Menilik Bangunan-Bangunan Kuno di Probolinggo

Menilik Bangunan-Bangunan Kuno di Probolinggo
info gambar utama

Sejarahnya, Probolinggo adalah salah satu kota pelabuhan yang dibangun dan dirancang oleh pemerintah kolonial Belanda. Kota ini pertama kali mendapatkan otonomi dari pemerintahan Belanda sebagai Gementee.

Gemeente merupakan daerah otonomi khusus setingkat kota yang dibentuk pada tahun 1905 dan pada tahun 1918, terdapat 19 Gemeente di seluruh tanah Jawa. Penetapan Gemeente (otonomi khusus) untuk Probolinggo berdasarkan Ind. Staatsbl. 1918 No 322, pada tanggal 1 Juli 1918 terutama ditinjau letaknya yang strategis, dikelilingi oleh beberapa buah pabrik gula, perkebunan tembakau dan lain–lain.

Aktifitas di salah satu sudut Pabrik Gula Wonolangan
info gambar

Sebagai mantan Gementee, banyak bangunan peninggalan kolonial yang masih berdiri kukuh sampai saat ini. Seperti halnya pemandangan umum kota-kota di Jawa, di Probolinggo terdapat alun-alun yang dikelilingi penjara, stasiun, masjid, jalan utama (Grote de Postweg) dan fasilitas publik lainnya. Yang mana itu semua terhubung melalui satu jalan lurus ke kediaman sang penguasa.

Akan tetapi hal paling unik yang dimiliki Probolinggo adalah tata ruang kotanya yang kental nuansa Eropa. Sebagai penjajah dari seberang laut nun jauh di sana, pemerintah Belanda berusaha mengatur tata ruang Probolinggo semirip mungkin dengan negeri mereka berasal. Ini dilakukan untuk mengobati rasa rindu mereka kepada tanah airnya.

Selain itu mereka merancang kota tanpa mengurangi sifat-sifat penjajah yang suka memecah-belah bangsa Indonesia. Ini tercermin dari pembagian-pembagian kampung berdasarkan ras yang ada di kota Probolinggo.

Perkembangan kota Probolinggo dari masa ke masa
info gambar

Dimulai dari kediaman asisten residen. Bangunan ini sekarang menjelma gedung utama Komando Distrik Militer 0820. Dari gedung inilah penguasa lokal yang mewakili Kerajaan Belanda memegang tampuk pemerintahan. Gedung ini menghadap ke utara, yaitu ke Heerenstraat (sekarang Jalan Suroyo). Di kiri-kanan Heerenstraat inilah terkhusus komunitas bangsa Eropa menempati wilayah kota.

Sedikit ke barat dari Jalan Suroyo terdapat kampung Melayu seluas satu blok wilayah. Kampung ini dihuni oleh bangsa Melayu yang berasal dari daratan Sumatera. Lebih ke barat lagi terdapat perkampungan orang-orang Arab yang berdiri di lahan dengan dua jalan utama (sekarang Jalan Wahidin dan Jalan R.A. Kartini).

Pemetaan wilayah kota tua Probolinggo
info gambar

Di sisi timur Jalan Suroyo akan didapati Pecinan (Chinatown). Ini merupakan kawasan perdagangan yang paling ramai di Probolinggo hingga sekarang. Luasnya meliputi wilayah di kiri-kanan empat jalan utama. Di ujung utara Pecinan terdapat satu-satunya Klenteng termashur di kota ini.

Klenteng Tri Dharma Probolinggo
info gambar

Penyebabnya adalah keangkeran yang dipercaya masyarakat Jawa akan bangunan tusuk sate ini (bangunan tusuk sate = bangunan yang menghadang jalan atau memotong badan jalan). Menurut kepercayaan, bangunan tusuk sate merupakan ila-ila (pamali) karena bisa mengundang roh jahat untuk menghuninya. Stigma ini diperkuat dengan rimbunnya dahan pepohonan tua yang mengelilingi bangunan ini. Tapi tidak perlu khawatir, bangunan tusuk sate tidak akan dihuni roh jahat selama bangunan tersebut digunakan untuk tempat beribadah.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, dimanakah pemukiman untuk orang Jawa berdiri? Masyarakat Jawa mendirikan rumah di sekitar daerah Jati hingga menyebar terus ke timur. Pemerintah Belanda pada mulanya memang mengatur kota dengan Jalan Gatot Subroto sebagai batasnya. Ini dikarenakan pada masa itu jumlah rumah masih dapat dihitung jari serta jarak antar satu rumah dengan rumah lain tidak serapat sekarang.

Bukti kuatnya pengaruh arsitektur kolonial juga dapat dilihat dari gedung-gedung penting yang masih ada sampai sekarang. Corak gedungnya yakni memiliki pilar-pilar raksasa, menggunakan semen putih, berpintu dua yang di sampingnya terdapat dua jendela atau lebih, serta memiliki jarak yang cukup jauh antara ubin dengan atapnya.

Beberapa bangunan peninggalan tersebut diantaranya:

Komando Distrik Militer 0820

Gedung utama Komando Distrik Militer 0820
info gambar

Gedung utama Kodim 0820 adalah tempat Burgemeester (mayor yang ditunjuk sebagai wakil dari asisten residen) memerintah Gementee Probolinggo.

Museum Dr. Saleh

Museum Dr. Moh. Saleh
info gambar

Museum ini merupakan bekas rumah Dr. Moh. Saleh berikut rumah sakit pertama yang dirintis oleh beliau. Dr. Saleh merupakan ayahanda dari Abdurrahman Saleh, pahlawan yang menjadi nama dari bandara di Malang. Beliau adalah anggota aktif dari berbagai organisasi pada masa-masa kebangkitan nasional.

Penamaan RS dr. Moh. Saleh didedikasikan kepada beliau atas jasa-jasanya dalam membangun rumah sakit pertama di Probolinggo. Mulanya rumah sakit ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa saja. Namun beliau juga menerima pasien dari kaum pribumi. Hanya saja mereka harus rela disembunyikan di loteng kala ada orang Eropa yang sakit pada hari yang sama. Bekas loteng yang digunakan untuk menyembunyikan pasien pribumi masih dapat dinikmati hingga sekarang di museum ini.

Museum Probolinggo

Museum Probolinggo
info gambar

Museum ini diresmikan pada tanggal 15 mei 2011. Sebelum diresmikan menjadi Museum Probolinggo, bangunan ini awalnya ialah sebuah gedung serba guna atau gedung societed gebow harmonie yang dulunya digunakan sebagai ballroom para priyayi Belanda untuk bersenang-senang seperti pertunjukan drama, dansa dan berbagai bentuk hiburan lainnya. Seiring berjalannya waktu dan untuk melestarikan cagar budaya, akhirnya gedung ini menjadi Museum Probolinggo yang di dalamnya bercerita tentang sejarah Gemeente Probolinggo dari masa ke masa.

Stasiun Probolinggo

Stasiun Probolinggo
info gambar

Selayaknya stasiun, tempat ini sekarang digunakan sebagai tempat pemberhentian kereta api mili PT. KAI. Mulanya stasiun ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi Probolinggo (utamanya gula) menuju kapal yang bersandar di Pelabuhan Lama untuk dikirim ke Surabaya.

Rumah Dinas Kepala Stasiun

Rumah Dinas Kepala Stasiun Probolinggo
info gambar

Bangunan ini berdiri tepat di samping Stasiun Probolinggo.

Bangunan di Pecinan

Gedung-Gedung Tua di Pecinan
info gambar

Rumah-rumah kuno disini beberapa masih dalam keadaan utuh dan menunjukkan ciri khasnya masing-masing

Bangunan di Jalan Suroyo

Gedung-gedung tua yang ada di Jalan Suroyo
info gambar

Adalah jalan tempat komunitas Eropa mendirikan rumah-rumah mereka. Sekarang jalan ini ditenpati oleh instansi-instansi penting Pemerintah Kota Probolinggo serta industri perbankan terkemuka.

Tempat Sekring

Gedung penyimpanan sekring
info gambar

Bangunan berbentuk balok ini digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menyimpan sekring yang pada saat itu masih tradisional serta berukuran besar.

Gedung ADM Pabrik Gula Wonolangan

Rumah Dinas Direktur PG Wonolangan
info gambar

Merupakan rumah dinas ADM (direktur) PG. Wonolangan. Gedung ini sangat mencolok jika dilihat dari Jalan Raya Dringu.

Usaha ‘mem-belanda-kan’ Probolinggo tidak berhenti hanya dengan membangun gedung-gedung saja. Pihak kolonial juga menanam ratusan pohon asam jawa di kiri-kanan jalan-jalan yang melintang di sini. Beberapa pohon asam tersebut diantaranya masih hidup hingga sekarang. Penanaman pohon asam jawa yang daunnya lebat dan teduh konon terilhami dari jalanan di Belanda yang begitu rindang.

Pemerintah Dutch East Indies juga disinyalir berhasil mengeringkan laut untuk menata saluran air. Ini dibuktikan dengan kedudukan benteng (fort) di Mayangan sekarang ini yang letaknya sedikit jauh dari Pelabuhan Lama.

Penulis berspekulasi bahwa Kali Banger dulunya mungkin juga ingin dirubah menjadi kanal-kanal seperti di Amsterdam maupun Zeeland. Hanya saja mereka harus ‘pulang’ ke negeri asal setelah tentara Jepang menduduki Indonesia.

Jadi buat kamu khususnya mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur maupun Pariwisata, jangan segan-segan untuk berkunjung ke Probolinggo untuk belajar. Sebab Probolinggo dulunya adalah kota pelajar sebelum predikat itu jatuh ke tangan Kota Malang. Buktinya adalah di sini pernah berdiri STOVIA, Sekolah Pendidikan Guru (SPG, sekarang menjadi gedung SMKN 3 Kota Probolinggo), Sekolah Guru Olahraga (SOG, sekarang menjadi SMAN 4 Kota Probolinggo) serta Perguruan Taman Siswa yang masih bertahan hingga sekarang. Bahkan Keuskupan Malang bergantung pada Seminari (sekolah khusus pastor) Probolinggo sebagai upaya regenerasi pemuka-pemuka agama mereka.




Sumber :
Sumber Gambar Sampul :

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini