Lupa Sandi?

Masih Ada Kabar Baik Dari Banjarnegaraku

Hendi Setiyanto
Hendi Setiyanto
0 Komentar
Masih Ada Kabar Baik Dari Banjarnegaraku
Masih Ada Kabar Baik Dari Banjarnegaraku

Wiwit bakda subuh, kono-kene tandang gawe

Podo rebut resik, tangan alus rampung disit

Umah pekarangan, mlebu latar gilar-gilar

Dalan aspal alus, kiwo tengen ijo mupus

Baca Juga

Lha kae tamane kebak kembang sakwernane

Sore soyo rame, bakul jajan pinggir dalan

Lampu pancawarna, nambahi asrining kuta

Ayo do’nyatakno iki lho Banjarnegara

Kembang-kembang jambu, tuku beruk dinggo wadah runtah

Runtah degawe lemon, umah bersih nganti tekan pawon

Pawon nganggo kompor, tuku lenga kecampuran banyu

Banyu disogi rinso, ngepel jogan kena kanggo ngilo

Ngilo desambi jangan, mengak-mengok mas/mba nek nyebrang dalan

Dalane padang njinggrang, kiwo-tengen detanduri kembang

Kembang-kembang salak, turu mluker pancen lara ngawak

Awak temibo kasur, rakyat penak negarane makmur

Sebuah lagu tradisional yang selau dinyanyikan oleh ibu sewaktu saya masih kecil. Hingga kini, saya pun masih hafal dengan liriknya. Sebuah lagu yang menceritakan tentang semangat warga Banjarnegara memulai aktivitas dari bangun pagi hingga menjelang istirahat saat malam hari sambil menikmati kota Banjarnegara Gilar-Gilar.

***

Banjarnegara, sebuah kabupaten kecil yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, daerah Banjarnegara terdiri dari 3 bagian utama yaitu:

Bagian utara merupakan kawasan pegunungan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Pekalongan dan juga Batang. Pada kawasan ini, mayoritas berada di dataran tinggi Dieng dan pegunungan Serayu Utara yang diberkahi dengan tanah yang subur dan juga potensi alam yang melimpah terutama panas bumi. Selain terkenal dengan hasil pertanian berupa kentang dan juga buah Carica, kawasan ini juga dikenal dengan tempat wisatanya yang sudah terkenal seantero Indonesia, ya kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan kawah, candi, telaga dan juga dengan puncak Sikunirnya.

Bagian tengah merupakan kawasan yang berada pada aliran Sungai Serayu yang mempunyai peranan cukup besar dalam perkembangan sejarah kota Banjarnegara. Mulai dari kecamatan Banjarnegara, Bawang, Wanadadi hingga Klampok yang berada pada aliran Sungai Serayu. Selain itu, Sungai Serayu juga berperan dalam kesejahteraan petani yang memfungsikannya untuk pengairan lahan sawah mereka. Sungai Serayu juga dijadikan sebagai bendungan atau waduk dan difungsikan juga sebagai pembangkit listrik tenaga air yang berada di kecamatan Wanadadi dan Bawang.

Bagian selatan merupakan kawasan pegunungan Serayu yang berbatasan langsung dengan kabupaten Kebumen. Pada kawasan ini kontur pegunungannya lumayan curam yang melewati kecamatan Pagedongan, Bawang (Gunung Tampo Mas), Mandiraja, dan juga Susukan yang pada bagian barat berbatasan langsung dengan kabupaten Banyumas.

***

Beberapa tahun ini, Banjarnegara sering kali menghiasi berita-berita nasional bukan karena prestasinya maupun keberhasilan pembangunannya namun karena kondisi tanahnya yang sering longsor dan mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit. Masih teringat jelas dalam benak masyarakat Banjarnegara ketika longsor di daerah Sijeruk-Banjarmangu (tahun 2006), merenggut banyak korban jiwa hingga materi. Selama beberapa hari, berita-berita nasional baik cetak maupun televisi menayangkan berita mengenai longsor Sijeruk tadi.

Beberapa tahun berikutnya, kejadian yang sama pun terulang kembali, kali ini longsor besar menimpa warga dusun Jemblung, desa Sampang kecamatan Karangkobar (Desember 2014). Sebuah bukit yang terkena guyuran hujan secara terus menerus mengakibatkan longsor dan mengubur hampir 3 dusun di bawahnya. Korban jiwa pun berjatuhan dalam jumlah banyak hingga harta benda yang terkubur longsoran tanah. Kini jika melintas ke Karangkobar-Dieng, kita akan melewati bekas lokasi longsor Jemblung yang berada di pinggir jalan raya tadi dan bisa berhenti sejenak untuk merenung maupun mendoakan para korban yang telah meninggal dunia.

Walaupun Banjarnegara mungkin akan selalu diidentikan dengan bencana longsornya, saya sebagai warga asli Banjarnegara tentu punya kebanggan tersendiri mengenai tempat kelahiran dan tinggal ini. Masih banyak sekali hal-hal positif yang bisa dibanggakan dan dikabarkan dari Banjarnegara mulai dari potensi wisatanya (selain Dataran Tinggi Dieng yang sudah dikenal) hingga hasil pertanian yang cukup terkenal yaitu salak dan juga sayur mayurnya.

Berbekal dari fakta tersebut, maka saya beserta seorang teman hampir setahunan ini menjelajahi hampir seluruh potensi wisata yang masih belum dikenal mulai dari ujung utara-selatan hingga timur-barat kabupaten Banjarnegara. Lebih fokus lagi, kami menggali potensi curug (air terjun) yang banyak terdapat di hampir tiap kecamatan yang berada di kabupaten Banjarnegara.

Potensi curug di kabupaten Banjarnegara sejatinya lumayan banyak, apalagi yang masih tersembunyi dan belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah kabupaten. Berikut cerita salah satu curug yang berpotensi menjadi sebuah tempat wisata baru dan diharapkan bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi warganya yaitu Curug Pletuk yang berada di kecamatan Pagedongan-Banjarnegara.

***

Pohon pinus yang banyak tumbuh di sekitar kecamatan Pagedongan
Pohon pinus yang banyak tumbuh di sekitar kecamatan Pagedongan

Kaki-kaki basah dan belepotan lumpur ini menuruni jalan tanah yang licin menuju sungai di depan sana. Sementara itu hijaunya pohon pinus yang menyelimuti pegunungan ini membuat sedap dipandang serta menyejukan mata. Dari kejauhan terdengar suara riuh anak-anak yang bercengkerama dengan riang gembira. Makin mendekat suara-suara itu makin terdengar jelas. Sepuluhan anak seumuran tujuh-delapan tahunan, lelaki-perempuan sedang asik bermain air di antara bebatuan besar. Aliran sungai ini begitu deras dengan airnya yang super jernih. Lebar sungai ini hanya sekitar dua setengah meter dan kedalaman sebatas lutut kami.

Jernihnya aliran sungai yang berasal dari Curug Pletuk
Jernihnya aliran sungai yang berasal dari Curug Pletuk

Kami berhenti sejenak menyaksikan tingkah polah bocah-bocah ini. Sementara itu di atas batu besar terlihat sesosok perempuan berhijab yang tengah asik mencelup-celupkan kakinya yang mulus itu ke dalam air. Sesekali mata awasnya memandangi dengan teliti bocah-bocah di depannya. Ya itu bocah-bocah sekitar desa yang sedang menikmati keindahan alam karya Tuhan. Mereka tidak perlu direpotkan dengan biaya masuk, transportasi atau pun uang jajan hanya untuk menikmati suasana bermain air. Beda dengan bocah-bocah kota yang harus mengeluarkan uang dan lainnya hanya untuk menikmati rasanya bermain air macam di waterboom.

Setelah puas melihat tingkah polah bocah-bocah tadi, kami memutuskan untuk menyeberangi sungai ini. Dengan hati-hati dan melipat celana panjang, kami melompati bebatuan secara bergantian. Naas salah satu dari kami tercebur ke dalam air, walhasil celana basah hingga bagian paha. Dari kejauhan sudah nampak aliran deras air dari atas bukit yang jatuh berpuluh-puluh meter ke bawah. Kawasan hutan bambu menyambut kami di sepanjang jalanan sempit licin dan menanjak. Kami lebih menyebutnya bukan jalan tetapi semacam menaiki tebing dari tanah cadas.

Sandal dan kaki yang sudah licin penuh lumpur membuat langkah saya terseok-seok. Sesekali kami harus berhenti sejenak untuk mengendorkan jari-jemari kaki yang mengapit japit sandal. Nafas ngos-ngosan, dada sesak. Kami memang anak desa, tapi jarang sekali melintasi hutan desa seperti ini. Kami sudah lupa rasanya menjelajah hutan dan kebun, tidak seperti waktu jaman kecil dulu yang sudah terbiasa mencari rumput hingga naik turun bukit. Tak ada rasa lelah yang tergambar, yang ada rasa senang menghabiskan waktu seharian selepas pulang sekolah. Namun jaman sudah berubah, usia pun makin bertambah dan jadi mudah lelah.

Di samping kanan kami terlihat segerombolan lelaki tua-muda yang sedang menebang rimbunan bilah-bilah tanaman bambu. Terlihat juga bapak-bapak yang sedang memanen tanaman kapulaga di antara semak-semak dedaunannya yang rapat. Memang tempat ini begitu alami, jarang kami melihat sampah selain dedaunan kering dan ranting pohon yang sudah berjatuhan. Semak-semak liar di pinggiran tebing juga sudah rapi. Sepertinya warga sekitar berinisiatif sedikit memudahkan akses bagi pengunjung untuk menaiki tebing ini menuju titik tetesan air berada.

Tampak aliran Curug Pletuk yang bertingkat-tingkat dan begitu tinggi
Tampak aliran Curug Pletuk yang bertingkat-tingkat dan begitu tinggi

 

Rimbunan tanaman bambu ini persis di bawah curug, akan tetapi lintasan air seperti berbelok di pinggir tanaman bambu. Jika dilihat dari bawah, curug ini bertingkat tiga dengan akses yang sulit menuju atas sana. Tingkat terbawah aliran sungai melebar-mengalir lembut diatas bebatuan lebar. Riakan airnya begitu halus dan rapi bak curug buatan yang berada di taman-taman.  Sementara itu di tingkat atasnya lagi berupa bebatuan besar yang teronggok selang-seling. Di sela-sela bebatuan mengalir deras aliran air dari curug diatasnya.

Terlihat dua orang bocah yang tengah asik berjemur menikmati pancaran sinar matahari. Makin mendekat, embun dari tetesan air yang terbawa ingin membuat hawa dingin serta membuat tempat di sekitarnya basah. Dengan susah payah menaiki tebing, pijakan berupa bebatuan licin serta berpegangan pada semak-semak yang tumbuh liar, akhirnya kami sampai persis di bawah curug ini.

Dingin..dingin..dingin dan basah menyambut kami saat itu. Kami makin naik ke atas sana. Saat ini kami persis di bawah curug ini. Hanya kuat sebentar berdiri di sini. Kami memutuskan berpindah menaiki tebing di sisi kanan curug ini. Pada bagian tebing kanan curug ini terdapat bidang  tanah yang rata dan bisa dijadikan tempat untuk menyaksikan dari dekat curug ini tanpa harus basah kuyup. Terlihat sisa-sisa arang dan kayu kering. Sepertinya beberapa orang sebelum kami sehabis membuat api unggun kecil di sini. Di sebelahnya terdapat dua buah batu yang bisa dijadikan tempat duduk untuk memandangi keindahan ciptaan Tuhan ini.

Kami meletakan tas ransel dan melepaskan celana panjang kami yang basah, kemudian menjemurnya. Sebenarnya celana yang basah adalah milik teman menjelajah saya, Wedwi namanya. Dia yang tadi tercebur saat melintasi sungai yang berisi bocah-bocah sedang bermain air.

Saya duduk sambil menghangatkan tubuh di bawah sinar matahari. Sementara itu Wedwi tengah asik memotret curug dan pemandangan di sekitarnya. Perut keroncongan, di dalam ransel hanya terdapat dua botol air minum. Saya lupa tidak membawa makanan atau pun cemilan saat berangkat tadi. Walhasil saya harus menahan perut menunggu warung terdekat nanti.

Curug Pletuk ini begitu tinggi dengan tebing yang nyaris tegak. Aliran air begitu deras dari atas sana. Kolam di bawahnya tidak begitu luas dan orang tidak bisa bermain air di bawahnya. Bahaya dan penuh resiko jika nekat melakukan itu, ditambah lagi derasnya aliran air dari atas sana.  Nun jauh di depan sana terdapat hamparan perbukitan hijau yang ditanami mayoritas pohon albasia dan juga pinus, pohon yang penuh nilai ekonomis tinggi.

Sangat susah sekali sekedar mengabadikan kecantikan curug Pletuk ini. Bak perawan yang bersolek ayu, tidak mudah menyapa si cantik Pletuk ini. Pelangi melengkung indah di depan sana. Terpaan guyuran air yang berjatuhan ditambah sinar matahari terik menghasilkan karya indah ciptaan Tuhan, pelangi.

Bocah-bocah terlihat makin mendekati curug ini. Dengan hanya bertelanjang dada, mereka asik bermain air-menahan kuat dinginnya air pegunungan. Kami rasa sudah cukup menikmati karya Tuhan ini. Dingin dan basah kuyup seakan semakin mencengkeram erat tubuh ini. Dengan hati-hati kami menuruni tebing licin, berhati-hati agar tidak lengah dan kemungkinan terburuk adalah jatuh menghantam bebatuan keras. Saat turun pun sama susahnya saat naik tadi, sandal licin dan kaki yang belepotan karena lumpur seakan menjadi bumbu dalam penjelajahan kali ini.

***

Sungai yang kami lintasi saat berangkat tadi sudah sepi. Hanya bebatuan dan suara gemericik air saja yang masih ada. Kesempatan buat kami membersihkan kaki ini yang penuh lumpur. 

Saat melewati jembatan kayu yang kokoh, mata ini seakan terfokus pada gundukan bebatuan yang tertata rapi-berundak-undak. Di pinggirnya di batasi oleh rerumputan dan anyaman pagar yang terbuat dari bambu. Masih terlihat jelas sisa pembakaran kemenyan di salah satu batu-batu ini. Tidak hanya ada satu undakan bebatuan ini. Melangkah beberapa meter di samping kanan jalan terlihat juga batu berundak. Bentuknya pun hampir mirip dengan yang tadi.

Tumpukan batu-batu yang diberi pagar bambu
Tumpukan batu-batu yang diberi pagar bambu

Itu baru sedikit potensi curug yang baru dijelajahi dan mayoritas masih belum terlalu dikenal. Begitu banyak potensi wisata curug yang jika dikelola dengan baik tentu akan bermanfaat bagi penduduk sekitar dan juga membuat kabupaten Banjarnegara dikenal bukan karena berita negatifnya, melainkan karena kabar baiknya.

Banjarnegaraku memang masih jauh dari kata sempurna namun saya sebagai penghuninya sangatlah mencintainya dengan segala kurang dan lebihnya. Banjarnegara, tempat lahir, hidup dan menghabiskan masa tua akan selau dicinta dan sudah sepatutnya, saya sebagai penghuninya akan selalu menulis kabar baik tentangnya.



Sumber : Tulisan Pribadi
Sumber Gambar Sampul : Koleksi Pribadi

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG HENDI SETIYANTO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata