Negeri ini bukanlah tempat yang dekat dari Indonesia. Jaraknya.... cukup jauh. Perlu terbang berbelas jam, termasuk transit, untuk sampai ke negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali ini. Mesir, negara di tepi laut Merah yang tak pernah sepi dari  hingar bingar politik sejak masa dulu, hingga beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari nasionalisasi terusan Suez, terbunuhnya presiden Anwar Sadat, hingga tergulingnya presiden Hosni Mubarak beberapa tahun lalu, terpilihnya Muhammad Mursi lewat pemilu, hingga jatuhnya dia oleh Jenderal Sisi yang kini menjadi presiden. 

Mengunjungi mesir adalah mengunjungi cerita panjang. Sebuah negeri tertua di dunia yang ... masih berdiri tegak hingga kini. Di Mesir lah kota tertua di dunia didirikan, yakni Alexandria (Iskandariyyah), kira-kira 3 jam perjalanan dari Cairo,  yang didirikan oleh Alexander The Great pada tahun 331 sebelum  masehi. Di negeri ini juga berdiri tegak monumen-monumen raksasa yang menjadi salah satu keajaiban dunia, yakni Pyramid yang berumur hingga 2700 tahun sebelum masehi. 

Tentu rakyat Mesir adalah rakyat yang bangga pada sejarah panjang negerinya, termasuk bagaimana para pendahulu mereka bertempur mati-matian melawan Israel beberapa kali. Kota satelit Kairo, ibukota Mesir, dinamakan 6th of October City, yakni pertempuran bulan Oktober 1973 antara Mesir dengan Israel. Jalan lingkar utama di Kairo juga dinamai Jalan 6 October untuk memperingati hari yang dibanggakan oleh rakyat Mesir tersebut. 

Cairo yang Indah di malam hari
Cairo yang Indah di malam hari

 

Sekali lagi, inilah negeri yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia sebelum negara-negara lain menyusul. Beberapa hari setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, rakyat Mesir bergolak dan turun ke jalan, berdemo di depan kantor-kantor perwakilan Belanda di Mesir, dan memboikot kapal-kapal Belanda yang berlabuh di negeri tersebut. Tujuannya jelas, agar Belanda ‘melepaskan’ Indonesia dan Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir sendiri merdeka 23 tahun sebelumnya, yakni 22 Februari 1922 dari penjajahan Inggris. Akhirnya, Maret 1946, Mesir mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia, yang gemanya membahana hingga ke banyak negara lain di Asia dan Afrika. 

Saya mewakili Good News From Indonesia diundang dalam acara Simposium Internasional PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Dunia di Cairo, untuk sharing mengenai berbagai visi dan rencana-rencana GNFI terkait tentang membangun kebanggaan dan kecintaan pada Indonesia. Saya merasakan sekali betapa orang Indonesia begitu diterima dengan ramah di negara ini. Di berbagai tempat di Cairo, saya bertemu begitu banyak orang Mesir yang memberi senyum pada saya. Mereka tahu saya dari Indonesia, karena kaos yang yang merah putih dan bertuliskan besar “INDONESIA”. "Assalamualaikum, Indonesia" saya mendengar ini berkali-kali dialamatkan ke saya. Gembira, iya. Bangga, tentu saja. 

Pyramid dan Sphinx di Giza
Pyramid dan Sphinx di Giza

 

Hari ini, seharian saya naik taksi dan sopir taksinya begitu bangga mengetahui saya dari Indonesia. “Indonesia....really good. Number one”. Entah apa maksudnya, tapi beliau menceritakan bahwa banyak orang Indonesia yang dia temui, dan dia selalu menyatakan hal yang sama, kecintaannya dan keingintahuannya tentang Indonesia. Di dekat pyramid di Giza, saya bertemu dengan Ahmed, pemuda 30 tahun yang kerjanya menjadi tour guide bagi para turis yang ingin berkunjung ke pyramid-pyramid di dekat rumahnya. 

“Indonesia?” tanyanya. “Na’am, i am Indonesian” jawab saya. Tak disangka, responnya mengejutkan saya. “Ahmed Soekarno!"

(gambar utama : wallpaperbeta.com)

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga