Lupa Sandi?

Pelajaran dari "Kudeta" Brazil, dan Menu Barunya bagi Indonesia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Pelajaran dari
Pelajaran dari "Kudeta" Brazil, dan Menu Barunya bagi Indonesia

Brazil sedang mengalami ujian politik yang cukup berat dan rumit, dan dunia sedang menyaksikannya dengan seksama...waktu demi waktu. Negeri luas yang kita kenal sebagai pencetak pemain-pemain sepakbola terbaik dunia itu, dihantam skandal korupsi besar-besaran, krisi politik, pertumbuhan ekonomi yang lemah. Brazil yang pernah disebut sebagai Raksasa Yang Sedang bangkit, kini menjadi bahan olok-olok dunia. (Laughing stock). 

Presiden Dilma Rouseff | bbc.co.uk
Presiden Dilma Rouseff | bbc.co.uk

Pertengahan bulan lalu, president Dilma Rousseff dipaksa meninggalkan kantor kepresidenannya selama 180 hari. Jabatan yang dia dapatkan dari perjuangan dan dukungan dari sekutu-sekutu politiknya, termasuk mantan presiden yang populer, President Luiz Inacio Lula da Silva. Senate Brazil sepakat menyudahi kekuasaan sang president, dan menjadi awal bagi runtuhnya kekuasaan Worker's party yang sudah berkuasa 13 tahun di Brazil. 

Dan perkembangan terbaru pun..cukup menyedihkan. Sang wakil presiden yakni Michel Temer, oleh senat diangkat menjadi presiden interim, dan ini memicu krisis politik yang makin dalam di Brazil. Temer adalah salah satu orang yang getol mendorong pemberhentian Presiden Rousseff. 

Demo besar awal tahun di Brazil | news.yahoo.com
Demo besar awal tahun di Brazil | news.yahoo.com

Saat tulisan ini ditulis, di Brazil konon sedang terjadi demo besar-besaran oleh rakyat pendukung Rouseff dan mantan presiden Lula, sekaligus mereka yang menolak kembalinya kelompok elit politik lama. Kudeta ini mengejutkan banyak pihak, tentu saja banyak negara-negara Amerika Latin sekutu Brazil yang terhenyak. Tak kurang dari ekonom AS dan analis politik Amerika Selatan Mark Weisbrot mengatakan bahwa proses impeachment ini adalah usaha dari kelompok elit politik lama di Brazil, termasuk di dalamnya adalah beberapa media yang mereka kuasai, untuk tidak mengakui hasil pemilu 2014. Menurut Mark, impeachment ini tak ada hubungannya dengan tuduhan korupsi yang dilancarkan kepada Rouseff, bahkan menurutnya Rouseff tak melakukan pelanggaran yang serius. 

Baca Juga

Sementara, di pihak lain, para pendukung impeachment pun meyakini bahwa apa yang mereka lakukan telah sesuai dengan undang-undang dan bisa dipertanggungjawabkan.  

Evolusi Brazil Menjadi Negara Demokrasi yang Damai

Sebuah negara hanya bisa terus bercita-cita menjadi negara demokrasi. Tak ada yang sempurna. Pemerintahan demokratis adalah sesuatu yang harus terus disempurnakan. Dan proses impeachment, seperti yang terjadi di Brazil, apapun sebabnya, adalah sebuah proses yang biasa dalam demokrasi. Inilah kesempatan rakyat Brazil untuk menginvestigasi kepala pemerintahannya, bahkan bisa menurunkannya dari jabatan tinggi itu jika terbukti bersalah, dalam sebuah proses yang damai. 

Hal ini menjadi sangat penting, karena selama ini pergantian pemerintahan di Brazil tak pernah berjalan damai. Tapi memang masa-masa pemerintahan diktator telah lama berakhir, ketika tahun 1964 militer melakukan kudeta yang melemparkan Brazil dalam kekuasaan diktator selama 20 tahun. 

Kudeta 1964 di Brazil. Diktator 20 tahun | opednews.com
Kudeta 1964 di Brazil. Diktator 20 tahun | opednews.com
 

Tahun 1992 pun, Fernando Collor, presiden pertama yang terpilih lewat proses demokrasi, juga dipaksa berhenti dari jabatannya karena tuduhan korupsi. Meski begitu, proses impeachment Collor tahun itu, berbeda dengan yang 'menimpa' Rouseff kali ini. Impeachment Collor dilakukan hanya dalam 2 hari setelah tuduhan korupsi dijatuhkan, sedangkan di kasus Rouseff, prosesnya memakan waktu 23 hari dengan tuduhan setebal 128 halaman. Yang paling penting adalah, kedua proses impeachment berjalan damai tanpa kekerasan. Inilah sejatinya demokrasi itu...apapun yang terjadi, kekerasan tak akan pernah punya tempat. 

Awal tahun ini, jutaan orang tumpah ruah di jalanan Brazil untuk menyuarakan pendapat mereka, baik yang menentang, maupun yang mendukung pemerintahan Rouseff. Namun perlu digarisbawahi, protes berhari-hari ini tak berujung pada kekerasan. Bisa saja protes besar-besaran itu berujung pada kekerasan dan konfrontasi brutal, apalagi Brazil berada di peringkat 103 dunia dalam Global Peace Index, yang mengukur tingkat keamanan di dalam masyarakat negeri itu. 

Di situlah ada pelajaran sangat kuat dan berharga, bahwa pemerintahan demokratis sealu terkait dengan dialog, bukan kekerasan, untuk membangun sebuah pergantian pemerintahan. Meskipun tentunya, proses impeachment harus dilakukan sebagai perpanjangan suara dari rakyat, bukan hanya sekedar untuk merebut kekuasaan. 

Terikat Hukum

Salah satu ciri demokrasi yang lain adalah adanya rule of law atau supremasu hukum.  Demokrasi dan supremasi hukum adalah dua hal yang tak boleh terpisahkan. Tak ada satupun yang bisa mengangkangi hukum, dan setiap orang sama statusnya di depan hukum. Dan inilah yang perlu dicatat dari krisis politik di Brazil ini. Demokrasi di sana makin dewasa. Sejak 2013, aparat Brazil telah melakukan investigasi besar-besaran akan korupsi yang melibatkan Petrobras, BUMN minyak dan gas di negara tersebut. Banyak petinggi BUMN tersebut, berikut para politisi yang terlibat akhirnya dijebloskan dalam penjara. Dan ini dilihat sebagai sinyal besar bagi dunia, bahwa Brazil..bukanlah negara yang korup seperti dulu. 

Korupsi Petrobras dan Penangkapan Koruptor | aljazeera.com
Korupsi Petrobras dan Penangkapan Koruptor | aljazeera.com

Dunia tak lagi melihat bahwa korupsi adalah bagian dari Brazil yang tak terpisahkan, seperti juga sepakbola dan carnaval Rio. Impeachment terhadap Rouseff ini, apapun sebabnya, membuat Dunia mau tidak mau melihat bahwa Brazil menjunjung supremasi hukum. Inipun mengirimkan pesan penting bagi seluruh rakyat Brazil, bahwa setiap warga negara, terikat oleh hukum. 

2016-05-14-1463263935-5090097-brazileyes.JPG

Brazil memang bukan negeri yang kaya raya, pun negara yang sempurna. Negara ini masih sering dihantam kasus-kasus korupsi, kemiskinan, dan krisis politik. Di sistem politik yang multipartai membuat segala hal "seolah" menjadi selalu rumit. Namun Brazil telah menunjukkan kepada kita bahwa politik harus damai dan tanpa kekerasan, dan korupsi (atau tuduhan korupsi), harus selalu menjadi musuh bersama. Inilah Brazil yang baru, yang sedang percaya diri membuat satu 'menu' besar : Play by the rules. TITIK. 

Gambar utama : cnn.com

Sumber dan referensi :
telesurtv.net
huffingtonpost.com
Forbes.com 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas