Lupa Sandi?

Karma Phala adalah “Buku Diary” Kehidupan Kita

Ketut Adnyana
Ketut Adnyana
0 Komentar
Karma Phala adalah “Buku Diary” Kehidupan Kita

Klungkung demikianlah nama sebuah kabupaten terkecil yang ada di provinsi Bali. Walaupun secara politik kekinian wilayah administratif Klungkung adalah terkecil, namun pada zaman kerajaan dulu, Klungkung adalah merupakan pusat pemerintahan raja-raja Bali, dengan ibukotanya Semarapura. Dan kerajaan Klungkung merupakan kerajaan terakhir yang menyerahkan diri kepada penjajah Belanda, yang di tandai dengan terjadinya perang Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908. Dan semenjak itu pula menjadi klimaks jatuhnya pulau Bali ke cengkeraman penjajah Belanda yang akhirnya menguasai pulau Bali secara keseluruhan.

Dibalik kebesaran masa lalu kerajaan Klungkung tersimpan banyak “harta karun sejarah informasi” yang bisa di ceritakan lewat museum Semarajaya. Semarapura sebagai ibukota kerajaan tentu di kelilingi oleh perkampungan seniman kerajaan di sekitarnya yang banyak menterjemahkan pesan pesan raja ataupun undang undang pemerintahan lewat karya seni lukis yang banyak di tampilkan di Taman Gili Kertagosa.  Disamping karya seni lukis, karya seni patung juga merupakan media yang digunakan untuk mendidik rakyat jaman dulu hingga sekarang. Karya seni lukis ataupun karya seni patung ini memang banyak yang di ilhami dari cerita epos mahabrata, bratayuda, ataupun Ramayana, namun tidak sedikit yang di ambil dari intisari ajaran agama hindu.

Sebagai contoh: Patung Sang Suratma yang merupakan manifestasi (representasi) dari Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas untuk mencatat segala perilaku atau karma manusia ketika mereka masih hidup, di visualisasikan dengan Patung yang sedang memegang “Buku Diary”  dan lokasi keberadaan patungnya juga di sesuaikan sehingga makna yang ingin di sampaikan bisa cepat tercapai dan masyarakat yang melihatnya juga bisa cepat menyadarinya. Patung Sang Suratma di bangun persis bersebelahan dengan kantor pengadilan negeri klungkung (yang notabene merupakan tempat mengadili manusia yang masih hidup di dunia ini) dan juga patung ini berada tidak jauh dari kuburan sebuah desa di Klungkung, yaitu ruang tunggu untuk pengadilan berikutnya setelah kehidupan manusia berakhir di dunia ini.

Singkat cerita , bila ditinjau dari masa atau waktu antara karma dengan pahala yang diterima oleh umat manusia, Karma-phala ada tiga jenis yaitu:

  • Prarabda karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima pula semasa hidup atau seketika.
  • Kryamana karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima di nirwana.
  • Sancita karma phala, yaitu karma yang dilakukan semasa hidup dan pahalanya diterima pada reinkarnasi/ kehidupan berikutnya.

Seperti yang diyakini penganut agama Hindu, ketiga kategori Karma Phala manusia terdapat di buku catatan (buku diary) Sang Suratma, seperti tampak di Patung diatas.  Sang Suratma selain bertugas sebagai pencatat atau juru tulis segala perilaku manusia ketika mereka masih hidup juga bertugas untuk mengantarkan sang atma (jiwa atau roh) tersebut ke tempat khusus di alam yang baru yaitu sebuah tempat dengan beragam kondisi sebagai tempat atma menerima perlakuan sesuai dengan kelakuannya di dunia.

Lebih lanjut, Sang Suratma bersama sama dengan Sang Jogormanik , seperti tampak di foto di bawah, dipercaya bertugas untuk mengungkap catatan perbuatan roh selama menyatu dengan badan ‘wadag’ di muka bumi dan sebagai pelaksana hukuman yang ditimpakan kepada roh ketika sudah lepas dari jasad.

Hal lain yang perlu di ingat oleh setiap umat manusia adalah pada tubuh manusia sejak berwujud abstrak hingga kama dan akhirnya utuh menjadi manusia diyakini penuh dengan aksara suci yang sangat rahasia, misalnya:

  • Pada kaki manusia terdapat tulisan tempat Sang Jogor Manik.
  • Pada tulisan telapak tangan terdapat Sang Suratma.
  • Pada dua buah tangan terdapat Sang Cikrabala.
  • Pada dua buah lengan terdapat Sang Kola Utama.

Jadi tanpa pengawasan dari orang lain pun sesungguhnya kita sudah sepantasnya selalu berhati-hati untuk menjaga pikiran kita, perkataan kita, dan perbuatan kita, karena di dalam tubuh kita sendiri sudah terdapat semacam “internal sensor” yang selalu mencatat kebaikan dan dosa-dosa yang kita perbuat selama hidup di dunia ini.

Refleksi

Mengakhiri cerita singkat ini, selagi kita bernafas dan diberikan umur yang panjang, keselarasan pikiran, perkataan, dan perbuatan seperti tertuang dalam “Tri Kaya Parisuda” adalah sangat penting untuk kita pegang teguh dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari hari, demi kebaikan kita sendiri selama menjalani kehidupan di dunia ini dan demi perjalanan kehidupan kita di alam dunia selanjutnya.

Melalui patung yang sesungguhnya memang sudah dikenali oleh masyarakat klungkung, baik itu wujudnya ataupun namanya serta fungsinya, dirapkan oleh pemerintah kabupaten klungkung bisa dijadikan sebagai pengingat kepada rakyat klungkung untuk selalu berperilaku baik selama hidupnya. Dan bagi wisatawan yang kebetulan melewati kabupaten klungkung, keberadaan patung sang suratma ini tentulah menjadi sebuah obyek wisata yang menarik untuk di foto. Namun pendiripatung ini yakin sang guide pastilah bisa menjelaskan nama serta maksud keberadaan patung sang suratma ini, yang keberadaannnya bukanlah tanpa makna. 


Caption (Sumber Gambar)

Sumber :
Sumber Gambar Sampul :widnyana sudibiya

Label:
karma phala
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG KETUT ADNYANA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata