30 Jam Perjalanan Menuju Pengabdian di Surga Ekor Borneo

30 Jam Perjalanan Menuju Pengabdian di Surga Ekor Borneo
info gambar utama

Perjalanan itu dimulai saat kami turun dari pesawat. Hawa panas Kalimantan langsung menerpa wajah kami. Namun kami justru bahagia, karena kabarnya beberapa hari terakhir sedang terjadi cuaca ekstrem berupa hujan angin di Kalimantan Barat dan cuaca hari itu sedang berpihak di sisi kami, sehingga kami dapat loading barang ke Bus Damri dengan leluasa.

Bus Damri yang kami naiki berkapasitas 30 orang, tapi rupanya kami dan barang-barang kami jika diorangkan dapat mencapai 60 orang. Karena bagasi Bus tidak cukup untuk menampung semua barang, barang-barang kami ditaruh di ruang penumpang sehingga terasa sesak. Tapi sungguh, kesesakan itu terbayar dengan singgahnya kami di Masjid Mujahiddin. Sebuah Masjid Raya terbesar di Pontianak, ornamen dan cahaya keemasan berpendar indah dalam ruangan bercat kuning gading itu. Kami pun berkesempatan istirahat di Masjid ini dari siang hingga malam menyapa.

(Tim KKN UGM Temajuk 2016 berpose saat tiba di Bandara Pontianak/dok)
info gambar

Tepat pukul 19.30 WIB, kami meninggalkan masjid yang indah itu dan bertolak ke Sambas, Pontianak. Perjalanan ke Sambas ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 5 jam. Dalam perjalanan, kami beristirahat sembari ditemani musik dangdut yang dinyalakan oleh crew bus. Tidur kami terasa begitu singkat, sampai akhirnya kami berhenti untuk makan sahur di sebuah warung nasi padang. Jam saat itu menunjukkan pukul 1.30 dini hari. Setelah kurang lebih satu jam untuk sahur, kami meneruskan perjalanan ke Museum Kabupaten Sambas tempat kami singgah dan beristirahat.

Paginya, setelah puas tidur dan bersih-bersih, kami disambut oleh pemerintah setempat. Setelah penyambutan, kira-kira pukul 9.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus kota menuju Kecamatan Paloh. Di Paloh, kami banyak-banyak menyempatkan waktu untuk sekedar chatting dan update di jejaring socmed, karena di Paloh inilah tempat terakhir di mana internet masih bisa diakses.

Dari Kecamatan Paloh kami bergegas menuju Temajuk, untuk ke Temajuk kami harus menyeberangi Sungai Sumpit dengan menaiki Kapal Feri. Setelah menyeberang, rupanya jalanan tidak lebih baik dan bahkan memburuk. Sedikit sekali jalan aspal, hanya jalan tanah dengan semak-semak di kanan-kirinya. Lagi-lagi Kami beruntung karena cuaca panas masih berpihak pada kami. Jalanan yang berupa tanah liat masih sangat bisa dilewati dengan nyaman dan berpapasan dengan kendaraan lain. Walaupun sesekali bus berhenti untuk berjalan lebih pelan di lubang penuh air.

(Kapal Feri penyeberangan/Ayunda UGM)
info gambar

Perjalanan dari Paloh ke Temajuk memakan waktu sekitar 3 jam. Kami berteriak kencang kala Kormanit (Ketua rombongan) kami memberitahu bahwa kami telah sampai di dusun Camar Bulan, desa Temajuk.

Setiap orang di sepanjang jalan melihat ke arah kami sembari tersenyum. Hal ini terjadi sampai di kantor desa tempat kami turun. Rupanya warga telah berkerumun untuk menyambut kami. Kami dan warga dikumpulkan oleh perangkat Desa di Gedung Serbaguna. Intronya tidak panjang apalagi lebar. Pak Pandri, Sekdes Temajuk, langsung mengumumkan plotingan orang tua angkat yang menjadi orang tua kami selama 50 hari program KKN.

(Sungai Sumpit Temajuk yang masih dihuni banyak Buaya/Zahra UGM)
info gambar

“Adik-adik dan bapak serta ibu, orang tua angkat ini tidak hanya orang tua angkat di sini saja. Setelahnya, setelah KKN, orang tua angkat adalah tetap orang tua kalian dan anak angkat bapak ibu tetaplah anak bapak ibu sekalian. Hubungan kita tidak akan terputus setelah KKN, hubungan kita akan terus terjalin sampai kapanpun.” ungkap pak Pandri dengan matanya yang berkaca.

Sungguh, ada haru yang menyeruak kala Pak Pandri mengucap begitu. Kami seperti Kaum Muhajirin yang dipersaudarakan dengan Kaum Anshar kala Nabi Muhammad dulu Hijrah ke Madinah. Orang-orang di sini begitu hangat dan terbuka menerima kami. Kelelahan selama 30 jam perjalanan menguap seketika kala melihat senyum mereka terkembang seraya erat memeluk kami. Kami bersyukur sekali bisa sampai di sini, kami bersyukur diberi kesempatan yang luar biasa ini.

Dalam perjalanan ke rumah orangtua angkat, sore menjelang buka itu, pipi saya basah oleh air mata haru. Dalam hati saya mengucap "Ah, ternyata begini yang Bung Karno bilang, bahwa kita sebangsa karena senasib sepenanggungan. Suku, bahasa, status, dan jarak tiada berlaku." (*Zahratul Iftikar/Asrari Puadi)

#CeritaDariEkorBorneo merupakan sebuah program Tim KKN UGM Temajuk 2016 bekerjasama dengan GNFI. Yaitu sebuah serial cerita perjalanan yang mengangkat potensi serta inspirasi dari daerah Temajuk, sebuah daerah dari ekor Borneo yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.
Cerita Dari Ekor Borneo

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini