Lupa Sandi?

Makin Jarang Nama Bambang atau Agus, Inilah Tren Nama di Indonesia yang Makin Unik dan 'Sulit Dieja'

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Makin Jarang Nama Bambang atau Agus, Inilah Tren Nama di Indonesia yang Makin Unik dan 'Sulit Dieja'
Makin Jarang Nama Bambang atau Agus, Inilah Tren Nama di Indonesia yang Makin Unik dan 'Sulit Dieja'

Sewaktu saya kecil dulu, saya tinggal di sebuah kampung di kawasan utara propinsi Yogyakarta, tepatnya di daerah Pakem, kawasan hijau, dingin, tinggi, di lereng Merapi. Masa itu, saya seringkali dibuat terkesima dengan nama-nama tetangga saya (yang lebih senior) yang hanya mempunyai satu nama. Yang saya ingat adalah Pawiro, Paiman, Rumangun, Paijan, Sukarman, Marsudi, Marjuni, Sucipto, dan banyak lagi. Nama-nama itu adalah nama-nama yang umum diberikan oleh orang tua mereka saat mereka lahir di tahun 30-an atau 40, atau hingga 50-an. 

Nama-nama Indonesia mulai berubah pada tahun 60-an dan 70 dengan mulai menggunakan 2 atau 3 kata, dengan paduan nama nama bernafaskan barat dan islam, atau keduanya. Nama-nama Indonesia mulai banyak berubah lagi di era 80-90an, dan makin beragam dan unik saat internet dan era informasi mulai melanda negeri ini. 

Bagaimana dengan tren era sosial media ini?

Dilansir dari Tabloid Nova, sebuah website dengan cakupan Asia menyoroti fenomena orangtua Indonesia belakangan ini yang senang memberi nama anak unik sekaligus mungkin makin 'sulit diingat'. Sebutlah Xiovariel, Queennaya, Ghassan, Aldebaran, Altair, Azzahra, Ixia, Yuriexa, Razanaraghda, dan Odhiyaulhaq.

Baca Juga

Para orangtua ini juga rata-rata menggunakan baby-name generators di internet, diambil dari beberapa bahasa asing dan ditambah dengan ejaan yang tak biasa. Sebutlah nama dengan gabungan huruf ee, rr, yy, zz, gh, sh, dan lain sebagainya.

Sementara inspirasi nama bayi terkini lainnya juga berasal dari nama tokoh di film (Denzel dan Aisha), pemain bola terkenal (Xisco), bahkan karakter di game (Altair).

Nampaknya, tren nama yang simpel seperti Budi, Bambang, Ani, dan Wati sudah lewat. Kini, dilihat dari daftar di catatan sipil, nama anak banyak yang sulit diingat dan dieja, misalnya saja yang disebutkan di salah satu forum ibu-ibu Indonesia yaitu The Urban Mama, tertulis nama-nama unik dan tak biasa seperti Muhammad Akhtar Rayyan Izz al Diin atau Fayyadh Labib Ullaya Al-ghazi.

Memiliki nama lengkap hanya dengan dua kata menjadi demikian langka, karena orangtua Indonesia rata-rata memberi nama anak minimal terdiri dari tiga kata.

Diambil dari website AsiaOne, Pasangan Steve Saputra (35) dan Nofiatun Mariana (28), memberi nama anak pertamanya Keenan Almiqdad Riyandhana Saputra. Nama yang indah, bukan?

Sang anak yang berusia 6 tahun mengaku sering menerima komentar orang-orang bahwa namanya begitu panjang, namun ia mengaku tak mempermasalahkannya.

"Nama saya ini adalah doa dari orangtua. Semakin panjang nama, semakin banyak juga doa di situ,” terangnya.

“Keenan berarti unik, sementara Almiqdad atau Al Miqdad, adalah sahabat Nabi Muhammad yang selalu membantunya,” terang Steve, sang ayah.

Ia mengakui bahwa nama yang diberikan pada anaknya agak sulit dieja, sehingga ia benar-benar mencatatnya dengan hati-hati dan memeriksanya kembali sebelum membuat akta kelahiran.

“Hingga sekarang, tak ada ejaan yang salah di data-data administrative anak saya. Yang berbeda hanya di sapaan. Kebanyakan orang memanggilnya Kenan, tapi teman sekolah memanggilnya Kinan,” tambahnya.

Bagaimana anda akan menamai buah hati anda?

sumber :

Asio One

Tabloid Nova

Gambar utama : HDwallpaper.com.nu

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara