Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Batik, Proses Panjang Membuat Sebuah Karya Warisan Leluhur Bangsa

Imama Lavi Insani
Imama Lavi Insani
0 Komentar
Batik, Proses Panjang Membuat Sebuah Karya Warisan Leluhur Bangsa
Batik, Proses Panjang Membuat Sebuah Karya Warisan Leluhur Bangsa

Sebagai salah satu warisan budaya yang telah diakui oleh dunia, batik merupakan salah satu hal menarik bagi saya. Beberapa kali saya sempat berkunjung ke beberapa sentra pembuatan batik seperti di Pekalongan dan Sidoarjo, namun saya belum pernah sekalipun mencoba membuatnya sendiri. Dan kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk membuatnya langsung di rumah GNFI.

Wah berhubung ini adalah pengalaman pertama saya membatik, saya pun bersemangat mengikuti tiap arahan dari Mas Leo Gemati selaku "pelatih" kelas batik pada Sabtu (18/06) kemarin.

Dimulai dari menggambar sketsa dengan pensil di atas kain, Mas Leo memberi banyak sekali pola yang sudah jadi untuk kemudian digambar di atas kain. Namun kali ini saya memilih yang sudah jadi saja hehe. Pulau Sulawesi pun saya pilih menjadi pola batik.

Sebuah wadah berisi malam yang dipanaskan nampak berasap di hadapan kami berempat, para peserta kelas membatik.

Baca Juga

Pelan-pelan saya mulai mengikuti arahan Mas Leo untuk "berlatih" terlebih dahulu di kertas koran agar terbiasa dan mencari cara yang paling nyaman untuk membatik. Setelah mencari cara yang paling nyaman saya pun mulai untuk menuliskannya di atas kain berpola Pulau Sulawesi.

"Posisinya usahakan miring 45 derajat saat mulai membatiknya," ujar Mas Leo.

Haruskah saya mencari busur untuk menghitung 45 derajat tersebut, hmm dikira-kira saja wes hehe.

Mas Leo nampak begitu bersemangat mengajari para peserta yang masih pemula. Pria asal Pekalongan ini secara sabar dan telaten mengajari teknik membatik ke beberapa kelompok kecil yang telah dibuat, mulai dari memegang canting hingga membubuhkan malam di atas pola yang telah dibuat.

Mas Leo sedang mengajari peserta tahap awal membatik
Mas Leo sedang mengajari peserta tahap awal membatik

"Membatik itu harus pakai hati", ujar Mas Leo tiba-tiba.

"Wah bagaimana itu mas maksudnya?"

"Iya, kan saat mengikuti pola dan mulai membatik harus pakai hati, kira-kira posisi tangan yang nyaman untuk menggambar pola dan mulai membatik bagaimana, semuanya pakai perasaan hati."

"Hoho, yaya mas benar."

Kemudian setelah selesai proses pertama berlanjut ke proses selanjutnya yaitu pewarnaan.

Proses Pewarnaan
Proses Pewarnaan

Di depan rumah GNFI sudah tersedia banyak wadah yang telah diisi air. Ada yang airnya berwarna ada pula yang airnya mendidih.

Ada beberapa tahapan sebelum pewarnaan. Namun sebelumnya apabila ingin membuat pola sederhana yaitu ikat, maka beberapa bagian di kain diikat dengan tali rafia.

Kemudian pertama-tama masukkan kain tersebut ke dalam air bening yang dicampur dengan larutan TRO yang berguna untuk membersihkan kain sebelum tahap pewarnaan selama lima menit.

Lalu masukkan pada garam naptol yang waktu itu berwarna kuning. Setelah itu dikeringkan dengan cara "dipukul-pukul" dengan koran agar sedikit kering. Setelah proses tersebut dilanjutkan dengan tahap utama yaitu pewarnaan.

Ada beberapa pilihan yaitu orange, merah maroon dan biru. Saya sendiri memilih biru sebagai warna kain batik.

Setelah memilih warna kemudian kembali lagi memasukkan ke dalam garam naptol dan diulang lagi proses pewarnaanya.

"Agar warnanya makin pekat," kata Mas Leo.

Proses Nglorot
Proses Nglorot

Setelah itu proses nglorot dilakukan. Nglorot sendiri adalah tahap terakhir dari proses membatik yang berguna untuk menghilangkan malam (lilin batik). Sebelumnya warna pada pola adalah kuning yang dikarenakan malam, lalu tunggu hingga menjadi putih kemudian dapat diambil dan dimasukkan ke dalam air dingin.

Akhirnya... selesai sudah membuat batik ukuran sapu tangan tersebut. Proses yang lumayan panjang dan membutuhkan perjuangan untuk membuatnya. Ketika saya membuka hasil batik saya.... Alhamdulillah masih bisa terlihat gambar Pulau Sulawesinya hehe..

Batik karya saya
Batik karya saya

Berjam – jam membuat batik bersama Mas Leo Gemati tadi tak hanya butuh ketelitian, ketelatenan serta kesabaran namun membuat batik juga melibatkan perasaan dan hati di dalamnya.

Batik menurut saya tak hanya sebuah kain yang memiliki beragam motif saja namun batik adalah sebuah proses panjang bagaimana membuat sebuah karya yang diwariskan oleh leluhur kita untuk anak cucunya.

Kalau kata Mas Leo di penghujung acara,"Saya percaya dengan #MinimalMengalami, akan ada suatu proses baru yang akan membawa perubahan dari cara kita menjalani dan memandang sesuatu hal dibanding sebelumnya."

Sepertinya saya mengalami perubahan cara pandang akan sebuah karya dari #MinimalMengalami tersebut, bagaimana denganmu? Tertarik mencoba?

Selamat membatik : )

(editor yf/gnfi)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IMAMA LAVI INSANI

Hidup sederhana yang penting bermanfaat :D

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie