Lupa Sandi?

Jangan Mengaku Pernah ke Jogja, Kalau Belum Tahu Ini...

Asrari Puadi
Asrari Puadi
0 Komentar
Jangan Mengaku Pernah ke Jogja, Kalau Belum Tahu Ini...

Jogja, kota satu ini memang banyak sekali menyimpan makna. Sejatinya, Jogja dengan segala keistimewaannya sudah ada sejak dahulu kala, dan itu bukan terletak pada banyak dan indahnya tempat-tempat wisata yang umumnya anda kenal.

Keistimewaan Jogja setidaknya bisa kita lacak dari tata letak Gunung Merapi — Keraton — Laut Selatan yang diposisikan segaris, hal ini menandakan pentingnya pembangunan dengan keserasian alam. Konsepsi ini juga senada dengan tahapan perjalanan menuju Keraton, yaitu kita akan melewati jalan Margoutama — Malioboro — Margomulyo — Pangurakan.

Sebelum melewati empat jalan filosofis tersebut, Tugu Yogyakarta menjadi titik awal yang harus diketahui terlebih dahulu.

Tugu Yogyakarta, (mungkin) sudah banyak yang mengetahui sebagai simbol pengingat atas Yang di Atas. Tugu yang aslinya berbentuk bulat, golong gilig, menyuarakan konsep manunggaling kawulo gusti.  Kalau diturunkan menjadi hubungan muamalah, maka konsep manunggaling kawulo gusti ini, tampil dalam hubungan yang intim antara pemimpin dengan rakyatnya.

Baca Juga

Setelah kita memahami Tugu Yogyakarta, maka selanjutnya jalan yang akan ditempuh adalah empat jalan tadi.

1.Margoutama

Adalah nama jalan mulai dari Tugu sampai Rel. Nama ini memiliki makna sebagai jalan keutamaan. Yaitu berlakulah menjadi orang baik, orang yang utama dengan berbekal niat mengingat Tuhan (tugu di belakang).

2.Malioboro

Adalah nama jalan mulai dari Rel sampai Toko Terang Bulan di Malioboro. Ketika kita sudah menjadi orang yang utama, maka jadilah Malioboro.

Malioboro adalah perintah untuk menjadi wali yang ngumboro (mengembara, menyebar). Wali ini bukan hanya Kyai, Sunan dan seterusnya saja, Wali selain bermakna wakil (dalam hal ini wakil Tuhan), atau kekasih, atau penolong, juga berarti bolo. Seorang yang menjadi Wali atau aulia,  maka dia menjadi bolo-ne Gusti juga bolo-ne orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang mengartikan Malioboro sebagai ma-lima-oboro. Bakarlah mo-limo (ajaran Sunan Ampel), yang berarti hindarilah lima perkara (Moh Main, Moh Ngombe, Moh Maling, Moh Madat, Moh Madon).

Ada juga yang menyebutkan Malioboro terdiri dari dua kata Mali dan Boro yang artinya kurang lebih adalah bekerja, berusaha. Jadi setelah kita tau tujuan hidup kita yang utama kita dituntut untuk berusaha, bekerja.

3.Margomulyo

Adalah nama jalan dari Toko Terang Bulan sampai Kantor Pos. Ketika kita sudah menjadi bolo-ne sepodho, kita meningkat menjadi menungso kan minulyo. Kemuliaan dalam arti tidak lagi terbelenggu oleh keduniaan. Orang kaya belum tentu mulia, karena begitu saat ketahuan dia kaya dari korupsi, ya itu tak lebih dari "maling" saja. Di sini juga mengandung makna agar kita senantiasa memuliakan alam sekitar. Kalau dalam agama Islam jadinya rahmatan lil ‘alamin (tujuan dasar sebagai muslim).

4.Pangurakan

Yang terakhir ini adalah nama jalan untuk sampai ke Keraton. Jalan ini menjelaskan kita untuk melepas dari semua hal-hal duniawi, hal-hal yang bersifat nafsu angkara atau nafsu-nafsu kejelekan. Di sini manusia sudah berada di atas derajat kemuliaan. Maka seorang Raja Jawa dituntut untuk menjadi seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari kemuliaan. Kalau kita sudah melepas nafsu-nafsu negatif maka tidak ada orang yang bisa merendahkan derajat kita.

Itulah penjelasan singkat "sisi lain" keistimewaan Jogja. Sehingga akan lebih afdol jika kita mengaku pernah ke Jogja, juga tahu hal-hal filosofis "istimewa" nya bukan hanya tempat wisatanya.

Sumber : dari berbagai sumber
Sumber Gambar Sampul : Prajurit Jogja/Pitoyo Susanto

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASRARI PUADI

Mamut Menteng Ureh Utusku. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara