9 Sembilan Pelabuhan Baru ini Siap Majukan Perekonomian NTT

9 Sembilan Pelabuhan Baru ini Siap Majukan Perekonomian NTT
info gambar utama

Program tol laut yang dijalankan oleh pemerintah terus berlangsung. Tidak tanggung-tanggung, 9 pelabuhan laut baru langsung diresmikan pada Selasa 31/5 yang lalu di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peresmian tersebut dilakukan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Sugiharto.

Dimana sajakah pelabuhan yang dibangun tersebut? Seperti dilansir Kompas.com berikut adalah 9 pelabuhan yang nantinya akan banyak berfungsi sebagai kemudahan mobilitas khususnya logistik di Provinsi paling selatan Republik Indonesia tersebut.

1. Pelabuhan Marapokot berada di kabupaten Nagekeo, dibangun selama sepuluh tahun, yakni sejak tahun 2005 hingga 2015.

Dengan total anggaran yang dikucurkan sekitar Rp 43 miliar, pelabuhan ini memiliki dermaga sepanjang 157 meter, trestle sebanyak 2 unit dengan panjang masing-masing 77 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga.

Pelabuhan Marapokot juga dapat disandari kapal berukuran hingga 3000 DWT.

2. Pelabuhan Laut Lamakera. Pembangunannya dimulai tahun 2011 hingga 2013 dengan total anggaran Rp 28 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 115 meter, trestle sepanjang 18 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapatmengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

3. Pelabuhan Laut Waiwerang. Pembangunan dimulai tahun 2011 hingga 2013 dengan total anggaran Rp 28 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 100 meter, trestle sepanjang 30 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 750 DWT.

4. Pelabuhan Laut Komodo. Pembangunan dikerjakan sejak 2008 hingga 2012 dengan total anggaran Rp 74 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 125 meter, trestle sepanjang 231 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 5000 DWT.

Sekjen Kementerian Perhubungan Sugiharto saat meresmikan 9 pelabuhan di Nusa Tenggara Timur (NTT) (Foto: Dok. Kemenhub)
info gambar

5. Pelabuhan Laut Terong. Pembangunan direalisasikan selama dua tahun sejak 2011 hingga 2013 dengan total dana Rp 28 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 95 meter, trestle sepanjang 30 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos aga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

6. Pelabuhan Laut Wuring. Realisasi pembangunan selama tiga tahun 2008 -2011 dengan total anggaran Rp 20 miliar.

Output yang dihasilkan dermaga sepanjang 70 meter, trestle sepanjang 42 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

7. Pelabuhan Laut Palue. Pembangunan diawali tahun 2010 dan rampung tahun 2012 dengan total anggaran Rp 21 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 110 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

8. Pelabuhan Laut Naikliu. Pembangunan rampung pada 2013 dan menghabiskan dana Rp 26 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 100 meter, trestle sepanjang 20 meter, terminal penumpang, kantor, gudang dan pos jaga untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

9. Pelabuhan Laut Kolbano. Pembangunan dikerjakan selama tiga tahun sejak 2012 hingga 2015 dengan biaya Rp 106 miliar.

Output yang dihasilkan berupa dermaga sepanjang 70 meter, trestle sepanjang 57 meter, area darat 100x72 meter persegi untuk dapat mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran maksimal 1000 DWT.

Sugiharto mengatakan, peresmian 9 pelabuhan ini merupakan perwujudan program membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah–daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu, infrastruktur pelabuhan ini berfungsi sebagai upaya peningkatan kapasitas pelabuhan dan konektifitas pelayaran antar wilayah yang menjadi perhatian Kementerian Perhubungan. Sebab selama ini, kurangnya akses daerah yang efisien menyebabkan kesulitan mobilitas termasuk terjadinya peningkatan harga akibat biaya logistik yang tinggi.

Sumber : Kompas.com
Sumber Gambar Sampul : edyraguapo.blogspot.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini