Kenalkan, Inilah 10 Bali Baru di Indonesia

Kenalkan, Inilah 10 Bali Baru di Indonesia

Kenalkan, Inilah 10 Bali Baru di Indonesia

Tahun lalu, ada sekitar 4 juta turis mancanegara yang datang ke Bali. Tak dipungkiri, turis yang datang ke Bali, baik domestik maupun mancanegara, telah membawa banyak kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bali. Namun, tak mungkin Indonesia selamanya bergantung kepada Bali untuk menjual wisatanya. Perlu ada "Bali-bali" yang lain. Dan kesempatan itu terbuka cukup luas, mengingat banyak daerah lain yang tak kalah hebat dalam banyak hal dibanding Bali.

Rupanya pemerintah menyadari itu. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengistilahkan 10 destinasi wisata yang menjadi prioritas pemerintah sebagai "10 Bali Baru".

Istilah "10 Bali Baru" itu merupakan makna kiasan dan lebih untuk memberi tekanan agar "performance" masing-masing daerah itu bisa menyamai Bali yang setahun bisa mendatangkan empat juta wisatawan mancanegara, kata Arief Yahya di Jakarta, Jumat.

Sepuluh destinasi pariwisata yang menjadi prioritas pemerintah pada 2016 ini adalah Danau Toba (Sumut), Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Morotai, Maluku Utara | jpnn.com
Morotai, Maluku Utara | jpnn.com

Bali adalah ikon pariwisata Indonesia karena fakta yang tidak terbantahkan sekitar 40 persen wisatawan mancanegara masuk Indonesia melalui gerbang pintu Pulau Dewata.

Oleh karena itu, Arief Yahya selalu menggunakan ikon Bali untuk menyebut 10 destinasi prioritas itu dengan istilah "10 Bali Baru".

"Bali adalah destinasi yang sudah punya pamor di peta pariwisata dunia," tutur Arief Yahya.

Meskipun demikian, katanya, 10 destinasi pariwisata 2016 itu tidak akan dibuat mirip seperti Bali karena masing-masing daerah tersebut memiliki karakteristik.

"Punya kombinasi alam dan budaya tersendiri. Justru keberagaman itulah yang membuat kita kaya atraksi, kaya budaya, kaya tradisi, tiap daerah dieksplorasi keunikannya," ujar Arief Yahya.

"Coba bayangkan kalau masing-masing dari 10 destinasi wisata itu bisa mendatangkan empat juta wisatawan mancanegara. Apa tidak makmur negeri kita ini," katanya, menambahkan.

Liputan 6

gambar utama : doodletrip.com

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang16%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau6%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Negara-negara ASEAN yang Gunakan Senjata Pindad Sebelummnya

Negara-negara ASEAN yang Gunakan Senjata Pindad

3 Kunci Menghapal Cepat, Mudah, dan Efektif Selanjutnya

3 Kunci Menghapal Cepat, Mudah, dan Efektif

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.