Benedictus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tuntaskan Malaria di Timika

Benedictus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tuntaskan Malaria di Timika

Benedictus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tuntaskan Malaria di Timika

Timika menjadi daerah dengan angka malaria nomor wahid di Indonesia. Hingga akhir 2015 lalu, tingkat malaria di Timika masih dianggap mengkhawatirkan. Hal ini menggugah Benedctus Andries, seorang dokter muda asal Bogor, untuk mengabdi di sana demi memberantas malaria. Ia pun harus meninggalkan hiruk-pikuk dan gemerlap ibu kota demi menyelesaikan salah satu masalah bangsa ini.

Usai mengikuti program internship selama satu tahun di Pulau Sumbawa. Tepatnya di Dompu, NTB, Andries memilih untuk langsung bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua.

"Saya keinginan sendiri. Malaria itu parasitnya yang paling seksi untuk diteliti memang di Timika. Angka Malaria nomor 1 di Indonesia itu di Papua. Timika di Papua. Tapi Malaria di Papua sempat menurun selama satu dekade berdasarkan laporan Kemenkes. Salah satunya disebabkan karena terobosan-terobosan dan peran Yayasan," ucapnya.

Ada berbagai penelitian yang dilakukan di Pusat Penelitian Malaria Timika itu. Project-project penelitian juga dibagi oleh beberapa tim. Beberapa penelitian yang dilakukan seperti pengujian akan resistensi obat Malaria yang umum dipakai bagi penderita, dan juga pengujian terhadap ibu hamil yang menderita malaria. Penelitian ingin melihat bagaimana dampaknya terhadap sang anak jika sudah dilahirkan.

Gedung Pusat Penelitian Malaria Timika di komplek Rumah Sakit Mitra Masyarakat (Foto: Bagus DR / GNFI)
Gedung Pusat Penelitian Malaria Timika di komplek Rumah Sakit Mitra Masyarakat (Foto: Bagus DR / GNFI)

Di saat banyak orang muda di usianya memilih untuk bekerja di tengah kehidupan metropolitan, travelling, atau hal-hal glamor, tidak demikian dengan Andries. Tujuan hidupnya adalah berbuat sebanyak mungkin untuk masyarakat melalui ilmu yang dipunya. Untuk bisa berbuat lebih banyak lagi, pria kelahiran 30 Agustus 1988 tersebut ingin meningkatkan kemampuannya.

"Saya berencana mau ambil sekolah lagi, biar ada keilmuan lebih sehingga bisa memberi lebih banyak untuk mereka. Saya pingin ambil spesialis anak," ujarnya.

Saat nanti Andries kembali ke bangku kuliah untuk mengejar spesialisnya, ia terpaksa meninggalkan penelitiannya. Menurut dia hal tersebut tidak masalah karena penelitian sudah pasti akan terus berjalan. Ketika pendidikan spesialisnya usai dilakukan, ia juga tak segan untuk kembali ke Timika.

"Ini daerah yang saya familiar, kalau memang nantinya masih dibutuhkan, saya dengan senang hati akan kembali," tegas Andries.

Sebenarnya tak banyak harapan Andries melalui pekerjaannya. Ia bahkan sampai rela mengorbankan kehidupan pribadinya dengan satu tujuan mulia, khususnya bagi masyarakat Papua.

"Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas Malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?" tutup Andries mantap.

Sumber : detik.com
Sumber Gambar : detik.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Startup Pertanian Karya Anak Bangsa Ini Berpotensi Ekspansi Ke Turki dan Jepang Sebelummnya

Startup Pertanian Karya Anak Bangsa Ini Berpotensi Ekspansi Ke Turki dan Jepang

Tanaman Paku Selanjutnya

Tanaman Paku

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.