Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Film Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-kata" Tayang Perdana di Swiss

Asrari Puadi
Asrari Puadi
0 Komentar
Film Wiji Thukul
Film Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-kata" Tayang Perdana di Swiss

Film yang mengangkat kisah kehidupan aktivis juga sastrawan Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-Kata" akan tayang perdana di Swiss di ajang Locarno International Film Festival 2016. Film ini akan berkompetisi dalam secsion Concorso Cineasti del presente, ajang bagi pembuat film dari berbagai belahan dunia yang terpilih berkompetisi untuk film pertama atau keduanya. Locarno International Film Festival ke-69 yang diselenggarakan pada tanggal 3 hingga 13 Agustus 2016.

Istirahatlah Kata-Kata mengambil kisah hidup penyair Wiji Thukul selama masa pelarian pada 1996 setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Sutradara asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen mengarahkan film ini dengan Gunawan Maryanto yang didaulat berperan sebagai Wiji Thukul.

"Membaca puisi-puisi Wiji Thukul adalah membaca catatan harian tentang rumah sederhana, nasi, roti yang tak terbeli dan cerita-cerita tetangga," ujar sutradara Yosep Anggi Noen. Ia menambahkan, "Wiji menunjukkan bahwa puisi mampu disusun dari keseharian, bukan saja bunga-bunga kata. Wiji menyajikannya dalam puisi yang lugas sekaligus lugu sehingga sangat efektif mencatat jaman dan mengoreksi kekuasaan pada masa itu."

Rencananya film ini juga akan tayang di Indonesia. "Film ini didedikasikan untuk penonton Indonesia. Terutama generasi muda. Kami sedang dalam proses persiapan penayangan di indonesia," imbuh Yulia lagi.

Baca Juga



Sumber : rolling stone
Sumber Gambar Sampul : google.images

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASRARI PUADI

Pejalan Kemana Saja. Mamut Menteng Ureh Utusku. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie