Berhasil Diujicoba, ‘Helm’ Pembasmi Kanker Menarik Perhatian Dunia

Berhasil Diujicoba, ‘Helm’ Pembasmi Kanker Menarik Perhatian Dunia
info gambar utama
Bapak Warsito Bersama Alat Temuannya
info gambar

Kanker adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja, tak memandang berapa pun usianya. Pada awalnya, bisa dibilang cukup sulit dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama untuk mematikan pertumbuhan sel-sel yang menggerogoti tubuh ini. Untung saja, dengan adanya kemajuan teknologi dan penemuan-penemuan mutakhir makin menyikap tirai bagaimana cara melawan dan mematikan sel kanker.

Bukan negara barat saja yang punya andil dalam pengembangan teknologi pembasmian sel-sel kanker, ternyata melalui tangan anak negeri lah alat pembasmi kanker otak tercipta. Sepintas alat ini menyerupai pelindung kepala yang memiliki puluhan lubang konektor yang tersambung ke stasiun pengolah data yang terhubung langsung ke komputer. Warsito P Taruno lulusan Shizuoka University, dialah sosok besar dibalik penemuan alat pembasmi kanker otak yang disinyalir dapat menekan biaya pengobatan pengidap kanker otak dan meminimalisir paparan radiasi tinggi dari pengobatan kanker pada umumnya.

“Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi. Setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak,” kata Warsito yang juga menjabat sebagai ketua umum MITI (Masyarakat ilmuwan dan Teknologi Indonesia).

Cara kerja alat yang berhasil dikembangkan MITI bersama dengan CTech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology, menerapkan metode radiasi listrik statis. Penemuan itu juga sudah menjalani serangkaian uji coba pada pasien penderita kanker otak kecil.

Alat Pembasmi Kanker Otak
info gambar

Seperti yang diberitakan oleh Antaranews.com, dalam seminar yang diadakan di Universitas Sumatra Utara (USU) beliau juga mengutarakan kondisi pasien kanker otak kecil sebelum menjalani terapi menggunakan alat pembasmi kanker otak.

"Karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuh, maka pasien sudah tak bisa menggerakkan seluruh ototnya. Dia hanya bisa terbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya," imbuh pria asal Karanganyar.

Setelah bertahap menjalani serangkaian terapi selama 2 bulan, tambahnya, pasien sudah dapat menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, termasuk tersenyum. Kisah ‘ajaib’ ini berhasil dipungkasi dengan kesembuhan total pasien.

"Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit," ungkapnya.

Tahun 2012 adalah periode waktu yang mengharukan bagi Bapak Warsito, karena pada tahun tersebut karyanya yang diberi nama ECCT (Electro-Capacitive Cancer Therapy) telah memiliki hak paten. Dunia internasional pun menyoroti buah karyanya, sebut saja di antaranya adalah The University of King Abdulaziz, Saudi Arabia, departemen energi Amerika, dan bahkan NASA, namun nampaknya nasib karya anak bangsa yang satu ini kurang mendapat apresiasi pemerintah.

Walaupun kurang mendapat perhatian pemerintah, jelas sekali apa yang sudah Bapak Warsito curahkan dalam risetnya selama kurun waktu 12 tahun adalah wujud cinta dan dedikasi yang luar biasa terhadap tanah air. Jangan sampai penemuan baru yang berpotensi mengubah nasib banyak orang ini hilang begitu saja dan diberdayakan oleh bangsa lain. Ayo, dukung terus karya anak bangsa, jangan berhenti berkarya, mari bersama harumkan nama Indonesia di puncak tangga dunia. Maju terus karya anak bangsa.




Sumber : Berbagai Sumber
Sumber Gambar Sampul : https://m.infospesial.net/58730/temuannya-tak-dianggap-di-indonesia-warsito-tulis-surat-terbuka/

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini