Lupa Sandi?

Mikul Duwur, Mendhem Jero: Bung Karno, Pak Harto, dan Penghargaan Kita

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Mikul Duwur, Mendhem Jero: Bung Karno, Pak Harto, dan Penghargaan Kita

Suatu hari di bulan September 1961, di Kota Belgrade, Yugoslavia, para kepala negara dari beberapa negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin berkumpul untuk membahas pembentukan Gerakan Non Blok (GNB). Kala itu dunia sedang ada di ambang perpecahan karena perbedaaan ideologi antara negara-negara kapitalis dan sosialis, yang dimotori Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Selain itu, masih ada juga beberapa negara terutama di Asia dan Afrika yang belum meraih kemerdekaan dari penjajahan barat. Pembahasan mengenai pembentukan Gerakan Non Blok ini begitu bertele-tele, dan terancam tidak mencapai kata sepakat. Pada pertemuan tersebut, seluruh kepala negara diberi kesempatan untuk memberikan pandangan umum, didengarkan oleh seluruh seluruh peserta. Negara-negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin bergantian memberikan pandangannya mengenai berbagai hal terkait kondisi dunia saat itu. Kala itu, di Asia dan Afrika, ada 3 nama kepala negara yang begitu populer di Asia dan Afrika, ketiganya dianggap mewakili suara dan kepentingan negara-negara Asia Afrika. Mereka adalah Soekarno (Indonesia), Jawarharlal Nehru (India), dan Gamal Abdul Nasser (Mesir).

Soekarno (frankgo deviantart)
Soekarno (frankgo deviantart)

Sebelum tiba giliran Indonesia untuk memberikan pandangan umum, Bung Karno berjalan ke kursi utusan negara India dengan ditatap oleh puluhan wakil dari negara lain, Bung Karno berbisik pada Jawaharlal Nehru. Entah apa yang dibisikkan, Nehru kemudian mengangguk sambil tersenyum. Nehru menyiratkan tanda kesetujuanya pada ide Bung Karno. Dari kursi Nehru, Bung Karno berjalan ke kursi Gamal Abdul Nasser, wakil dari Mesir. Kembali Bung Karno berbisik yang disambut anggukan senang Nasser.

Kejadian ini memicu bisik-bisik dan spekulasi di kalangan wakil-wakil negara Asia dan Afrika yang hadir, mereka meyakini bahwa 2 negara besar di Asia dan Afrika, India dan Mesir menyetujui usul Soekarno akan pembentukan GNB. Sesaat setelah Bung Karno memberikan pandangannya, seluruh perwakilan negara-negara yang hadir melakukan standing ovation memberikan aplaus tanda setuju atas gagasan Bung Karno. Mereka meyakini usulan tersebut sebelumnya telah disetujui oleh Nehru dan Nasser.

Baca Juga

Hal inilah yang akhirnya memicu kesepakatan lahirnya Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement) Semua tentu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dibisikkan oleh Bung Karno pada kedua pemimpin besar Asia tersebut. Hal itu terjawab dari buku biografi Soekarno yang ditulis oleh Guntur Soekarnoputra "Bung Karno, Bapakku, Kawanku, dan Guruku". Rupanya Bung Karno mengatakan kepada Nasser dan Nehru, "Yang Mulia, sepertinya sidang hari ini sangat melelahkan, bagaimana kalau nanti kita bertemu untuk makan malam bersama?’"

Kedua tokoh Asia yang dibisiki tersebut tentu tidak menolak dan akhirnya mengangguk, yang oleh wakil dari negara lain ditafsirkan sebagai sikap setuju atas gagasan Bung Karno.

Enam tahun sebelumnya, Bung Karno juga membawa Indonesia menjadi buah bibir negara-negara di dunia, terutama Asia dan Afrika, setelah memprakarsai Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung yang menjadi landasan dan inspirasi bagi banyak negara-negara di Asia dan Afrika yang belum merdeka untuk mengejar dan memperjuangkan kemerdekaannya.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada bulan Desember 1987, hal menarik lain terjadi. Waktu akan berlangsung KTT ASEAN di Filipina (14-15 Desember 1987) dan situasi keamanan dianggap rawan, banyak pemimpin-pemimpin ASEAN yang terkesan ogah datang. Maklum, Filipina waktu itu berada ditengah kemelut politik karena pemberontakan dan ancaman kudeta oleh Kolonel Gregorio Gringo Honassan terhadap presiden baru Corazon Aquino.

Pak Harto (merdeka.com)
Pak Harto (merdeka.com)

Para pemimpin ASEAN tak akan pernah lupa Pak Harto-lah yang memutuskan untuk tetap menyelenggarakan KTT III ASEAN di Manila, 14-15 Desember 1987. Langkah Pak Harto ini untuk menunjukkan dukungan ASEAN kepada Presiden Corry Aquino, di saat para pemimpin ASEAN lainnya ragu untuk hadir.

Pak Harto juga menjanjikan jaminan keamanan dengan mengirimkan satuan-satuan tempur ABRI, termasuk menyiagakan empat unit pengebom tempur A-4 Skyhawk TNI AU di Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado, demi mengamankan konferensi di Philippines International Convention Center, yang menghadap langsung ke Teluk Manila. Para pemimpin ASEAN kemudian menunjukkan kesetujuannya untuk datang ke Manila.

Filipina cukup berhutang budi pada Pak Harto. Karena di bawah arahannya pula, pemerintah Filipina bisa berdamai dengan pemberontak Moro National Liberation Front (MNLF) di Filipina Selatan, melalui rangkaian perundingan di Jakarta selama beberapa tahun, sehingga kelompok ini mendapat otonomi dan meninggalkan gagasan merdeka.

Banyak lagi cerita-cerita yang menggugah hati saya ketika membaca kisah-kisah tentang kontribusi Bung Karno dan Pak Harto pada bangsa ini.

Membaca seluk beluk mereka, saya menyimpulkan keduanya mempunyai banyak kesamaan, dan kesamaan yang paling mendasar adalah kecintaannya yang begitu mendalam kepada bangsa dan negara. Bung Karno dan Pak Harto adalah sama-sama pejuang kemerdekaan, Bung Karno di ranah diplomasi, sementara Pak Harto berjuang di medan perang. Jasa keduanya tak terperikan oleh saya yang awam ini.

Bung Karno dan Pak Harto juga memberikan bukti nyata bahwa keduanya ingin agar Indonesia tak hanya bermain di dalam negeri, tapi juga dihormati dan terpandang di dunia Internasional. Bung Karno dan Pak Harto adalah dua pemimpin Indonesia yang menggores catatan sejarah, bagi Indonesia maupun negara-negara lain. Seolah mereka memang harus hadir pada zaman yang membutuhkan kepemimpinan sesuai dengan karakter mereka masing-masing.

Bung Karno, membawa Indonesia ke Kemerdekaan (tempo.co)
Bung Karno, membawa Indonesia ke Kemerdekaan (tempo.co)

Bung Karno memandu rakyat menuju kemerdekaan dan melewati masa-masa awal kemelut pasca kemerdekaan. Soeharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern. Soekarno menjadikan Indonesia sebagai kekuatan regional yang dihormati, Soeharto menjadikan Indonesia negara yang dipandang secara ekonomi. Soekarno mengajak negara-negara terjajah menggalang kekuatan perlawanan. Soeharto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang saling bertikai menjadi akur dan solid dalam ASEAN.

Pak Harto, mengisi kemerdekaan (blogspot)
Pak Harto, mengisi kemerdekaan (blogspot)

Entah kenapa, makin ke sini, makin banyak orang yang seolah-olah tahu semua hal, dan selalu melihat kesalahan-kesalahan keduanya saja. Dari membaca sosial media, mereka kemudian memberikan penghakiman tanpa pandang bulu pada dua tokoh besar bangsa Indonesia tersebut.

Jasa dan pengorbanan, serta prestasi keduanya jarang yang diulas, untuk dinilai secara adil dan seimbang oleh generasi masa kini. Generasi muda saat ini, yang berumur kurang dari 20-an tahun, hanya mengetahui keburukan-keburukan dan kegagalan pemerintahan masa lalu. Mereka tidak diberi kesempatan untuk menimbang, mempelajari, dan mengambil pelajaran dari pemerintahan-pemerintahan masa lalu, dengan adil, dengan akurat, dan seimbang.

Hal yang sama terjadi selama masa pemerintah baru mulai berkuasa pada Oktober 2014, dan sudah berjalan 1.5 tahun, kita melihat betapa sering pemerintahan sebelumnya (era Presiden SBY) disalah-salahkan, dikurang-kurangkan, seolah tak ada sedikitpun hal baik dan besar yang dicapai beliau selama 10 tahun berkuasa. Saya rasa, hal yang sama akan terjadi saat pemerintahan yang sekarang, diganti dengan pemerintahan baru nanti. 

Sampai kapan lingkaran gelap dan hitam ini akan terus terjadi? 

Saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan saya dari Inggris mengenai Margaret Tatcher ketika beliau wafat pada tahun 2013 lalu. Perdebatan kami memang tidak lepas dari tindak tanduk, pencapaian, kegagalan, dan segala hal mengenai Tatcher ketika masih menjabat menjadi PM Inggris pada 1979-1990. Ternyata Tactcher juga banyak plus dan minusnya. Plusnya kita mungkin banyak yang sudah tahu, minusnya antara lain adalah kebijakannya mendukung politik apartheid di Afrika Selatan dan Australia.

Tentu kebijakan-kebijakan ekonominya juga memicu banyak kontra. Namun, apapun itu, dengan segala sisi positif dan negatifnya, oleh rakyat Inggris (dan bahkan dunia) Tatcher tetap dihormati sebagai pemimpin bangsa yang mencintai bangsanya, dan berjuang untuk kepentingan bangsanya. Hal yang sama berlaku untuk Ronald Reagan yang begitu dihormati di AS dan dunia, meski tentu dengan segala plus dan minusnya.

Entah kapan kita bisa meniru Inggris dan AS yang menempatkan pemimpin bangsa dalam kedudukan yang dihormati, terlepas dari segala kesalahannya. Bung Karno dan Pak Harto, sayangnya, hidup di sebuah bangsa yang seperti mudah lupa, lebih suka melihat "separuh gelasnya kosong", dibanding separuh gelasnya isi. Dalam kapasitas sebagai manusia biasa, Bung Karno dan Pak Harto tentu tidak dapat lepas dari kekurangan, kekhilafan dan kesalahan yang pernah diperbuatnya ataupun yang dituduhkan kepada mereka.

Bagi saya, kekurangan di era Bung Karno, pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, tugas kita adalah melengkapinya. Pun kesalahan yang dilakukan mereka di masa lalu, adalah hikmah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mikul Dhuwur Mendhem Jero "memikul tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam", sebuah filosofi Jawa yang begitu dalam artinya. Dan ternyata, Inggris dan Amerika lah justru yang sukses melaksanakan filosofi itu. 

Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur,  sudah tidak ada lagi bersama kita. Daripada terus mengungkit kesalahan dan kekurangan ketiganya, juga pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, ada baiknya kita mengambil pelajaran dari masa lalu, untuk tidak mengulangi kekhilafan, kesalahan dan kekurangan yang pernah dilakukan, dan meneruskan cita-cita yang belum tercapai di masa mereka, dengan mempertahankan pencapaian, dan kejayaan mereka. Inilah menurut saya ruh mikul dhuwur mendhem jero yang utama. Bukan kultus individu membabi buta, pun bukan pula caci maki tanpa henti.

Selamat beristirahat dengan tenang, Bung Karno, Pak Harto, dan Gus Dur.

Editor yf/gnfi

Pilih BanggaBangga52%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi36%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

"Jika Perlu, Saya akan Bangkit dari Kubur"

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

"...Saya akan bangkit dari kubur"

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

Ini dia Wonder Woman ala Indonesia

Indah Gilang Pusparani2 bulan yang lalu

Hari itu, Seluruh Tepuk Tangan Tertuju Padanya

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie