Pagi yang cerah di Hari Jumat terakhir sebelum bulan Puasa datang, bulan suci bagi umat Islam. Namun, penanggalan mereka berdasarkan penanggalan Jawa versi Aboge, bukan versi Pemerintah. Ribuan pengikut Bono Keling, keturunan Bono Keling dan Penganut Kepercayaan Bono Keling berkumpul untuk tradisi yang selama ini mereka jaga sebagai warisan leluhur mereka. Tradisi Unggahan Bono Keling, tradisi nyadran atau berdoa di makam leluhur mereka, seperti menengok makam leluhur membersihkan makam leluhur dan mendoakan para leluhur mereka.

Desa Pakuncen Jatilawang Banyumas Jawa Tengah merupakan Lokasi Makam Leluhur Bono Keling, Desa Adat yang masih bernuansa jawa kuno, dengan kearifan lokal yang masih lestari terasing dari gempuran kehidupan modern selama ini. Memasuki kawasan Desa Pakuncen tak jauh berbeda dengan desa desa pada umumnya, tetapi tradisi dan kehidupan mereka masih menjujung tinggi nilai nilai ajaran yang di tinggalkan leluhur mereka yaitu Kyai Bono Keling, hal ini terjaga hingga 30-an generasi yang masih menjaga dan mendiami wilayah ini. Seperti kaum wanita hanya memakai kemben dan jarit sementara kaum lelaki memaki sarung dan ikat kepala, dalam menjalankan semua aktifitasnya apalagi untuk acara ritual dan tradisi pakaian ini wajib di gunakan. 

Ciri Khas Anak Puthu Bono Keling
Ciri Khas Anak Puthu Bono Keling

Kyai Bono Keling adalah tokoh penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan pada sekitar abad ke-12 M. Namun, sebelum tugasnya bersyiar agama di wilayah Banyumas selesai  Kyai Bono Keling meninggal dan dimakamkan di wilayah Jatilawang tepatnya di Desa Pakuncen yang mana lokasi ini sekarang menjadi desa adat Bono Keling dan menjadi situs cagar budaya yang telah di lindungi oleh undang undang Republik Indonesia.

Keturunan Kyai Bono Keling bahkan di percaya sebagai tokoh tokoh yang bayak bersyiar agama Islam di wilayah Jawa Timur, yaitu Pacitan dan Madiun seperti yang di gambarkan dalam Babat Pacitan, tetapi sangat sulit untuk mengetahui pasti siapa Tokoh Sesungguhnya Kyai Bono Keling karena sampai saat ini belum ada penelitian akan hal itu. Bahkan para Anak Puthu Bono Keling, yaitu sebutan Para Pengikut Bono Keling merahasiakan siapa sebenarnya Kyai Bono Keling.

Kisah Bonokeling yang ada saat ini hanya setitik rahasia yang bocor ke masyarakat, sedangkan sebagian besar atau bahkan nyaris seluruhnya masih aman terjaga selama ratusan tahun, para tetua adat masyarakat Bonokeling masih bisa menjaga rahasia tentang Bonokeling bahkan bagi penerus Tetua mereka akan tetap menjaga informasi ini sampai mereka menceritakan hanya kepada generasi penerus tetua adat berikutnya.

Membawa  Hasil Bumi untuk Persiapan Tradisi Unggahan
Membawa Hasil Bumi untuk Persiapan Tradisi Unggahan

Hal unik dalam tradisi Bonokeling, mereka hanya mengucapkan syahadat, puasa, dan zakat. mereka tidak mempertentangkan tata cara Islam pada umumnya. Mereka memandang, ibadah bukan terletak pada cara menjalankannya, melainkan tujuannya beragama. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengharamkan mo limo, yaitu madat, maling, madon,  mabuk, dan main . Mereka  senantiasa menggali pengetahuan untuk hidup yang abadi  di akhirat, berlandaskan pepatah Jawa “urip kui mung mampir ngombe" yang mengandung makna bahwa hidup itu hanya sesaat, yang abadi adalah hidup akhirat.

Untuk menjadi pengikut Bono Keling ada semacam tes yang harus dilakukan. Seseorang harus melewati banyak  ujian hingga harus  mematuhi beberapa syarat utama untuk menjadi Anak Puthu Bono Keling hal tersebut di lakukan minimal selama tiga tahun digembleng dengan mengikuti kebiasaan adat Bonokeling. Bahkan ada tradisi ngelaku, yaitu tradisi yang dilakukan untuk mendalami nilai-nilai Bonokeling hingga ke sumsum tulang para Anak Puthu Bono Keling, jika tidak bisa mengikuti syarat ini maka di pastikan tidak akan di terima sebagai Anak Puthu Bono Keling.

Sebelum tradisi unggahan Bono Keling di laksanakan ribuan Anak Puthu Bono Keling yang tersebar dari berbagai wilayah di Cilacap dan beberapa wilayah lain akan berjalan kaki sejauh 30 sapai 40 kilometer jaunhya tanpa alas kaki sambil membawa hasil bumi dan hasil ternak mereka  untuk dimakan bersama esok harinya dalam acara puncak tradisi unggahan. Jalan kaki yang di maknai sebagai Laku Lampah  (Berjalan Prihatin) sebelum mereka memanjatkan doa esok hari di Makam Kyai Bono Keling dan Makam para Leluhur mereka. Hasil bumi yang dibawa sebagai lambang bakti kepada leluhur.

Sebelum bulan puasa, semestinya mohon restu orangtua untuk menjalani bulan yang suci ini. Itulah yang dilakukan dengan mengunjungi  sesepuh dan leluhur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal pada malam harinya di rumah adat di Desa Pekuncen yang berdinding anyaman bambu dan beralas tanah, mereka menggelar kegiatan muji (semacam zikir). Dengan menembangkan lagu-lagu berbahasa Jawa kuno untuk  permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum ungahan pada pagi harinya.

Bergantian Mengunjungi Membersihkan dan Berdoa di makam Leluhur
Bergantian Mengunjungi Membersihkan dan Berdoa di makam Leluhur

Pagi harinya para Pengikut Bono Keling lelaki bertugas untuk memasak semua bahan makan yang sebelumnya sudah di kumpulkan, baik berupa  nasi, sayur mayur, dan lauk dari ternak para pengikut Bono Keling, memasak hanya di lakukan oleh kaum laki-laki di sekitar area makam, tugas kaum wanita nantinya hanya menata makanan dan mempersiapkan makanan yang sudah masak untuk di santap bersama setelah Pisowanan atau berdoa di makam Leluhur mereka. Secara Bergiliran mereka akan masuk ke Komplek Makam Kyai Bono Keling dan Makam Leluhur mereka untuk menengok membersihkan dan berdoa, setelah itu mereka akan menemui Juru Kunci Makam dan akan menyantap makan yang sudah di sediakan di dalam area makam secara bersama sama sebagai nilai nilai kebersamaan mereka.  

Kaum Lelaki Memasak untuk Persiapan Unggahan
Kaum Lelaki Memasak untuk Persiapan Unggahan

Tradisi Bono Keling selalu terjaga karena prinsip kuat mereka yang selalu mewariskan tradisi dan nilai nilai kearifan budya mereka ke anak cucu mereka dengan tegas dan disiplin, bahkan jika para pemuda dan anak anak mereka ada kesibukan bekerja dan bersekolah mereka harus rela untu meninggalkan aktifitas mereka sementara demi tradisi nenek moyang Bono Keling. Tradisi Bonokeling merupakan kekayaan budaya Jawa kuno yang sangat langka dan bersahaja, nilai  akulturasi budaya lokal dan Islam yang terjadi melahirkan kearifan lokal yang unik. Kekerabatan yang begitu kuat bagi Anak Puthu Bonokeling.  (fadkus)


Sumber : fadkus
Sumber Gambar Sampul : fadkus

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu