“Cilukba”: Perpustakaan Unik Berbasis Lingkungan dan Ramah Anak di Kota Hujan

“Cilukba”: Perpustakaan Unik Berbasis Lingkungan dan Ramah Anak di Kota Hujan
info gambar utama

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor berhasil memulai inovasi baru perpustakaan terpadu atau multifungsi dalam upaya memberantas buta aksara di kota hujan.

"Ini salah satu inovasi baru, karena belum ada satupun di Jawa Barat yang melakukan langkah ini yaitu menjadikan perpustakaan sekolah menjadi pusat aktivitas siswa yang berbasiskan lingkungan," ujar Asep Saepulloh Sajali, kemarin (15/06).

Ia menjelaskan, perpustakaan terpadu tersebut bukan hanya sekedar perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku, namun dimaksimalkan fungsinya dengan memadukan dengan kegiatan olahraga dan berkebun dalam satu pusat kegiatan.

Hal ini disampaikan Asep pada kegiatan Kids Environmental Ambassador Festival sekaligus peresmian perpustakaan terpadu Cilukba di Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea yang dihadiri dosen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Ir. Nindyantoro MSP, Kepala sekolah dan guru, serta masyarakat setempat. "Perpustakaan ini selain menjadi perpustakaan, juga difungsikan sebagai pusat pembelajaran dengan orang tua, pos cinta lingkungan dan pusat informasi olahraga, ini salah satu langkah untuk mendekatkan buku pada anak agar lebih terbiasa membaca dengan kegiatan yang menyenangkan" kata dia.

Secara teknis, katanya, dengan terbangunnya perpustakaan terpadu tersebut ke depan seluruh kegiatan siswa dapat dipusatkan, pada pagi hari dapat dimanfaatkan untuk olahraga, pada siang hari untuk membaca dan sore harinya untuk berkebun sebagai upaya pelestarian lingkungan, disela waktu tersebut siswa bisa sekaligus membaca buku yang ada di perpustakaan. "Buku-bukunya kami sediakan yang berkaitan langsung dengan tema lingkungan dan kesehatan melalui buku cerita agar siswa mampu meningkatkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar," kata Zainul Muzaki, salah satu tim PKM Cilukba.

Selain itu, ke depan bukan hanya empat kegiatan tersebut yang bisa dilaksanakan di perpustakaan terpadu tersebut, karena masyarakat desa dapat memanfaatkannya untuk kegiatan membaca, tempat diskusi orang tua dan guru, dan lainnya. "Kami yakin perpustakaan terpadu ini bisa menjadi percontohan bagi semua orang yang akan berkunjung untuk melakukan pembelajaran terkait dengan program lingkungan itu," kata salah satu orang tua siswa.

Dipilihnya Desa Cihideung Udik sebagai pionir penerapan program perpustakaan terpadu berbasis lingkungan tersebut karena minat baca siswa dan masyarakat masih jauh dari standar pada umumnya. Selain itu, perpustakaan yang dulu pernah aktif, kini mulai berkembang lebih maju dengan program pendukung lainnya.

Ia mengatakan, pembentukan perpustakaan tersebut merupakan salah satu upaya mewujudkan generasi anak sadar lingkungan, sehat jasmani, dan gemar membaca. Dalam mewujudkan hal tersebut tim PKM Pengabdian Kepada Masyarakat ini membentuk tiga komunitas siswa yaitu, Komunitas Cinta Perpustakaan, Komunitas Taman Pustaka Tani dan Komunitas Bugar. "Kami berharap dengan adanya perpustakaan terpadu ini , siswa, orangtua dan guru terbiasa dan menyempatkan untuk membaca setiap saat," kata Asep.

Perlu diketahui inovasi tersebut merupakan hasil dari gagasan Program Kreativitas Mahasiswa oleh Asep Saepulloh Sajali, Zainul Muzakki dan Dinda Ratnasari dari jurusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Hasna Ariqoh jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, serta Dairul Fuhron dari Jurusan Statistika IPB.

Sumber : Asep Saepulloh Sajali (IPB)
Sumber Gambar Sampul :Dokumentasi tim PKM Cilukba

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini