kopi itu dan seolah-olah saya terus dirayu untuk datang kembali menikmati sajian kopi nikmat tersebut.

Tulisan ini dibuat sewaktu mengikuti kegiatan famtrip #SemarangHebat yang dilaksanakan oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS).



Sumber : www.imalavins.com 
Sumber Gambar Sampul : www.imalavins.com 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IMAMA LAVI INSANI

Hidup sederhana yang penting bermanfaat :D

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara