Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Letusan Toba dan Terbukanya Pintu Evolusi Manusia

Ayu Larasati
Ayu Larasati
0 Komentar
Letusan Toba dan Terbukanya Pintu Evolusi Manusia
Letusan Toba dan Terbukanya Pintu Evolusi Manusia

Indonesia pernah menyumbang sejarah letusan gunung berapi terhebat sepanjang kehidupan manusia. Masih kerap dibahas dan dipelajari, letusan Gunung Toba di Sumatra Utara tidak hanya menjadi “kengerian” masyarakat Indonesia saja, tapi juga bagi warga dunia. Tiga kali mengamuk, letusan Gunung Toba yang terakhir (kali ketiga pada 74.000 tahun yang lalu) merupakan letusan terdahsyat; disebut-sebut sebagai super-eruption, supervolcano, Youngest Toba Tuff.

Ketika meletus, Gunung Toba memuntahkan magma bervolume 2,8 ribu km3 dan menyebarkan sekitar 800 km3 gas dan debu vulkanik ke atmosfer bumi. Debu vulkanik sebanyak itu ‘terbang’’ ke seantero bumi, menyebabkan penimbunan tebal di berbagai wilayah. Selain menutupi 30.000 km2 wilayah Sumatra Utara, debu vulkanik menyelimuti daratan yang terletak di antara Laut Cina Selatan dan Laut Arab, serta sebagian besar daratan di India selama berminggu-minggu.

(Ilustrasi) Erupsi Gunung St Helens (Reuters)
(Ilustrasi) Erupsi Gunung St Helens (Reuters)

Belum berakhir, amukan Gunung Toba berdampak tidak langsung terhadap kekacauan iklim global. Lapisan asam belerang ditemukan di dalam inti es Greenland sebanyak 2-4 megaton yang terus bertambah tiap tahun. Lapisan tersebut mengubah beberapa unsur kimia dan besaran suhu lautan. Seorang geolog New York University, Michael Rampino, mengatakan bahwa pada suatu masa, suhu lautan mengalami penurunan hingga 5 derajat celcius yang terjadi bersamaan dengan hujan asam di Greenland. Diikuti juga dengan cuaca dingin ekstrem dan kegelapan total ribuan tahun.

Para ilmuwan percaya bahwa kehebatan letusan Toba turut campur tangan dalam proses evolusi manusia. Migrasi nenek moyang manusia, manusia purba, terhenti di Afrika, sembari terus melakukan adaptasi. Leluhur manusia modern, Homo sapiens, dipercaya hanya tersisa 3000 jiwa saat beradaptasi terhadap dunia penuh abu. Pengurangan jumlah populasi manusia besar-besaran dikenal dengan human genetic bottleneck atau fenomena menyusutnya keragaman genetik manusia. Makin berkurang keragaman genetiknya, makin tinggi tingkat kemiripan manusia modern. Seperti bagaimana kita melihat manusia satu sama lain saat ini.

Baca Juga

Beberapa detail masih tersimpan sebagai misteri, perlu dikulik terus-menerus oleh para ahli. Sebuah kepastian, Gunung Toba yang sekarang termasuk salah satu wilayah seismik teraktif di dunia pernah meletus dan memberi perubahan signifikan pada dunia. Letusan Gunung Toba memberi arti besar bagi sejarah evolusi manusia. Bisa jadi, hal itu lah yang membentuk bagaimana manusia dari generasi ke generasi dan menggiring eksistensi kita di Indonesia.

Sumber : ArchaelogyNational GeographicThe Journey
Sumber Gambar Sampul : indocropcircles

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AYU LARASATI

The true finding. Curiosity may takes me far, faith does make me act. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas