Pergi Ke Jogja adalah Caraku untuk Ngetawain Kesibukan Orang-orang di Kota...

Pergi Ke Jogja adalah Caraku untuk Ngetawain Kesibukan Orang-orang di Kota...
info gambar utama

“Pergi ke Yogya adalah caraku untuk ngetawain kesibukan orang-orang Jakarta” -Sudjiwo Tedjo-

Ke Jogja, ya kembali ke Jogja. Guyon nyentrik ala Presiden Jancukers itu memang ada benarnya, ya walaupun saya bukan orang yang kesehariannya beraktifitas di Jakarta namun Surabaya (tempat saat ini) juga punya tipikal yang sama dengan Jakarta. Sibuk, kadang macet, kadang panas, riuh dan ramai.

Jogja membuat kita seperti menghilang, hanyut terbawa arus sungai bernama istimewa, hanyut dalam keindahan dan romantisnya, hanyut dan menghilang dari kesibukan-kesibukan kita di Kota.

Jogja adalah tempat pas untuk kita cemburu. Cemburu pada kesejukan, keguyuban, dan keramahan setiap orang yang ada di dalamnya. Cemburu pada “Monggo mas, pak, amit njih bu” yang berbalas dengan sebuah sapa dan senyum yang merekah. Bukankah di Kota kita jarang menemukannya ?, terlebih bagi kita yang (maaf) tiap hari berkencan dengan kesibukan di dalam kamar-kamar berpenyejuk ruangan.

Jogja adalah Kasampurnaning Ngurip, tempat terbaik untuk menepi, mencari dan mengisi kembali sang “aku” dengan kerendahan, dan “Pupuh” budi pekerti.

Jogja adalah sebaik-baiknya untuk kita kembali dalam Shaad : “Manunggaling Kawula Gusti”, menyepi dan merefleksikan kembali tingkah, polah, lelakon selama berpendar menjadi manusia.

Jika anda hanya pernah bertolak ke Jogja saat paket liburan semasa SD-SMP-SMA, maka sisihkanlah waktu, pulanglah ke Jogja dan belajarlah menertawakan kesibukan-kesibukan di Kota, selama di Jogja.



Sumber Gambar Sampul : Sumur Gumuling, Komplek Tamansari Jogja/Kris

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini