Lupa Sandi?

Suku Pesisir Papua Ini Menarik Perhatian Dunia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Suku Pesisir Papua Ini Menarik Perhatian Dunia

Pada saat berkunjung ke Papua dalam rangka Festival Danau Sentani, sebuah kesempatan yang langka yang belum pernah saya temui. Yakni dapat bertemu dengan masyarakat Suku Kamoro yang merupakan suku pesisir selatan Papua. Suku asal Timika yang kabarnya telah memamerkan kebudayaannya sampai negeri kincir angin. 

Di lapak pameran FDS, Saya menyaksikan berbagai bentuk karya kreatifitas masyarakat Kamoro mulai dari anyaman kulit pohon melinjo (Gnetum Gnemon) maupun hasil ukiran kayu besi dalam berbagai bentuk. Tidak hanya itu, GNFI juga sempat berbincang-bincang tentang bagaimana suku Kamoro yang kini mulai dikenal dunia sebagai salah satu suku di Papua yang memiliki keunikan layaknya Asmat dan Dani yang sudah lebih terkenal sejak dahulu.

Anyaman misalnya, dari kulit yang diolah sedemikian rupa kemudian dianyam menjadi sebuah kantong atau tas yang sudah sangat dikenal dunia, Noken. Selain itu juga ada bentuk lain anyaman yang digunakan untuk menjaring ikan di sungai. Bentuk lain hasil anyaman yang paling unik adalah, karya kostum yang menyerupai burung kasuari. Kostum ini biasanya digunakan dalam upacara-upacara adat.

Kemudian kreasi yang paling khas dari Kamoro adalah ukiran, hasil ukir-ukiran Kamoro memiliki berbagai macam bentuk. Ukiran yang dibuat dari kayu besi yang mampu bertahan ratusan tersebut dibentuk menjadi patung-patung, alat-alat rumah tangga, totem dan juga senjata. Meski digunakan untuk berbagai keperluan, uniknya bentuk-bentuk ukiran terinspirasi dari binatang seperti buaya, ular, burung dan ikan.

Seni ukiran kamoro yang terkenal karena halus dan detail ini sempat punah akibat sedikitnya penerus generasi Maramowe (orang Kamoro dengan bakat ukir) yang terus berkurang. Namun hal tersebut dapat terhindarkan berkat adanya peran konsultan asal Hungaria, Kal Muller yang mulai mempelajari, membina dan kemudian mempromosikan kebudayaan Kamoro yang banyak berkembang di Timika. Peran Muller kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe.

Salah satu ukiran karya Suku Kamoro (Foto: Bagus DR / GNFI)
Salah satu ukiran karya Suku Kamoro (Foto: Bagus DR / GNFI)

Menurut penuturan Herman Kiripi (32) pemuda asli Kamoro yang menjadi pemandu pameran menjelaskan bahwa Suku Kamoro kehidupannya sangat erat dengan 3S (Sungai, Sampan, Sagu) yang artinya masyarakat Kamoro setiap hari tidak jauh dari sungai, sampan dan mengkonsumsi sagu. Terkait dengan ukiran-ukiran, dahulu ukiran Kamoro hanya digunakan untuk patung raja, alat perang ataupun sampan saja. Namun saat ini bentuknya bermacam-macam. Utamanya alat perang, sejak masyarakat kamoro bersinggungan dengan agama, orang Kamoro telah melakukan sumpah untuk tidak lagi melakukan perang. Alat yang mereka buat kini hanya digunakan untuk berburu seperti tombak.

Herman juga menjelaskan bahwa terdapat ukiran khusus yang hanya bisa dibuat secara turun temurun, seperti Wemawe Tikiri. Ukiran berbentuk seperti ikan ini hanya bisa diciptakan oleh laki-laki dan berdarah Kamoro. Masyarakat Kamoro percaya bila ukiran ini dibuat oleh yang tidak berhak, nenek moyang Kamoro akan marah.

Seorang suku Kamoro bersama Tifanya menjelang tampil di Festival Danau Sentani 2016 (Foto: Bagus DR / GNFI)
Seorang suku Kamoro bersama Tifanya menjelang tampil di Festival Danau Sentani 2016 (Foto: Bagus DR / GNFI)

Masyarakat Kamoro saat ini sudah cukup dikenal sebab sudah beberapa kali menjadi tamu dalam pameran kebudayaan di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, mereka juga diundang keluar negeri seperti Belanda dan Brazil untuk mempertunjukkan ukiran, anyaman, dan tarian khasnya. Herman menjelaskan, pameran seperti itu turut meningkatkan martabat kebudayaan Kamoro.

"Harkat dan martabat sebuah suku dinilai dari ukirannya. Makin dikenal makin tinggi," kata Herman.

Penampilan tarian Tawareh juga sempat ditampilkan sebelum penampilan tarian Erkata atau tarian ikan dilakukan di panggung FDS. Tarian yang menceritakan dua pihak yang bertikai karena berebut ikan tersebut menarik perhatian pengunjung karena disajikan dengan epik. Cerita pertikaian berlanjut hingga keduanya terlibat perkelahian namun kemudian muncul orang Kamoro lain yang mengetahui keributan itu. Orang itu kemudian menunjukkan kemampuannya untuk memunculkan ikan-ikan di sungai dengan banyaknya ikan, kedua pihak tersebut kemudian berdamai.

Melihat-lihat hasil kreasi masyarakat Kamoro membuat saya merasa bahwa memang Indonesia memiliki banyak sekali kebudayaan. Dahulu Kamoro hanyalah satu dari sekian banyak suku asli Papua yang belum dikenal dengan baik. Namun kini, Kamoro telah menjadi suku yang ditunggu-tunggu untuk tampil dalam beberapa festival seperti Festival Danau Sentani.

Kepunahan kebudayaan Kamoro kini telah terhindarkan, bahkan saat ini Suku Kamoro merupakan satu dari dua suku besar yang memiliki hak ulayat di Timika. Hak Ulayat merupakan hak atas tanah yang kini dieksplorasi oleh PT Freeport Indonesia. Suku Kamoro yang berada di pesisir bersama Suku Amungme yang tinggal di pegunungan Timika menjadi dua suku besar yang mendapatkan prioritas akses fasilitas yang diberikan oleh perusahaan seperti pendidikan ataupun pelatihan teknis di bidang pertambangan melalui Nawangkawe Mining Institute.

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : Bagus DR / GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara