Lupa Sandi?

Perjalanan Suci Darmawangsa bersama anjing (ASU) hitamnya

Ketut Adnyana
Ketut Adnyana
0 Komentar
Perjalanan Suci Darmawangsa bersama anjing (ASU) hitamnya

Bagi sebagian besar pembaca yang pernah ke pulau bali dan khususnya ke Bali timur, dan lebih tepatnya melewati kabupaten Klungkung, kedaerah kampung halaman saya, persisnya melewati sekolah SMA 1 Klungkung dimana saya bersekolah dari tahun 1988 hingga 1991. Didepan sekolah SMA tersebut akan di jumpai patung Dharmawangsa bersama anjing (ASU) hitamnya.

Bagi yang gemar membaca epos Mahabrata serta Bratayuda, cerita tentang Pandu serta Panca Pandawa mungkin sudah tidak asing lagi. Dimana Pandu adalah ayah dari lima bersaudara Panca Pandawa yang terdiri dari:

  • Dharmawangsa (Yudistira)
  • Bima
  • Arjuna
  • Nakula
  • Sahadewa

Dari cerita mahabrata itu tentu ada banyak hal yang bisa diceritakan dan di hubung hubungkan dengan cerita kehidupan kita di masa kini. Apalagi kalau di sinetronkan akan ada banyak episode yang bisa di siarkan oleh stasiun televisi, yang setiap episodenya tentulah sangat menarik untuk di ambil hikmahnya. Namun di artikel ini secara singkat saya hanya ingin mengupas mengenai makna yang tersirat dari cerita Dharmawangsa menuju Swargaloka yang ditampilkan dengan Patung Darmawangsa bersama anjing (ASU) hitamnya.

Bila di hubungkan dengan konteks kehidupan manusia, Panca Pendawa, Dewi Drupadi dan ASU yang mengirinya tersebut hanya merupakan simbolisasi dan pesan dari nilai-nilai agama Hindu didalamnya.

Baca Juga

Diceritakan bahwa diawali oleh meninggalnya Dewi Drupadi, kemudian meninggalnya dua saudara kembar  Nakula, Sahadewa, di ikuti dengan meninggalnya Arjuna, meninggalnya Bima dan akhirnya hanya tertinggal Yudistira dan ASUnya sampai ke puncak gunung Mahameru dan selanjutnya dijemput oleh oleh para dewa.

Bila di hubungkan dengan konteks kehidupan manusia dan bila kita amati secara seksama proses meninggalnya manusia, Sebelum manusia mati (dibaca: mati normal karena usia tua), sebelum nyawa keluar dari badan jasmani, sebenarnya badan manusia telah lebih dahulu ditinggalkan oleh Dewi “Drupadi” yang disimbulkan dengan hasrat manusia untuk berdandan dan bersolek karena manusia yang sudah usia tua bisanya meninggalkan kebiasaan ini.

Manusia selanjutnya ditinggalkan oleh “Nakula dan Sahadewa” yang mensimbolkan ketajaman pikiran dan ingatan.

Manusia akan ditinggalkan oleh “Arjuna” yang mensimbolkan ketampanan dan kecantikan jasmani.

Dan yang terakhir manusia akan ditinggalkan oleh “Bima” yang mensimbulkan kekuatan.

Sebagaimana sering ditampilkan oleh lakon wayang kulit, peristiwa meninggalnya Bima, digambarkan paling dramatis karena di diskirpsikan dengan adanya teriakan kesakitan dan hembusan nafas yang berat sampai akhirnya nafas itu hilang…begitu pula halnya ketika manusia menjelang ajalnya.

Dan yang terakhir, Yudistira (Dharmawangsa) melambangkan nyawa manusia yang abadi danASU itu melambangkan karma perbuatan manusia Suba Karma dan Asuba Karma (hasil perbuatan baik dan hasil perbuatan buruk).

Refleksi

Perjalanan suci Panca Pendawa, Dewi Drupadi dan seekor anjing hitam ini apabila dikaitkan dengan Lima Tujuan Hidup (Panca Srada) dapat dikatagorikan sebagai Wanaprasta (melepaskan semua keduniawiaan untuk penyerahan diri kepada NYA). Panca Pendawa dan Dewi Drupadi telah melaksanakan ajaran Weda dengan melakukan perjalanan suci dan melepaskan semua kemewahan, kekuasaan dan sebagainya menuju Sang Pencipta ( Swargaloka atau Sorga)

Bila di telusuri lebih jauh, Cerita Dharmawangsa beserta ASU nya yang di ambil dari Epos Mahabrta, terdapat banyak sekali nilai-nilai agama, norma, etika dan filsafat yang terkandung didalamnya untuk dijadikan acuan dalam kehidupan saat ini.

Bila pertanyaannya, apa maksud dan hubungan keberadaan patung Dharmawangsan ini bersama ASUnya di bangun persis didepan sekolah SMA 1 Klungkung ?

Saya meyakininya setiap kegiatan ataupun pelaksanaan pembangunan proyek di daerah tentulah sudah dikonsultasikan diantara para pengambil keputusan saat itu. Brain Storming pencarian idea yang memiliki korelasi yang paling mendekati dengan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan, adalah idea penanaman budi pekertilah yang terpenting yang perlu ditanamkan kepada generasi muda klungkung sebelum mereka meninggalkan kabupaten klungkung untuk kemudian menempuh pendidikan lanjutan di Universitas, dimana analogi dalam perjalanan menuju kehidupan berikutnya seperti kebiasaan untuk berdandan, ketajaman pikiran dan ingatan, ketampanan dan kecantikan jasmani, serta kekuatan phisik, tidaklah kita bawa serta. Hanya tabungan perbuatan baik dan buruklah yang akan kita bawa serta dikehidupan berikutnya. Oleh karena itu diharapkan siswa lulusan sekolah SMA 1 tidak hanya menjadi orang yang menguasai ilmu pengetahuan saja tapi juga memiliki kepribadian dan budi pekerti yang baik.

Bagi masyarakat Klungkung ataupun siswa SMA 1 Klungkung, nama serta makna patung ini mungkin memang sudah tidak asing lagi yang selalu dijadikannya sebagai pengingat dalam berperilaku dikehidupan sehari hari. Namun bagi wisatawan yang kebetulan melewati kabupaten klungkung akan menjumpainya sebagai sebuah patung obyek wisata yang menarik untuk di foto. Kami yakin pemandu wisata yang menemaninya pastilah bisa menjelaskan makna dari keberadaan patung Darmawangsa itu, yang didirikan bukan tanpa makna. 




Sumber :
Sumber Gambar Sampul : Widnyana Sudibiya

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG KETUT ADNYANA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata