Lupa Sandi?

Dan Jogja pun Menjadi Saksi

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Dan Jogja pun Menjadi Saksi

Saya selalu terkesima ketika sedang mengantri di counter imigrasi di bandara Changi, Singapura. Begitu keluar dari pesawat dan memasuki gedung terminal yang megah itu, para penumpang akan segera berdiri mengantri menunggu giliran paspor-nya dicap oleh petugas imigrasi. Antriannya begitu panjang. Dan (sepertinya) selalu panjang. Bahkan saya pernah masuk ke negara kota itu pada jam 1 malam hari...dan antrian orang-orang asing yang ingin memasuki Singapura masih begitu panjang...penuh, meski sudah dilayani banyak counter. 

Anda mungkin akan beranggapan "ah, maklum saja. Bandaranya cuman satu, dan negara itu adalah negara transit". 

Memang benar,  Singapura adalah salah satu hub penerbangan paling penting di dunia, dan memang bandara komersialnya hanya satu. Namun, banyaknya pengunjung dari mancanegara ke negeri yang 'hanya' seluas 1/5 kabupaten Malang ini bukanlah sesuatu yang biasa, dan taken for granted

Ilustrasi antrian di bandara

Baca Juga
 

Singapura sudah menginvestasikan semua hal dari sejak lama untuk mengundang para pengunjung dari seluruh dunia, datang ke negara tersebut, senang dan nyaman ke negara tersebut, dan berniat kembali ke negara tersebut. 

Dan tahun lalu, negara berpenduduk 5 juta jiwa tersebut mampu mendatangkan 16 juta turis mancanegara. Sebuah angka yang tergolong besar, mengingat Indonesia 'baru' bisa mendatangkan 10 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Indonesia bisa saja mendatangkan jutaan turis tambahan secara besar-besaran., misalnya dengan membangun jembatan Singapura -Batam - Riau, misalnya. Tapi tentu itu bukan pilihan yang realistis, selain faktor biaya...juga faktor-faktor ekonomis dan non ekonomis lain yang ..kurang menguntungkan Indonesia. 

Saya membayangkan cara lain yang lebih 'ekonomis', dan fun (menyenangkan). Yakni...bagaimana jika kita, anak anak muda Indonesia yang suka berkelana di sosial media, ikut serta mendatangkan para sahabat-sahabat kita dari luar negara, menuju Indonesia? 

Kota tua Jakarta | Jakartatraveller.com
Kota tua Jakarta | Jakartatraveller.com
 

Bayangkan...ada sekitar 80 juta pengguna sosial media di Indonesia...jika saja ada 5 % dari para pengguna itu mengundang kawan (kawan) mancanegaranya datang ke Indonesia, dan mengeksplorasi (bukan mengeksploitasi) kedahsyatan Indonesia, mengenalkan cara membuat gudeg, atau melihat teknik anyam bambu, atau membajak sawah, atau keunikan-keunikan lain Indonesia, selain juga menikmati alam Indonesia tentunya.  

Ide sederhana ini mulai saya fikirkan sejak setidakanya 2 tahun lalu, mengingat begitu jauhnya gap antara jumlah wisman yang datang ke Indonesia, dengan mereka yang datang ke Thailand (29.9 juta), Malaysia (26 juta), dan Singapura (16 juta). Sementara di sisi lain, tak ada langkah-langkah breaktrough dari elemen-elemen bidang pariwisata untuk menambahnya secaera signifikan. 

Hari ini, Jogja menjadi saksi, ide sederhana ini diluncurkan. Iya...kini kita bisa mengundang kawan-kawan kita di luar sana...ke negeri ini. Platform bernama "1 man 1 tourist" ini meluncur manis di Jogja Digital Valley sore tadi. Peluncuran ini terselanggara karena kerjasama Good News From Indonesia dan MediaWave. Dan saya mengundang kawan-kawan semua untuk ikut serta mengembangkan mimpi besar ini, bersama-sama. 

1Man 1Tourist

 

1man1tourist.com

FB : 1 man 1 tourist

Twitter : 1man1tourist

IG : 1man.1tourist

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas