Lupa Sandi?

Notula, Aplikasi Speech to Text Asli Buatan Bekasi

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Notula, Aplikasi Speech to Text Asli Buatan Bekasi

Aplikasi ponsel pintar saat ini semakin canggih dan sangat memudahkan setiap orang untuk menyelesaikan urusannya. Seperti bila dahulu untuk melakukan pengetikan harus dilakukan dengan jari, kini teknologi speech to text atau teknologi suara menjadi teks membuat para pengguna ponsel pintar tidak perlu capek mengetik. Cukup mengatakan secara verbal kalimat yang ingin dimasukkan dan sistem akan mengubahnya menjadi teks secara otomatis. 

Menariknya, bila pada umumnya teknologi suara menjadi teks tersebut masih banyak dibuat oleh perusahaan teknologi luar negeri sehingga cukup sulit untuk beradaptasi dengan struktur bahasa di Indonesia. Namun kini seorang insinyur komputer asal Bekasi bernama Oskar Riandi berhasil membuat teknologi speech to text berbahasa Indonesia yang mengikuti kaidah-kaidah bahasa resmi sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. 

Seperti diwawancarai oleh suara.com, Oskar bersama 15 timnya berhasil membuat aplikasi bernama Notula. Aplikasi yang mampu mengubah suara menjadi teks dalam bahasa Indonesia. Dirinya mengungkapkan bahwa sejatinya teknologi pengubahan suara menjadi teks bukanlah hal baru di dunia. Perusahaan-perusahaan besar seperti Google sudah lebih dahulu mengembangkan teknologi tersebut untuk fitur pencarian berdasarkan suara. Ada juga Nuance Communications juga melakukan riset teknologi bahasa yang sama dan sudah mengeluarkan produknya tahun 2012, namanya Dragon Dictation.

Oskar mengaku telah mengembangkan teknologi ini sejak tahun 1992. Di tahun 2005 dirinya mengembangkan teknologi pengubah suara menjadi teks yang dia kembangkan saat S1 di Jepan untuk berbagai keperluan seperti air ticket reservation (pemesanan tiket pakai suara). Selain itu juga untuk membantu penyandang tuna rungu.

Baca Juga
Oscar Riandi (Foto: Pebriansyah Ariefana/suara.com)
Oscar Riandi (Foto: Pebriansyah Ariefana/suara.com)

Sampai saat ini sudah terdapat 5 aplikasi yang dibuat oleh Oskar dan tim seperti digunakan untuk rapat, voice biometric, speaker identification, pengganti keyboard, dan transkipsi khusus wartawan. Semua aplikasi tersebut dipasarkan dalam bentuk kampanye BahasaKita. Oskar juga sempat mengembangkan sistem ini menjadi komputer berteknologi perintah suara dengan sistem operasi Linux yang diberi nama LiSan (linux dengan lisan).

Baca juga: Operasikan Komputer Hanya dengan Suara

Berkat teknologi ini banyak penghargaan dia dapatkan. Namun dirinya mengaku hal terpenting yang harus diperhatikan adalah, agar teknologi ini dapat menginspirasi banyak pengembang aplikasi serupa lainnya di Indonesia. Sebab saat ini di Indonesia hanya perusahaannya saja yang sudah mengembangkan teknologi ini.

Pria kelahiran Cirebon tersebut optimis bahwa Notula buatannya mampu mengalahkan milik perusahaan besar yang telah beredar. Sebab bahasa Indonesia sangat kompleks dan diperlukan pemahaman konteks yang sangat beragam. Notula diklaim unggul akibat Oskar dan timnya juga melakukan riset dengan suara-suara orang-orang dari suku-suku bangsa besar di Tanah Air. Bahkan saat ini telah ada 5 negara yang datang menawari kerjasama seperti Rusia, Jepang, Cina, Hongkong, dan Malaysia. 

Mantan staf BPPT dan lulusan S2  Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) itu menjelaskan, meski produk serupa buatan asing sudah sedemikian maju untuk bahasa Indonesia dan masyarakat Indonesia dapat saja tinggal menggunakan. Namun menurutnya Indonesia harus juga mampu untuk mengembangkan teknologi bahasa ini. "Ini persoalah kedaulatan data suara," tegasnya.

Baca juga: 6 Aplikasi Buatan Anak Indonesia yang Mendunia

Aplikasi yang diluncurkan oleh Oskar saat ini masih berbasis komputer personal atau laptop. Kedepan, dirinya mengatakan, aplikasi mobile akan diluncurkan meski belum jelas kapan. Sosok yang juga mendapatkan penghargaan  Satya Lencana Pembangunan itu berharap agar dirinya dan tim mampu untuk terus mengembangkan aplikasi ini meski harus dijual secara komersial sebab infrastruktur yang dibutuhkan tidaklah murah. Tidak seperti Google atau Nuance yang mampu untuk menggratiskan teknologinya karena memiliki sumber daya dan server yang besar. 

Kemampuan anak bangsa sejatinya tidak perlu diragukan lagi. Hanya saja yang perlu kita lakukan adalah mendukungnya dengan sepenuh hati. Yuk turut dukung aplikasi-aplikasi buatan anak bangsa agar Indonesia semakin berjaya. 

Sumber : Suara.com
Sumber Gambar Sampul : Linkedin.com

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara