Kelok Sungai, Matahari Terbit dan Hijaunya Imogiri dari Puncak Kebun Buah Mangunan

Kelok Sungai, Matahari Terbit dan Hijaunya Imogiri dari Puncak Kebun Buah Mangunan
info gambar utama

Melihat matahari terbit, selalu menjadi sesuatu yang istimewa dimanapun itu. Itulah mengapa dalam Jelajah Indonesia di Yogyakarta kali ini juga tetap bersikeras untuk mengejar terbitnya sang surya dari sisi timur Yogyakarta dan itu bisa dilakukan di Mangunan, Imogiri.

Sayangnya, rencana tinggallah rencana. Kami berangkat sejenak setelah subuh dan secepat mungkin menuju lokasi yang dituju namun tampaknya sang surya tidak mengijinkan kami untuk melihat keindahannya pagi itu. Kedatangan tim Jelajah Indonesia terlambat dan matahari telah tinggi di sebelah timur. Mestki begitu sepertinya tidak ada yang perlu disesali. Di kebun buah mangunan tempat kami berada saat itu, terlihat pemandangan yang begitu indah diterpa sinar matahari. Kawasan Imogiri yang masih hijau tersaji di depan kami.

Hijaunya perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan (Foto: Bagus DR/GNFI)
info gambar

Di mulai dari pintu masuk Kebun Buah Mangunan yang masih banyak pepohononan besar, desa yang asri, kemudian masuk ke wilayah milik perhutani. Cukup murah retribusi yang harus dibayarkan untuk masuk ke wilayah kebun buah, sekitar 6000 rupiah untuk setiap orang, sudah termasuk parkir.

Pada awalnya kami sangsi untuk bisa membawa armada Citilink Classic Cars kepuncak kebun buah, sebab sedari wilayah pintu masuk kebun buah mangunan, jalan akses ke puncak sangatlah terjal. Tidak hanya itu jalurnya yang cukup panjang pun hanya cukup untuk satu mobil. Sehingga harus bergantian dari puncak hingga ke wilayah pintu masuk. Meski diliputi rasa khawatir namun sopir kami yakin mobil tua ini bisa mencapainya. Dan voila, siapa yang menyangka ada mobil Opel Kapitan Tahun 1962 yang nangkring di atas kebun buah mangunan. Sontak saja banyak pengunjung yang berfoto-foto dengan mobil biru itu.

Citilink Classic Cars, Opel Kapitan (Foto: Bagus DR/GNFI)
info gambar
Citilink Classic Cars, Opel Kapitan (Foto: Bagus DR/GNFI)
info gambar

Turun dari parkiran, sudah nampak lanskap Imogiri yang memesona itu. Hijau dan terlihat menenangkan. Ditambah pula terdapat semacan panggung yang dibangun menempel pada pohon-pohon untuk bisa menikmatinya. Tidak hanya satu, namun ada sekitar 10 panggung yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Tidak jauh dari lokasi melihat sunrise juga terdapat warung-warung makanan yang siap mengisi perut wisatawan.

Hal istimewa yang saya pribadi rasakan dari Kebun Buah Mangunan adalah, titik tonton matahari terbitnya terbilang unik. Bila di kawasan Bromo, di puncak Penanjakan, kawan akan melihat hamparan pasir. Di Mangunan, titik Gardu Panjang namanya akan terlihat lanskap hijau dengan sebuah sungai yang meliuk. Sungai tersebut bernama sungai oya, dari kejauhan terlihat juga jembatan kuning yang melintasi sungai itu yang sering diperbincangkan di media sosial.

Sayangnya memang, kami tidak berhasil untuk mencapai lokasi tersebut tepat waktu. Sehingga yang terlihat hanyalah hamparan lanskap hijau yang saat itu sedang diselimuti kabut putih. Bagi saya hal itu cukup aneh mengingat lokasi Kebun Buah Mangunan tidaklah begitu tinggi. Suhu puncaknya pun tidak terlalu "menusuk" seperti yang dimiliki Penanjakan. Namun tetap saja pemandangan Imogiri yang berselimut kabut adalah sesuatu yang menakjubkan.

Sejatinya, lokasi Kebun Buah Mangunan adalah semacam lokasi wisata petik buah. Namun saat kami berkunjung, ternyata buah-buah sedang tidak musim. Berbagai jenis kebun buah tersaji di lokasi ini, termasuk sang raja buah, Durian. Bagi kawan yang ingin menikmati buah di sini, sebaiknya memerkirakan kapan musim buah akan terjadi.

Perjalanan tim Jelajah Indonesia belumlah berakhir, selanjutnya dari kebun buah ini perjalanan akan berlanjut menuju sebuah kampung permakultur yang lokasinya tidak jauh dari Kebun Buah Mangunan. Kampung Bumi Langit namanya, kampung yang dibina oleh seorang mantan pemain teater di studio teater legendaris, Bengkel Teater W.S Rendra.

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : Bagus DR/GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini