Lupa Sandi?

Kunjungan Bung Karno ke Turki 1959

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kunjungan Bung Karno ke Turki 1959

Pagi ini dunia kembali diguncang berita besar dari Eropa. Setelah serangan teror di Nice, Prancis Selatan, giliran Turki yang diguncang badai. Kali ini upaya sebuah faksi kecil di militer Turki yang mencoba menguasai Instanbul dan Ankara (kedua kota terbesar dan terbesar ke-dua). Tak henti-henti dunia mengamati hasil dari kudeta singkat yang gagal tersebut. 

Di luar berita itu, Turki sudah lama menjadi sahabat Indonesia. Negeri ini memang lebih dulu maju dibanding kita, hingga sekarang. Letak geografisnya yang sangat baik memungkinkan segala pergerakan manusia dan barang menjadi lebih menguntungkan. 

Dari sisi sejarah, Turki juga menjadi rumah bagi sejarang panjang peradaban Eropa dan dunia, dan dari sinilah Eropa pernah diharu biru selama ratusan tahun. Namun Turki juga tak pernah lekang dari intrik dan pertarungan politik. Bahkan dia begitu menarik perhatian presiden pertama RI, Bung Karno. 

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pernah berbicara banyak tentang Turki dan Atatürk dalam majalah Panji Islam. Dalam artikel tersebut, Presiden Soekarno banyak membahas tentang dialektika perkembangan politik Turki di era akhir Kesultanan Usmani dan awal Republik Turki.

Baca Juga
Presiden Soekarno di Kawasan Ulus, Ankara, setelah Keluar dari Gedung Parlemen Turki. Arsip Foto Koran Cumhuriyet
Presiden Soekarno di Kawasan Ulus, Ankara, setelah Keluar dari Gedung Parlemen Turki. Arsip Foto Koran Cumhuriyet

Ada satu kutipan menarik yang disampaikan oleh Presiden Soekarno: "Sebab, sebenarnya, orang yang tidak datang menyelidiki sendiri keadaan di Turki itu, atau tidak membuat studi sendiri yang luas dan dalam dari kitab-kitab yang mengenai Turki itu, tidak mempunyailah hak untuk membicarakan soal Turki itu di muka umum. Dan lebih dari itu: ia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atas negeri Turki itu di muka umum."

Nampaknya, Presiden Soekarno memiliki minat yang amat mendalam terhadap perkembangan politik di Turki hingga menulis pernyataan tersebut.

Beruntung, pada tanggal 24 April 1959, Presiden Soekarno berkesempatan untuk mengunjungi Ankara dan mengamati Turki secara langsung. Foto di atas menunjukkan Presiden Soekarno yang baru mendarat di Lapangan Terbang Esenboga. Beliau tampak tersenyum bahagia, mungkin karena akhirnya beliau dapat bertandang ke tanah Turki, tempat yang pernah beliau jadikan inspirasi dalam memformulasi gagasan untuk Indonesia merdeka. Presiden Soekarno tampak disambut oleh Presiden Celal Bayar, salah satu politisi yang dekat dengan Mustafa Kemal Atatürk dan Presiden Turki ke-3.

Presiden Soekarno Tiba di Lapangan Terbang Esenboga Ankara, Disambut Presiden Celal Bayar (Kanan). Arsip Foto Kantor Kepresidenan Turki
Presiden Soekarno Tiba di Lapangan Terbang Esenboga Ankara, Disambut Presiden Celal Bayar (Kanan). Arsip Foto Kantor Kepresidenan Turki

Selama di Turki, Presiden Soekarno berkesempatan mengunjungi Anitkabir, makam Atatürk. Di Anitkabir beliau berpidato di hadapan pemuda Turki dan menyampaikan bahwa Atatürk telah menjadi salah satu inspirasi Presiden Soekarno dalam merumuskan gagasan hubungan agama-negara.

Selanjutnya, pada tanggal 26 April 1959, Presiden Soekarno juga mengunjungi Istanbul dan tempat-tempat bersejarah di kota tersebut. Pada tanggal 29 April 1959, Presiden Soekarno menyelesaikan kunjungannya di Turki dan melanjutkan kunjungannya ke Polandia. Sayang sekali, setelah kunjungan Presiden Soekarno dari Turki, nampak tidak ada artikel yang beliau tulis sebagai refleksi tentang kenyataan yang beliau lihat sendiri di Turki.

Kunjungan Presiden Soekarno ke Turki ini tentu penting dan layak untuk kita ingat. Karena peristiwa tersebut merupakan awal dari kunjungan antar pemimpin kedua negara yang terus berlanjut hingga sekarang dan sekaligus menjadi fondasi bagi hubungan bilateral Indonesia-Turki yang terus membaik. Di masa-masa ketika Perang Dingin sedang memanas dan Turki pada masa itu menjadi bagian dari Blok Barat, Presiden Soekarno dengan pandangan Non-Bloknya tetap mencoba untuk membangun persahabatan dengan Turki --sebuah negara demokratis, modern, dan berpenduduk mayoritas Muslim. Presiden Soekarno pada saat itu mungkin memiliki keyakinan dan visi bahwa Turki suatu saat akan jadi salah satu negara yang punya ikatan kuat dengan Indonesia.

Sumber : Turkish Spirit
Sumber Gambar Utama : soekarnodalamkenanganfoto.blogspot.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata