Satu kata Untuk Tim Sapuangin ITS 2016: Merinding!

Satu kata Untuk Tim Sapuangin ITS 2016: Merinding!

Satu kata Untuk Tim Sapuangin ITS 2016: Merinding!

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Belum pernah sebelumnya saya merasakan bagaimana perjuangan anak bangsa begitu menusuk hati ini. Bagaimana tidak, ketika kita semua berharap Indonesia tahun ini akan bisa kembali membawa pulang predikat juara di ajang Shell Eco Marathon (SEM) The World Drivers Championship musibah terjadi, unit mobil hemat energi berbasis diesel andalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dikabarkan terbakar! Kebakaran itu terjadi hanya beberapa minggu sebelum perlombaan yang dimulai pada tanggal 30 Juni - 3 Juli 2016 tersebut.

Spekulasi pun bermunculan, bagaimana nasib tim Sapuangin XI ITS yang berangkat dengan menyandang predikat Juara SEM Asia Pasifik ke-6 kali di London. Beberapa media menyebutkan adanya perbuatan sabotase, entah oleh siapa. Penyelidikan pun dilakukan untuk mencari siapa pelakunya. Tapi nyatanya bukan fokus pikiran kedelapan mahasiswa yang berangkat ke Inggris. Mereka tetap berpikir bagaimana bendara Indonesia dapat tetap bertanding bagaimanapun caranya.

Baca juga: Sapuangin ITS juarai Asia Pasifik Enam Kali Beruntun

Semua berfikir kontingan Indonesia yang diwakili oleh ITS akan gagal berkompetisi di kejuaraan tingkat dunia itu. Namun sebagaimana ditulis oleh Prof. Joni Hermana, Rektor salah satu kampus kebanggan Surabaya itu, Sapuangin ibarat burung Feniks yang kembali hidup dari abu, mobil itu kembali hidup dan menunjukkan bahwa Indonesia belum habis. Kalau boleh mengandaikan burung Garuda memiliki kemampuan Feniks, tentu saya akan memilih Garuda sebagai sosok mitologi.

Meski harapan sempat pupus akibat pihak panitia kejuaraan melarang tim Sapuangin ITS untuk membongkar puing-puing mobil yang masih berada di dalam peti kemas. Tim Sapuangin XI ITS akhirnya diperbolehkan untuk membangun bodi mobil yang baru dari nol dan memanfaatkan kerangka dan mesin mobil yang tersisa, hanya dalam waktu dua hari.

Tim Sapuangin XI ITS saat membangun mobil Sapuangin kembali dari puing (Foto: Institut Sepuluh Nopember / Facebook.com)
Tim Sapuangin XI ITS saat membangun mobil Sapuangin kembali dari puing (Foto: Institut Sepuluh Nopember / Facebook.com)

Dalam waktu singkat, Sapuangin kembali bangkit dengan bodinya yang baru (seperti tampak di foto utama). Bentuk mobil tidak sementereng sebelumnya, tanpa uji aerodinamika, berbahan alumunium (bodi aslinya berbahan carbon fiber yang ringan) yang dicetak dengan tangan dan tentu hasilnya tidak mulus bahkan terlihat sangat seadanya namun cukup untuk memperbolehkan tim ITS kembali mengujinya untuk mengitari sirkuit.

Sejujurnya, saya tidak menyaksikan bagaimana perjuangan tim Sapuangin XI ITS untuk kembali ke arena balapan. Sebab saya hanya menyimak melalui sosial media, tapi yang jelas bulu kuduk ini merinding membaca tulisan bapak Rektor yang dirilis di Laman Facebook ITS, kemarin pukul empat dini hari. Menjelang imsak wilayah Surabaya. Termasuk tulisan terbaru yang dirilis siang ini. Doa ibu pasti juga menyertai mereka sebagaimana stiker khas itu selalu melekat di bodi sapuangin disetiap ajang lomba.

Apa hasilnya? Kabarnya, tim Sapuangin XI ITS berhasil melakukan putaran percobaan dan mencapai angka tempuh 183km/l. Pencapaian ini tidak jauh berbeda dengan rekor mobil Sapuangin sebelumnya yang mencapai 249km/l yang nyatanya angka ini jauh melampaui seluruh kontingen juara benua di ajang SEM. Namun sayang, meski Sapuangin yang telah dibangun kembali tersebut dinyatakan tidak layak untuk mengikuti perlombaan karena berbagai alasan.

Haru dan bangga, tentu saja tidak dapat disembunyikan. Bila boleh jumawa, tampaknya pemuda dan karya Indonesia kini kembali dipandang sebagai sosok yang sangat diperhitungkan.

Walaupun bukan bagian dari almamater ITS, kisah perjuangan ini menjadi inspirasi yang mendalam bagi saya sebagai seorang Indonesia, lebih khusus sebagai alumni Surabaya. Ini hanya satu bagian kecil dari perjuangan anak bangsa di kancah dunia. ITS mungkin gagal tahun ini namun Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang juga berkompetisi dengan mobil listriknya berhasil membawa trofi SEM ke Indonesia. Merah putih tetap berkibar di London!

Sumber : Facebook.com
Sumber Gambar Sampul : Institut Sepuluh Nopember / Facebook.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Terminal Termegah di Indonesia Sebelummnya

Inilah Terminal Termegah di Indonesia

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.