Ada di Indonesia, Satu-satunya Bank di Dunia yang Punya Satelit Sendiri

Ada di Indonesia, Satu-satunya Bank di Dunia yang Punya Satelit Sendiri
info gambar utama

Kita tentu mahfum, kondisi negeri kita yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari pulau Miangas hingga Pulau Dana, merupakan sebuah anugerah besar bagi Indonesia, dan sekaligus tantangan yang tidak ringan terutama bagi logistik, dan layanan jasa keuangan. Untuk itu, diperlukan sebuah langkah revolusioner yang bisa menjawab tantangan tersebut dengan cepat.

Kita mengenal bank ini sebagai bank dengan jumlah cabang terbanyak di Indonesia, bisa jadi...di seluruh dunia. Ini adalah bank nasional yang dianggap sebagai institusi micro-banking terbesar di dunia. Banyaknya cabang hingga ke pelosok kecamatan, membuat Bank Rakyat Indonesia (BRI) perlu melakukan terobosan agar layanan perbankannnya makin maju, dan selalu catch-up dengan teknologi terbaru.

Dan solusi untuk itu terjawab. BRI menjadi satu-satunya perusahaan di dunia yang bergerak di bidang perbankan yang memiliki satelit dan mengoperasikannya sendiri.

Satelit yang dinamakan BRIsat ini bakal diluncurkan dan mengorbit pada 9 Juni 2016.

BRIsat BRIsat | Beritasatu.com

Secara terperinci, BRIsat dijadwalkan meluncur ke orbit dengan menggunakan roket Ariane 5 milik perusahaan Arianespace pada tanggal 8 Juni 2016 pukul 20.30 UTC di Kourou, Guyana Perancis atau 9 Juni 2016 WIB.

Semua pihak terkait sudah memastikan segala persiapan menyangkut peluncuran BRIsat beserta semua operasional pendukungnya sudah selesai seluruhnya.

BRI pun sudah membangun ground station atau stasiun pengendali di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Pengoperasian satelit dilakukan oleh putra-putri terbaik bangsa. Ada 53 orang yang akan mengoperasikan satelit, mengelola 45 transponder yang ada.

Dalam mendesain satelit, BRI berupaya memaksimumkan filingsatelit Indonesia di International Telecommunication Union (ITU), di mana salah satu filing satelit akan ditingkatkan statusnya dari Coordinated menjadi Notified. BRIsat diharapkan menjadi solusi dalam menjaga kesinambungan filing orbit satelit 150.5 derajat BT.

Yang menarik, meskipun Satelit BRI dibuat perusahaan luar negeri, namun operasional dilakukan oleh anak bangsa Indonesia. Siapa saja mereka?

Meiditomo

Meiditomo Sutyarjoko, konsultan yang sudah banyak makan garam dalam operasi satelit. Lulusan Program Studi Elektro ITB tahun 1983 berusia 51 tahun ini sudah menggeluti satelit sejak 1989 ketika bekerja untuk pabrik Hughes Space Comm International hingga 1997.

Selama di Hughes, dia terlibat dalam sejumlah proyek satelit a.l. Optus B1 dan B2 Australia, Satelit Angkatan Laut AS (UHF F/O F1), Astra 1C dan 1D Luxemburg, tiga seri satelit Galaxy, dan Palapa C1 dan C2.

Selepas dari Hughes dia pindah ke AceS (1998-2008) yang merupakan konsorsium Indonesia, Filipina, dan Thailand, lalu ke perusahaan satelit maritim Inmarsat (2008-2010), proyek satelit Arabsat di Dubai, dan ke Asia Broadcast Satellite (ABS) di Hongkong sebelum pulang untuk BRIsat pada 2013.

Eko Cahyono

Eko Cahyono. Lahir 27 Februari 1964, menyelesaikan studi S-1 dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Bandung tahun 2000. Saat ini menjabat sebagai Satellite Engineering and Operation Manager di PT BBSI.

Eko memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di industri Aerospace a.l. bidang Satellite Subsystem Design, Integration & Test, Operation and Satellite procurement. Dia telah terlibat dalam rancang bangun satelit Palapa B4, Panamsat K1, Galaxy G4, Galaxy G1R, Astra 1C, Astra 1D, dan USDBS.

Kemudian dia terlibat dalam pengendalian satelit Garuda, Inmarsat F1/F2, ABS1A, dan ABS1. Tanggung jawab saat ini adalah sebagai PMO untuk pengadaan satelit ABS-2A dan ABS-3A di Boeing, El Segundo.

omar

Omar Isnawan. Dia lahir 23 April 1967, menyelesaikan studi S-1 dari Jurusan Teknik Elektro ITB tahun 1990 dan Master Of Electrical Engineering dari University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat.

Saat ini ia menjabat sebagai Director of Satellite Engineering, Asia Broadcast Satellite. Ia menjalani lebih dari enam tahun bekerja sebagai receiver design, satellite test engineer, dan system engineer di pabrik pembuatan satelit, Hughes Space & Communication, El Segundo, California, Amerika Serikat.

Dia kemudian bekerja di operator mobile satellite selama tujuh tahun di Asia Cellular Satellite. Dua tahun diantaranya terlibat dalam pengadaan satelit ACeS, dan kemudian di tahun 2006 sebagai lead specialist di Inmarsat Indonesia, juga terlibat pengembangan mobile satellite handheld user terminal.

Pada 2011, Omar bergabung dengan Asia Broadcast Satellite, salah satu operator satelit global di Hong Kong dan bertugas di bidang satellite engineering & operation untuk membantu divisi operasi di Subic Bay, Filipina dan divisi engineering & procurement di Washington DC, Amerika Serikat, dalam pengadaan satelit ABS-2, ABS-3A, dan ABS-2A.

muhardi

Muhardi. Lahir 24 Januari 1975. Ia bergelar S-1 dalam teknologi penerbangan dari ITB (thn 1998) dan M.Sc. dalam Satellite Communication Engineering dari University of Surrey, UK (2011).

Dia memiliki pengalaman 11 tahun lebih bekerja di industri satelit, dan saat ini ia bekerja sebagai Senior Engineer di Asia Broadcast Satellite. Pada awal kariernya, ia sempat bekerja untuk dua operator satelit indonesia, yaitu satelit Indostar 1 dan Garuda 1 selama tujuh tahun di berbagai jabatan dengan spesialisasi berbeda.

Muhardi memulai karier sebagai orbital analyst/mission analyst sebelum akhirnya berkarier sebagai spacecraft analyst dengan spesialisasi GN&C/ADACS. Dalam kariernya di ABS, Ia memiliki pengalaman melakukan takeover dan handover pengoperasian satelit ke dalam fleet ABS, di antaranya satelit ABS-1A, ABS-4, ABS-6(1), ABS-7, dan ABS-2.

Selain aktif memberikan konsultasi engineering untuk semua satelit dalam ABS fleet, baik dalam hal konfigurasi payload dan bus subsystem, ia berulang kali menyiapkan proposal studi untuk relokasi orbit satelit dan attitude rebiasing beberapa satelit.

Dia juga ikut aktif dalam PMO pembelian tiga satelit baru yaitu ABS-2, ABS-3A dan ABS-2A, termasuk melakukan review dokumen kontrak serta dokumen desain (PDR & CDR). Ia juga berkesempatan ikut aktif dalam proses pembelian dan pengembangan ground control systemuntuk ABS-6, ABS-2, dan ABS-3A/2A.

widodo

Widodo Mardijono. Ia lahir 13 Februari 1965, lulus dari Teknik Elektro ITS Surabaya tahun 1988 dan karena ikatan dinas beasiswa maka langsung bergabung dengan PT TELKOM.

Kemudian di tahun 1991 mendapat spesialisasi pendidikan di bidang satelit di UCLA dan kemudian menyelesaikan Master Studi di bidang Marketing Internasional tahun 2001 di Prasetiya Mulya Jakarta.

Proyek-proyek ground station dimulai dari proyek digitalisasi satelit di TELKOM, SATELINDO, dan INDOSAT sampai pada pengembangan produk jasa dan bisnisnya menjadi bagian terbesar dari waktu berkariernya di industri satelit. Hampir semua jasa layanan satelit di SATELINDO dan INDOSAT adalah buah karyanya.

Sumber : Kompas | Jurnal Ekonomi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini