Film Karya Sineas Yogyakarta Menjadi Film Indonesia Pertama Yang Menang di Cannes

Film Karya Sineas Yogyakarta Menjadi Film Indonesia Pertama Yang Menang di Cannes
info gambar utama

Film karya anak bangsa raih prestasi gemilang di Cannes, Perancis. Melalui sebuah karya sineas asal Yogyakarta, film berjudul Prenjak: In the Year of Monkey dinobatkan sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016. Film yang menceritakan tentang kemanusiaan tersebut untuk pertama kalinya menempatkan film Indonesia sebagai pemenang dalam festival film di Cannes.

Seperti di lansir BBC Indonesia, Wregas Bhanuteja sang sutradara mengaku kegirangan, "Sungguh tak disangka."

"Saya merasa bahwa ini adalah energi yang sangat besar sekali bagi saya. Saya berharap agar api ini tetap menyala. Dan ketika saya pulang ke indonesi, saya akan mulai membuat film lagi dan lagi," ujar pria 22 tahun itu.

— Wregas Bhanuteja (@Wregas) 20 May 2016

Film Prenjak meraih Le Prix Découverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompetisi. Film-film tersebut merupakan yang terbaik dari 1500 lebih film pendek dari seluruh dunia yang dikirimkan pada panitia festival.

Prenjak mengalahkan sembilan film unggulan lain: Arnie karya Rina B. Tsou (Taiwan - Filipina), Ascensão (Pedro Peralta, Portugal), Campo de víboras (Cristèle Alves Meira, Portugal), Delusion Is Redemption to Those in Distress (O Delírio é redenção dos aflitos, Fellipe Fernandes, Brasil), L’Enfance d’un chef (Antoine de Bary, Prancis), Limbo (Konstantina Kotzamani, Yunani) Oh what a wonderful feeling (François Jaros, KCanada), Le Soldat vierge (Erwan Le Duc, Prancis), dan Superbia (Luca Tóth, Hungaria).

Direktur Artistik festival Semaine de la Critique 2016 , Charles Tesson, nyatanya memang telah memuji Prenjak sedari awal even berlangsung. Menurutnya Prenjak merupakan film yang memiliki kedalaman puitik, filmnya kelam dan bengal. Ibarat mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api.

Predikat tersebut tampaknya memant tidak berlebihan. Film yang digarap Wregas hanya dalam dua hari tersebut menampilkan pesan yang sangat kuat dan mungkin kejujuran meski cukup vulgar. Prenjak menceritakan bahwa Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis desa yang putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 perbatang, untuk dinyalakan dan digunakan mengintip alat kelaminnya.

Film sepanjang 12 menit ini adalah film ketiga Wregas yang berlaga di festival internasional, setelah 'Lembusura' di Festival Film Berlinale di tahun 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016.

Baca juga: Kesan Sutradara Asal Yogyakarta Saat Karyanya Tampil di Festival Film Cannes 2016

La Semaine de La Critique adalah salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei. Film Indonesia yang pernah dipilih di sini adalah Tjut Nja' Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014). Sedangkan festival independen lainnya adalah Quinzaine des Realisateurs atau Directors Fortnight.

Festival pekan kritikus La Semaine mulai diselenggarakan tahun 1962 oleh serikat kritikus dan jurnalis Prancis, yang menganggap Festival Cannes sudah terlalu mapan dan berorientasi hanya pada nama-nama besar dan sudah mengabaikan pencapaian artistik. Beberapa tahun kemudian langkah ini diikuti oleh serikat sutradara Prancis yang menyelenggarakan Quinzaine des Realisateurs.

Kedua festival independen ini didedikasikan pada karya-karya film yang tidak biasa dari seluruh dunia, keduanya diselenggarakan berbarengan dengan dengan Festival Film Internasional Cannes. Film-film yang berkompetisi di La Semaine dan Quinzaine juga berkompetisi untuk kategori-kategori tertentu Festival Cannes, seperti Camera d'or untuk film pertama terbaik.

Sumber : BBC Indonesia
Sumber Gambar Sampul : bbc.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini