Aku tinggal di Indonesia. Negeri yang katanya kaya akan sumber daya alam dan juga kebudayaan. Negeri maritim, mereka bilang. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang digaungkan di seantero bangsa. Negeri dengan beragam suku bangsa, agama, dan dialek. Negeri yang tak bisa diacuhkan pesonanya.

Aku tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran Kota Bandung. Sebut saja Kota Cimahi. Kota yang baru berdiri selama 15 tahun, tidak lebih tua usianya dibanding usiaku. Aku yakin, tak semua orang familiar dengan nama kota ini. Bagaimana tidak? Ada lebih dari 20 kota yang tersebar dan menyusun Indonesia. Dari ibukota hingga kota-kota kecil, semuanya lengkap terpatri rapih menjadi kesatuan Republik Indonesia. 

Kota Cimahi merupakan sebuah kota mandiri di Jawa Barat yang lahir pada tahun 2001. Awalnya, Cimahi memang menjadi bagian dari Kabupaten Bandung. Setelah itu, Cimahi diangkat menjadi kota otonom dan resmi berpisah dengan Kota Bandung. Kota Cimahi pun memiliki julukan sebagai “Kota Tentara” atau “Kota Hijau”. Seperti dilansir dari Wikipedia, hal ini disebabkan karena banyak sekali pusat pendidikan untuk tentara di Cimahi. Bahkan, 60% dari wilayah Cimahi digunakan untuk para tentara.

Layaknya kota lain di Jawa Barat pada umumnya, Cimahi kental dengan adat dan budaya sunda. Walaupun begitu, masyarakatnya sangat majemuk. Maskot dari Kota Cimahi adalah boneka “Cima”, yaitu boneka dengan bentuk robot kucing berwarna abu. Sedangkan ikon dari Kota Cimahi yang sangat terkenal adalah bambu. Tak heran jika batik bercorak bambu menjadi ciri khas Kota Cimahi.  Motif lain dari batik Cimahi adalah daun singkong, singkong, dan kujang. Bahkan, sempat diadakan Cimahi Lautan Awi – acara dengan pengisi dari mancanegara yang merupakan rangkaian acara dari Bamboo Fiesta 2016 pada 30 April 2016 di Stadion Sangkuriang, Cimahi.

Dibalik semua itu, Cimahi menyimpan satu budaya erat yang masih melekat hingga saat ini. Kampung Adat Cireundeu, merupakan kampung adat yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, masih gagah bertahta dengan segala nilai yang dijunjung dan juda adat istiadatnya. Kampung adat ini bak magnet yang menyedot perhatian nasional dan menjadikannya salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi.

Kabarnya, kampung ini dinamakan Cireundeu karena banyaknya pohon “Reundeu” yang digunakan sebagai tanaman herbal. Layaknya Kampung Naga yang ada di Tasikmalaya, kampung ini masih sangat tradisional dan menjaga adat istiadatnya. Mereka memiliki prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” yang berarti masyarakat Kampung Cireundeu sangat memegang keyakinan masing-masing dengan teguh tetapi tidak menutup diri pada teknologi dan perkembangan zaman.

Sesungguhnya, kampung ini sudah berdiri sejak lama. Hanya saja keberadaannya baru diresmikan sebagai sebuah kampung adat pada tahun 2009. Dahulu, kawasan ini terkenal dengan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan keberadaan sampahnya yang menggunung. Setelah terjadi musibah longsor yang menewaskan hampir seratus warga, akhirnya TPA dipindahkan ke TPA Sarimukti di Bandung dan lahirlah Kampung Adat Cireundeu. Hingga kini, setiap tanggal 26 Februari, masyarakat setempat masih memperingati peristiwa longsor tersebut dengan acara kesenian seperti permainan angklung, karinding, wayang, dan lain-lain.

Selain mengenai sejarahnya, hal yang menarik dari masyarakatnya adalah mereka mengonsumsi beras singkong untuk memenuhi gizi sehari-hari. Menurut Seksi Pariwisata dan Budaya (2010), masyarakat adat Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut yaitu: “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat” yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Hal ini menyiratkan bahwa masyarakat kampung Cireundeu tidak hanya berpangku tangan pada nasi sebagai bahan makanan pokok. Dengan alternatif singkong, mereka dapat bertahan hidup bahkan saat harga bahan pokok melambung tinggi.

Kebiasaan dalam mengonsumsi singkong ini sudah dilakukan turun temurun sejak tahun 1924. Walaupun begitu, sebenarnya tak ada kewajiban untuk mengonsumsi singkong. Hanya saja, beras singkong yang disebut rasi ini mereka konsumsi karena dirasa lebih mengenyangkan daripada nasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia dapat mencapai ketahanan pangan nasional dengan alternatif singkong.

Begitulah salah satu cerita yang saya punya. Cerita yang tak hanya semata digunakan sebagai media penghibur, tetapi juga sebagai sebuah pandangan baru akan uniknya Indonesia Raya. Inilah ceritaku, bagaimana dengan ceritamu?

Referensi:

1. https://kampungadatcireundeu.wordpress.com/

2. http://infocmh.blogspot.co.id/2013/12/yuk-mengenal-kampung-adat-cireundeu-di.html

Sumber foto: http://bkpd.jabarprov.go.id/wp-content/uploads/2015/08/1356268789725141810.jpg

Kampung Adat Cireundeu, sebuah gambaran nyata dari upaya dalam mencapai ketahanan pangan nasional.
Kampung Adat Cireundeu, merupakan kampung yang masih memegang teguh adat istiadat dengan tak melupakan perkembangan zaman. Kampung ini pula disebut sebagai sebuah gambaran nyata dari upaya dalam mencapai ketahanan pangan nasional.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu